UN stress syndrome

pagi ini saya benar-benar lesu. tugas-tugas sekolah yang menumpuk. bayang-bayang ulangan semester. catatan yang nggak lengkap. lemes. maunya main komputer terus. mati. mati.

benar-benar berat. benar-benar berat rasanya bila harus mengurangi kegiatan di depan komputer. kalo ada yang nanya, siapa kekasihmu? komputer saya pasti jingkrak-jingkrak angkat tangan. tapi saya harus berbenah karena hasil Ujian Nasional menyangkut masa depan. sudahlah. komputer saya seperti permen saja, maunya diemut-emut terus. mau dikata kerjain tugas pake komputer, eh, malah buka yang lain-lain. susah benar. mau dibuang tu komput, nggak tegaan. mau dititip ke org lain, ntar kangenan.

bahkan hidup saya seperti komputer. kalo ada barang ilang, yang saya cari bukan barangnya tapi tombol F3. search result… not found… ah. kalo menyesal melakukan sesuatu. undo…undo…undo…redo…hmm. kalo saya demam, saya sibuk buka-buka flashdisk, mengingat-ingat dimana saya simpan tu ansav, smadav, pcmav, dll. juga buka-buka registry.

kalo kata UN tertangkap oleh telinga saya, badan ini serasa hang. lemes. lemes. mati. saya mang lagi butuh dorongan semangat supaya bisa belajar terus. saya pingin bisa belajar tanpa ninggalin komputer saya. oahmm…..

Komunikasi antar User dengan GNU/Linux

note : Mungkin ada beberapa perintah yang tidak dikenal sistem anda, tergantung distronya. Di tutorial ini digunakan damnsmalllinux, freeBSD, dan Knoppix 3.6.

Sorry buat yang udah expert kalau tulisan ini sudah basi. Ditujukan untuk newbie yang punya ketertarikan pada linux seperti snivelus.

Tidak seperti windows yang ditelurkan om bilgate dari redmon, sistem operasi linux selalu hadir dengan kelengkapan, bahkan saat linux masih dalam mode text/prompt, di dalamnya sudah ada program-program hebat yang tidak pernah terpikirkan oleh microsoft. Apa hebatnya DOS? DOS hampir tidak terlalu berguna bila belum ditambahkan program. Hal ini masih diikuti sang adik, serial windows, yang hadir hampir telanjang (maksudnya tidak ada program-program sering kita butuhkan). Program Officer seperti Ms. Office dijual terpisah, jadiah microsoft terkesan pelit. Beda dengan linux yang terbagi-bagi dalam banyak distro. Dalam satu distro, kamu bisa dapatkan banyak program luar biasa yang dikembangkan komunitas.

Baca entri selengkapnya »

Membuat pesan ala Blue Fantasy-Erikimo

Ini sebenarnya sudah lama sekali saya tahu tapi baru sekarang diposting. Ketika komputer saya tercinta diserang virus bluefantasy, saya geram sekali. Saya obok-obok registry tuk hilangin tu virus. Saya pake PCMAV, Ansav, dan SmadAV sekaligus untuk memberantasnya. Alhasil, semua kembali seperti semula kecuali satu hal. Pesan bluefantasy yang disampaikan sebelum login masih tidak mau hengkang dari sana. Meski tidak berdampak serius terhadap sistem saya, tapi saya jengkel sekali karena harus menekan enter atau mengklik button ok di pesan itu setiap masuk sistem. Baca entri selengkapnya »

Menulis = Makan

Menulis itu seperti makan? Mungkin saja. Sayangnya, dalam analoginya kita selalu kenyang, jadi sepertinya menulis itu sulit dilakukan. Terserahlah, ada yang bilang sulit ada yang bilang mudah. Saya bilang menulis itu sulit kalau lagi kenyang, atau dengan kata lain nggak ada mood. Kalau kalau ada mood, mengalirlah dengan tergesa-gesa kata-kata amburadul di atas keyboard. Masalahnya adalah, bagaimana caranya agar kita selalu lapar atau selalu ada mood untuk menulis? Masalah kedua adalah pencarian ide. Saya sendiri merasakan sulitnya mencari ide yang menarik untuk saya tulis, konflik yang menarik atau alur cerita yang keren. Bahkan orang berbakat sebagai penulis pun adakalanya ia kesulitan dalam hal ini. Bagaimana caranya? Saya punya tip dan ini sudah berhasil untuk saya. Baca entri selengkapnya »

Cerpen : Aku Ingin Masuk ke Surga-Mu

Tiba-tiba aku terbangun oleh suara yang melengking tinggi. Suara itu menggema dan sangat panjang, seperti tiupan terompet super jumbo. Saking kerasnya, suara itu seperti mengoyak lubang telingaku dengan kasar dan membuat kulit muka dan dadaku bergetar serta mati rasa. Meski kututup telingaku serapat mungkin, suara itu tetap menembus dan memasuki relung-relung jiwaku yang paling dalam. Seolah semua anggota badanku menjadi telinga. Merasa kaki dan tanganku mendengar langsung.

Dan jantungku serasa hampir lepas ketika suara itu berhenti. Semuanya menjadi sangat sunyi dan sesuatu seperti berdengung di telingaku. Jika saja suara itu berbunyi agak lama lagi, aku berani bertaruh aku pasti sudah kehilangan indera pendengaran. Sungguh suara yang dahsyat.

Serta merta aku bangkit dan menyaksikan hamparan padang putih yang sangat luas dan bahkan tak berujung. Padang itu dipenuhi banyak manusia dari semua ras. Mereka tak berbusana begitu juga aku. Dan tiba-tiba hawa udara yang sangat panas menyergap dan aku melihat matahari begitu dekat dengan kepalaku. Tengkukku hampir meleleh. Lalu kulihat segerombolan manusia yang melayang-layang oleh kepakan sayap mereka. Malaikatkah itu? Aku menatap sekelilingku dengan takjub, seperti seorang anak kecil yang melihat seperangkat mainan yang mahal.

Tempat apa ini?

Dimana?

Semua orang di situ juga sama bingung seperti aku. Tetapi seorang laki-laki yang berdiri disampingku berkata.

“Inilah padang Mahsyar pada hari penantian sebagaimana yang dijanjikan Tuhan,” katanya.

Padang Mahsyar? Mengapa cepat sekali? Aku masih belum percaya. Rasanya aku belum mati. Aku belum pernah sakit keras atau sekarat. Aku merasa belum dishalati dan ditimbun dengan tanah. Aku belum meninggalkan dunia fana. Aku belum menyaksikan kedahsyatan kiamat.

Aku belum mati.

Tanpa dikomando, semua orang—termasuk aku—digiring menuju ke arah yang aku tak tahu apakah itu barat, timur, selatan, atau utara. Kami berjalan perlahan menuju tempat yang lebih terang dan lebih panas. Terdengar suara menggema yang bersahut-sahutan. Rupanya itu panggilan satu-persatu nama-nama manusia. Aku menunggu dengan tak sabar dan menatap ke ujung sana, di suatu tempat seperti jurang. Tempat itu lebih bercahaya karena ada kobaran api yang ganas di balik jurang itu.

“Itulah neraka yang panas, dibawah sana,” kata lelaki tadi.

Neraka? Tiba-tiba keringatku bercucuran, membentuk bulir-bulir air di seluruh wajahku. Jika benar ini hari di mana perbuatan manusia dipertanggungjawabkan, berarti kiamat memang sudah lewat. Aku jadi takut. Aku tak tahu apakah aku akan masuk surga atau neraka. Pikiranku kembali ke dunia fana. Susah mengingat-ingat kala dalam keadaan tegang seperti ini. Oh ya, aku ingat. Aku adalah seorang aktivis dakwah. Setiap hari sibuk dengan urusan agama. Ceramah di sana-sini. Berinfaq sekian banyak. Aku tidak pernah meninggalkan shalat dan puasa wajib. Yang sunnah pun aku tekuni. Aku sering jadi imam di masjid-masjid besar. Aku dihormati umat. Tentu saja aku termasuk golongan orang-orang yang beriman. Ya, aku yakin aku akan masuk surga.

‘Ya Allah Yang Maha Pemurah, masukkanlah aku ke dalam surga-Mu bersama hamba-hambamu yang beriman,’ batinku penuh harap.

Aku semakin yakin bahwa aku akan masuk surga ketika kulihat gerombolan manusia yang kepalanya menyerupai hewan. Mereka yang berkepala hewan pastinya akan dijilati api neraka jahanam, sedangkan wajahku masih mulus berbentuk wajah manusia. Kukira aku akan masuk surga. Surga. Surga, dimanakah dia? Kulihat sebuah pintu yang sangat besar dan bercahaya. Pintu itu terletak di seberang jurang dan dijaga banyak malaikat bersayap.

Kukira itulah pintu surga.

“Lihat, itulah Surga yang dijanjikan Allah untuk hamba-hamba-Nya yang saleh. Harumnya bisa kucium, samar-samar. Bisakah kau?” ujar si lelaki seolah mengiyakan isi pikiranku.

Aku mengangguk antusias.

Ya, itulah pintu surga. Harumnya surga bisa kucium di tengah busuknya neraka yang menghalangi. Aku akan menuju ke sana. Tapi ternyata tak ada jembatan di atas jurang yang panas itu dan aku dilarang lewat oleh seorang malaikat bersayap banyak. Yang menyatukan kedua sisi jurang itu hanyalah untaian sesuatu yang lebih tipis dari pada sehelai rambut, hampir luput dari mataku. Ya, Shiratal Mustaqim. Tetapi bagaimana mungkin aku akan berjalan di atasnya? Tiba-tiba kulihat seorang pria berjubah berjalan dengan tenang dan anggun. Para malaikat melayang di kedua sisinya. Mungkinkah itu Rasulullah?

“Ya, Rasulullah yang Mulia, shalawat dan salam atasnya. Beliaulah yang pertama memasuki surga.” jelas lelaki tadi.

Aku terkesiap. Seumur hidup aku mengimpikan untuk bisa bertemu dengan Rasulullah. ‘Ya Rasul Allah, menolehlah’ batinku. Ingin sekali aku melihat wajah Rasulullah meski hanya sebentar. Namun Beliau tak menoleh barang sedikitpun, terus berjalan dan memasuki pintu surga yang tinggi. Disusul oleh orang-orang mulia yang telah diceritakan dalam buku-buku sejarah yang membosankan—para nabi, sahabat Rasul, dan para mujahidin. Mereka melewati jembatan rambut—begitu aku menyebut Shiratal Mustaqim—dengan mudahnya. Ada yang berlari bahkan ada yang secepat kilat, seolah-olah jembatan rambut itu adalah sebuah jembatan beraspal yang lebar bagi mereka. Kulihat wajah para syahidin pada perang-perang Badar, Uhud, dan lainnya, memasuki pintu surga sambil tersenyum.

Antrian melewati jembatan rambut itu seperti tidak ada habisnya. Kini keadaannya sudah agak berbeda. Ada yang merangkak, ada yang sepelan kura-kura, bahkan ada yang bergelantungan di untaian yang sehelai itu. Agak menyakitkan ketika melihat orang-orang yang tidak berhasil melewati jembatan itu. Mereka terjatuh ke dalam neraka dan teriakan penyesalan mereka menggema berkali-kali. Membuat bulu kudukku berdiri tegak-tegak.

Lalu kulihat orang-orang yang hidup semasa denganku. Ya, itu si Badrun. Dia jatuh dengan menggenaskan. Ah, memang pantas neraka menjadi tempat untuknya karena sehari-hari hanya berjudi yang dilakoni. Lalu kulihat gerombolan pengamen yang dulu sering menggangguku di perempatan lampu merah. Tetapi anak-anak itu berlari-lari di atas Siratul Muttaqin dan sambil tertawa memasuki surga.

Darahku serasa menguap. Bukankah aku lebih mulia dari pada anak-anak gembel itu? Bukankah aku tak pernah mengeluh selama berdakwah di dunia? Bukankah aku orang yang ’saleh’? Mengapa anak-anak itu lebih dulu masuk surga dari pada aku yang seorang pendakwah dan dihormati umat?

Ada yang salah kukira. Tapi sejurus kemudian kulihat tukang sapu yang selalu membersihkan trotoar di depan rumahku. Juga Pengemis yang saban hari menyambangi rumahku. Pembantu rumah tanggaku yang bebal. Anak-anak pengajian yang kuajari cara mengeja Al Qur’an. Segelintir jamaah masjid yang selalu menjadi makmum di belakangku di masjid kecil dekat rumahku. Ada juga kedua orang tuaku dan adik kandungku. Mereka memasuki surga dengan senang hati.

Aku menjadi lemas seketika. Pastilah banyak dosaku. Betapa sombongnya aku menyangka akan masuk surga. Bagaimana mungkin aku akan masuk surga sementara dengan mata kepalaku sendiri aku melihat orang-orang yang kuanggap hina memasuki surga tanpa halangan?

Karena sangat lama aku jadi kesal menunggu. Tiba-tiba namaku dipanggil tanpa embel-embel gelar yang susah payah kuraih selama hidup di dunia.

“Haekal Jayadi”.

Dan aku disodorkan sebuah buku yang besar. Mungkin inilah yang berisi amalku selama hidup di dunia yang fana dan sementara. Yang membuatku berbesar hati adalah aku menerima buku itu dengan tangan kananku. Kukira ini berarti amalan baikku lebih banyak daripada amal buruk. Amal buruk? Oh, bukankah aku hampir tidak pernah berbuat kesalahan? Tentu saja surga akan ku masuki.

Tetapi ketika membuka buku itu, wajahku pias seketika. Ternyata pahalaku hanya lebih sedikit dengan dosaku. Bagaimana mungkin? Atau ada salah perhitungan? Aku ingin melihat apa saja dosaku hingga sebanyak itu. Kubuka buku itu dengan tergesa.

Yang kudapat hanyalah tulisan riya, riya, riya, dan riya. Apakah aku selalu riya ketika hidup di dunia? Apakah demikian?

Aku malu mengakui. Ya, aku memang riya dalam beribadah.

Aku shalat di masjid hanya untuk mendapat rasa hormat para tetanggaku. Aku berjalan di subuh yang dingin dengan setengah berharap ada tetangga yang menyibakkan gorden jendela mereka dan melihat betapa rajinnya aku ke masjid. Aku bersujud lama-lama, namun yang kupikirkan hanyalah orang-orang yang sedang menatapku dengan kagum. Aku membaca ayat-ayat Al-Quran ketika menjadi imam dengan sangat indah dan panjang-panjang, bukanlah untuk ibadahku kepada Allah, tetapi untuk mengambil hati para makmum bahwa aku memang pantas menjadi imam mereka. Aku bersedekah banyak untuk yatim piatu di panti asuhan di hadapan tamu-tamu terhormat agar aku dikenal dermawan. Namun ketika aku dipinta recehan oleh pengamen di kaca mobilku, aku jadi orang yang pelit sekali, berpaling mengabaikan. Aku bertahan membiasakan diri puasa sunnah sebanyak mungkin. Tidak ada yang kudapatkan selain rasa lapar, dahaga, dan image bahwa aku manusia yang saleh dari orang-orang disekelilingku. Aku berkotbah dengan berapi-api di depan kaca di kamarku, melatih diri agar aku tampil tidak mengecewakan di depan jamaah yang mendengarku nantinya. Aku hanya mencari perhatian bukan mengharap ridha Allah.

Aku jatuh terduduk lemas menyadari bahwa aku manusia yang sangat riya. Kubuka lembaran selanjutnya dan seterusnya, hanya tulisan riya yang tergores. Namun tiba-tiba kata takabur muncul. Kemudian munafik dan kikir.

Apakah aku takabur? Aku tidak akan menyangkal karena semua yang tertulis dalam buku ini adalah benar.

Akulah orang yang sangat sombong dengan kebesaranku sebagai orang saleh. Aku adalah orang saleh di mata tetanggaku tetapi tak ubahnya mahluk yang hina di hadapan Allah yang menguasai segalanya. Aku sangat munafik. Aku berbohong, ingkar, dan berkhianat. Kuceramahi jamaah di masjid sementara apa yang kusampaikan tak pernah kulakukan sendiri. Aku adalah orang yang sok tahu. Kukobarkan permusuhan dengan pemimpin islam lain. Kulemparkan kata-kata bid’ah padahal aku sendiri tidak tahu apakah sesungguhnya yang dianggap bid’ah itu.

Aku juga orang yang sangat kikir. Aku sudah terlalu bosan dengan pengemis kecuali ada kenalan yang kebetulan sedang melihatku, kalau sudah begitu mau tak mau aku harus memberi agar dicap pemurah..

Ternyata jiwaku kotor, berlumuran dosa. Hatiku hitam dan keras bagai batu-batu gunung. Ketaqwaanku rendah, dan aku tak lebih baik dari seorang pengamen gembel. Kupanjatkan doa pengampunan meski aku tahu itu sudah terlambat. Allah takkan mendengarku lagi.

Tiba-tiba namaku sekali lagi disebut dan aku harus melewati jembatan rambut itu.

Jembatan itu terbentang sangat panjang. Ketika aku bersiap melangkah, jembatan rambut itu serasa selebar satu meter padahal mataku melaporkan bahwa jembatan itu hampir tak terlihat karena tipisnya. Aku lega, pastinya tak akan sulit bila lebarnya satu meter. Aku melangkah dengan yakin dan setengah malu atas dosa-dosaku. Angin neraka yang panas dan menyesakkan dada menghembus angkuh, membuatku bergoyang-goyang. Makin lama aku berjalan jembatan itu semakin menyempit dan akhirnya hanya selebar satu jengkal. Aku jadi takut dan tegang. Aku harus berusaha menjaga keseimbangan untuk setiap langkah sementara neraka bergejolak di bawahku. Tiba-tiba aku terpeleset dan terjatuh. Tetapi tanganku berhasil menggenggam jembatan yang semakin tipis itu.

Jadilah aku bergelantungan menyedihkan.

Semakin tipis jembatan itu semakin mengiris tanganku. Aku kesakitan dan berteriak-teriak minta tolong kendati pun aku sadar tidak ada yang bisa menolongku sekarang. Ujung-ujung kakiku sudah hampir melepuh oleh api neraka.

Akhirnya aku melepas peganganku dan aku terjatuh, merasakan betapa panasnya api neraka menjilati tubuhku.

Tiba-tiba aku terbangun dan merasakan wajahku basah dan dingin. Sepasang tangan menjawil hidungku serta menepuk-nepuk pipiku. Ketika aku memicingkan mata, seseorang sedang bersiap-siap mengoleskan balsem di hidungku.

“Istigfar, Jay, istigfar…” katanya.

Ternyata banyak pula yang mengerumuniku. Mereka berbisik-bisik ribut sekali. Aku baru ingat kalau aku sedang diundang ikut pesantren kilat di sebuah sekolah sebagai pemberi materi untuk peserta.

Aku mimpi buruk.

“Mimpi apa kok pake teriak segala? ” tanya Reza, sahabat yang menemani undanganku.

“Habis tidurnya nggak baca doa sih…” yang lain menyahut setengah berbisik.

Mimpi apa? Ya Allah, betapa menyakitkan cara-Mu mengingatkanku akan dosa-dosaku. Dosa-dosaku, ya Allah, dosa-dosa yang sungguh sangat kotor dan mengotori. Ampunilah hamba-Mu ini, yang jiwanya berlumuran dosa-dosa hina yang selama ini terselubung. Aku mengharap ridha-Mu Aku mendambakan surga-Mu, ya Allah.

Aku benar-benar menyesalkan, betapa aku manusia yang hina dibandingkan teman-temanku di sekelilingku ini. Aku tak pantas berada di dekat mereka bahkan memanggil nama mereka pun aku tak pantas. Bisa kurasakan tubuhku gemetar seolah jasadku menolak untuk membungkus jiwaku yang busuk. Air mata mulai meleleh di ujung mataku dan aku menangis sesunggukan menyesali semuanya.

“Kok nangis? Kak Jay… ”

Mataram, 12 September 2008

Sayembara Cerpen Islami HMJKPI IAIN Mataram : I am winner again!

Waktu itu hari senin, hati saya masih mengambang-ambang karena baru pulang dari Bali memenangkan olimpiade teknik 2008 pada mata lomba web design. Pagi itu tidak upacara karena sekolah hanya mengadakan upacara 2 kali sebulan, selang-seling.  Saya berjalan masuk ke kelas, dan teman-teman saya menyambut saya dengan antusias dan merayu saya untuk mentraktir mereka karena mereka tahu saya dapat banyak uang dari kemenangan itu. Piala yang saya bawa—mau disimpan di sekolah—dibawa bergilir di tangan teman-teman saya. Rasanya sulit menjaga agar kepala saya tidak bertambah besar. Baca entri selengkapnya »

Olimpiade Teknik UNUD Bali : I am Winner!

Alhamdulillah, yes…yes…yes… Hanya itu yang saya ucapkan ketika pengumuman lomba Olimpiade Teknik 2008 UNUD Bali dibacakan. Nama saya disebut pada urutan kedua pada mata lomba web desain yang berarti saya meraih juara 2. Si fraxis dapet juara 1 (dia berhak masuk Universitas Udayana tanpa tes). Kami girang sekali. Prediksi fraxis benar, kami akan menang karena script-script kami yang keren. Kami saling bantu. Fraxis memberi saya script-script yang bagus dari javascript collector, sedang saya memberinya sedikit desain yang tidak begitu bagus dan sedikit animasi flash. Tidak sia-sia kami berjuang semalaman sampai jam 12 menghafal script dan latihan menyusun layout web. Baca entri selengkapnya »

Olimpiade Teknik 2008 UNUD Bali : Web Design

pagi tadi benar-benar menegangkan. kondisi : saya diutus sekolah ke bali (mengutuskan diri) sama teman saya (frxs). ada acara olimpiade teknik 2008 yang diadakan universitas Udayana Bali. saya ikut mata lomba web design (sebenarnya nggak tahu apa-apa). alhasil 1 bulan sebelumnya saya tidak pernah belajar (pelajaran sekolah), pulang skol langsung gigit komput ngerjain web (isinya amburadul).
kami (saya dan teman saya serta seorang guru dari sekolah) berangkat ke Bali dari Mataram-NTB, Naik kapal ferry yang lambat. habis tu nungguin rombongan dari selong (lombok timur) yang katanya mau ikut juga. dari teman sya, dy bilang peserta web design ada 18 orang, otomatis saya jadi pesimis. karya saya hanya biasa-biasa saja. saya menaruh harapan pada menu flash drop down yang beda dengan peserta lain juga sedikit css dan javascript. Baca entri selengkapnya »

Cerpen : Ustadz Jamil

Hari ini terasa panjang sekali dan sang surya sepertinya enggan untuk bergerak ke barat lebih cepat. Hawa panas bak udara sahara menyelinap ke setiap tempat bahkan sampai di balik kaos singletku. Membuat tubuh yang tadinya segar karena dibasuh mandi menjadi bau dan sumpek. Pakaianku menjadi lengket dengan kulit. Peluh keringat memenuhi wajahku dan sesekali aku menelan ludah hampir-hampir tak bisa bernafas. Mataku nanar menatap buah mangga matang yang menggantung anggun di tangkai pohon di luar. Benar-benar keadaan yang tepat untuk menyiksa orang yang sedang berpuasa. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Cerpen. Tag: , , , . 2 Komentar »

Cerpen : Bukan Ismail

Gi, pulang. Bapak mau bicara.

Hanya itu isi surat yang kuterima tadi pagi. Aku tak habis pikir mengapa Bapak tidak menelepon saja. Nomor ponsel dan nomor telepon Ibu kost-ku sudah ada di tangan Bapak.

Namun begitulah Bapakku. Ia mengirim surat dengan kertas dan amplop kelas atas serta prangko kilat namun isinya hanya lima kata itu saja. Meski surat itu tanpa tanda tangannya, aku bisa mengenali tulisan Bapak yang khas. Tulisannya miring bersambung dan banyak hiasan di huruf G dan B besar. Benar-benar surat yang simpel namun juga mengusik hatiku. Apa gerangan yang mau dibicarakan? Baca entri selengkapnya »