Cerpen : Jamaludin (bukan) Pemulung Berdasi

Ini cerpen dari teman di skul [atria hikmamaya], tulisannya mungkin jelek, tapi orangnya berbakat n sering juara lomba menulis. cerpen ini pemenang lomba menulis cerpen utk pelajar se NTB oleh UNRAM…met baca

Jamaludin masih mengais-ngais tumpukan sampah yang merupakan tempat kerjanya sehari-hari. Dimana ada tumpukan sampah, disitulah mengucur uang yang bisa dipergunakan Jamaludin untuk membuat perutnya tidak selalu meneriaki dirinya. Umurnya mash sangat muda, sebenarnya ia harus merasakan masa remaja yang normal, tetapi kedaan terus memaksanya untuk terus melaksanakan pekerjaan ini.
Jamaludin adalah anak tunggal dari keluarga yang sangat berkekurangan. Dua tahun yang lalu ayahnya meninggal karena hanyaut disungai, setahun yang lalu ibunya meninggal karena ditabrak oleh sedan pejabat. Dan pejabat itu hanya memberikan uang sebesar seratus ribu. Jamaludin tak bisa menuntut seorang pejabat, ia tahu diri bahwa ia tak mungkin akan didengar.
Orang tuanya hanya mewarisinya sebuah gubuk triplek tipis yang pasti akan hancur bila badai datang. Jamaludin ingin pindah ke bawah kolong jembatan, tetapi ia urungkan niatnya, ia tak sampai hati meninggalkan warisan orang tuanya.
Hari ini jamaludin sepertinya sangat beruntung. Ia banyak sekali mengumpulkan plastik dan kardus. Jamaludin tak sampai petang lagi untuk membuat keranjang bambunya penuh. Hari waktu istirahatnya lebih banyak dari hari-hari sebelumnya.
Bebrapa uang ribuan sepertinya sangat senang untuk memasuki kantong celana buluk jamaludin. Hari ini jamaludin berpikir bahwan Tuhan sangat menyayanginya. Bukannya jamaludin tak pernah berpikir seperti itu, tetapi hari ini ia sangat berterima kasih pada Tuhan.
Di dalam gubuknya, jamaludin memasukan dua uang kertas ke dalam bambu yang sudah ia juga tak tahu uang itu akan di pergunakan untuk apa, yang jelas pasti akan beguna kelak.
Hari ini tumben sekali jamaludin ingin membeli es sirup. Segera ia keluar dari gubuknya dan berjalan menuju SMP yang berada lima ratus meter dari perkampungan gubuknya.terlihat para pedagang kaki lima menjajakkan dagangannya di seberang SMP itu. SMP itu termaksud SMP elit yang murid-muridnya orang berada.
Jamaludin lalu menghampiri seorang pedagang es, ia lalu membeli secangkir es doger, ketika ia meneguknya, dahaganya langsung sirna begitu saja. Apakah ada makanan yang nikmat selain es ini? Tanya jamaludin dalam hati.
“ dek, abang mau beli gula dulu ya, di toko ujung jalan itu. Abang mau minta tolong , jagain dagangan abang. Sebentar lagi anak-anak sekolah pulang, pasti rame, tolong ya dek”, ujar abang penjual es doger ini.
“oh , iya bang. Silahkan aja” ujar jamaludin. Abang itu langsung berlari menuju toko.
Belum lima menit, anak-anak sekolah langsung berhamburan keluar dari pintu gerbang. Mereka langsung menuju para pedagang kaki lima yang berada di seberang jalan. Jamaludin merasa heran, mengapa anak- anak para penghasil banyak uang ini mau membeli jajanan yang berada di seberang jalan begini.
“lho,? Bukan abang yang biasanya? Anaknya ya?” tanya seorang siswi berwajah manis.
“bukan, tadi si abang pergi beli guladi toko ujung jalan sana, jadi saya yang jaga sementaara dagangannya” jawab jamaludin.
“ oh gitu, aku beli satu bungkus, nih uangnya, kembaliannya ambil aja” ujar siswi itu sambil menyodorkan uang kertas lima ribu.
“lho kok gitu, ? apa kamu gak mau uang kembaliannya yang ribu-ribuan?” tanya jamaludin polos. Siswi itu tersenyum.
Lalu anak-anak yang lain menghampiri jamaludin untuk membeli es. Siswi itu lalu masuk ke sebuah sedan. Jamaludin masih tidak mengerti. Tetapi ia akhirnya melayani para siswa- siswi yang sudah tidak tahan lagi untuk melumat es doger dengan gigi geraham mereka.
Abang penjual es doger belum juga kembali. Selama dua jam jamaludin melayani para pembeli yang tidak hanya siswa saja, melainkan guru-guru juga. Ternyata es doger milik si abang laku keras. Akhirnya setelah semua pembeli mendapat es dogernya masing-masing, jamaludin bisa istirahat.
Tiba-tiba si abang menepuk pundaknya dari belakang.
“gimana? Maaf ya abang lama datangnya . gula sekarang mahal, jadi abang beli gula merah di pasar,” ujar si abang lalu duduk disamping jamaludin.
“ ga apa-apa ko bang, ini uangnya . laku keras bang. Oh, ya ada cewek tadi yang gak mau diberi kembalian, ini uang lima ribunya’” jamaludin menyerahkan semua hasil penjualan es dogernya.
“ Oh neng shanty. Dia memang suka begitu, dia anaknya baik hati. Oh ya, kok kamu ndak sekolah, umur kamu berapa? Tanya abang penjual es.
“Umur saya 15 tahun Bang.saya gak punya biaya untuk sekolah, saya jadi pemulung.Biaya sekolah juga makin mahal , kalau saya sekolah, saya makan pake apa?” ujar Jamalaudin lirih, ditatapnya SMP yang berada diseberangnya.
“Iya dek anak Abang aja yang masih SD, biaya sekolahnya sampai satu jutaan.Terpaksa minjem sana sini, uang pembangunan, uang buku, uang seragam, pokoknya ada aja alasannya untuk nyekik orang kecil kayak kita.Oh ya, ini Abang kasi buat kamu, sebagai terima kasih Abang yang udah dibantu,” Abang lalu menyerahkan selembar uang kertas berwarna hijau.
“Gak usah Bang, saya hari ini juga sudah dapat rejeki.Alloh maha mengetahui kesusahan hambanya.ini cuma cobaan.Saya permisi dulu Bang,”Jamaludin lalu dengan cepat pergi dari hadapan si Abang.
Meringis hati jamaludin ketika ia membayangkan dirinya mengambil uang yang diberikan si abang. Padahal abang pasti sangat kesusahan menghidupi anak istrinya.
Jamaludin berjalan menuju gubuknya. Ia lalu melihat orang –orang ramai di gubuk pak soleh, tetangganya, ia lalu berjalan mendekati keramaian itu.
“Ada apa mas?” tanya jamaludin pada seorang tetangganya, Mas Karjo.
“ Aduh nak, istrinya Pak Soleh bunuh diri! Dia minum obat nyamuk!” ujar Mas Karjo.
“Astagfirulloh! Kenapa dia bunuh diri?” tanya jamaludin.
“ Biasa nak,masalah ekonomi. Kemarin anak sulung pak soleh minta uang untuk bayar sekkolah. Uang sekolahnya mencapai jutaan, pak soleh sudah pinjem sana sini, tapi belum juga cukup. Istri pak soleh tidak tahan lagi, akhirnya ia bunuh diri”, cerita Mas Karjo.
Jamaludin lalu kembali ke gubuknya, disana ia duduk merenung,Apakah pendidikan begitu mahal? Hingga nyawa tak seberapa harganya di mata pendidikan ?Jamludin sebenarnya ingin sekali mengenyam bangku pendidikan. Ia pernah sekolah, tetapi hanya sampai kelas dua SD. Mengapa hari ini ia melihat dampak mahalnya biaya pendidikan bagi rakyat kecil?.
Ia pernah mendengar ada dana BOS ( Bantuaan Operasional Sekolah), tetapi apakah itu tetap tidak dapat meringankan beban para rakyat miskin? Apakah pendidikan adalah sesuatu yang begitu mahal dan hanya ada di dalam angan-anagannya saja? Apakah rakyat yang tak punya apa- apa tak punya hak untuk mencicipi nikmatnya ilmu?
Jamaludin terus merenung. Hatinya geram, entah dengan siapa, yang jelas ia ingin memperbaiki keadaan. Ia terus merenung hingga kepalanya terasa berat, dan akhirnya ia tertidur.

***
Jenazah istri pak soleh sudah dikuburkan. Pak soleh memberikan amplop kepada Jamaludin karena sudah membantu, tetapi ia menolak, pak soleh lebih membutuhkan dari pada dirinya.
Mengapa orang seperti Pak Soleh dan si abang begitu baik? Mau membereikan sedikit harta mereka kepada orang lain? Mengapa orang-orang besar tidak melakukan apa yang dilakukan Pak Soleh dan si Abang?.
Esoknya, Jamaludin kembali melakukan rutinitasnya. Ia mengais-ngais tumpukan sampah yang berada di belakang SMP elit itu. Matahari sepertinya menunjukkan jam sembilan. Tiba- tiba ada suara benda jatuh dari atas pagar tenbok SMP.
Ternyata dua buah tas yang sepertinya berlabel mahal telah tejun bebas. Lalu, dua orang anak berseragam memanjat keluar. Mereka melihat Jamaludin yang juga melihat mereka.
“ kalian sedang apa?” tanya jamaludin.
“bolos, gak usah ikut campur gembel”,ujar seorang anak laki-laki.
“ lho, kalian sudah disekolahkan mahal-mahal, tapi kok malah bolos? Kasihan orang tua kalian,” ujar Jamaludin dengan wajah yang ingin menangis.
“ Diam pemulung!ayo, kita sekarang ke pangkalan biasa,” ujar yang seorang lagi. Mereka lalu berlari dengan cepatnya.
Jamaludin lalu menitikkan air mata,. Apa ini yang disenbut keadilan? Kemarin, istri Pak Soleh bunuh diri karena biaya pendidikan yang begitu mahal. Sekarang, ada anak-anak yang tak menghargai mahalnya biaya pendidikan itu.mengapa orang-oarang yang seperti mereka yang mendapat kursi dibangku sekolah.?
Tetapi Jamludin meneruskan pekerjaannya. Ia lalu berjalan kedepan sekolah dan mengais lagi bak sampah besar yang berada di samping gerbang sekolah. Ia melihat kesebrang jalan, berharap ada abang es doger, tetapi ternyata ia tak menemukannya.
Jamaludin terus mengais rejekinya. Ia berjalan menjauhi sekolah itu, mencari tumpukan sampah yang lebih banyak memberikannya uang.
Matahari sudah berada diatas kepala. Jamaludin ingin pulang ke gubuknnya. Dilewatinya SMP elit itu. Ternyata sudah jam pulang. Dan tiba-tiba, ia bertemu dengan siswi yang bernama Shanty itu.
“Hai, lho, ko kamu gak jualan es?”sapa siswi itu.
“Saya bukan penjual es,saya pemulung.saya sudah bilang waktu itu saya cuma bantu-bantu abang jualan es,” jawab Jamaludin malu.
“Oh gitu, namaku Shanty, nama kamu siapa?”,ia menjulurkan tangannya
“nama saya Jamaludin. Maaf tangan saya kotor dan bau” ujar Jamaludin sangat malu.
Tetapi tiba-tiba ,sebuah mobil dan sang supir langsung membantintg setir mobil. Akibatnya mobil berjalan dengan kecepatan penuh menuju Jamaludin dan Shanty. Jamaludin langsung mendorong shanty dan ia juga dengan cepat mendorong dirinya. Akibatnya mobil itu hanya menabrak tembok pagar sekolah.
Sang sopir pingsan dan langsung dibawa kerumah sakit oleh guru-guru SMP itu. Sedangkan Jamaludin dan Shanty hanya lecet-lecet. Sebuah sedan langsung berhenti dan keluarlah seorang yang necis dengan jas dan dasi. Ia terkihat rapi dan berwibawa. Ia lalu mendekati Shanty dan Jamaludin.
“Shanty, kamu tidak apa-apa?” ujar pria itu.
“ Tidak pa. Ada Jamaludin yang menolongku tadi” jawab Shanty.
“ Mana orangnya? Biar papa ucapkan terima kasih” ujar lelaki itu. Shanty lalu menunjuk Jamalludin yang berada di sampingnya.
“ Apa ! Orang kumuh ini? Shanty, kamu jangan bercanda!papa tidak akan mengucapkan terima kasih pada gembel! Ayo pulang!” Lelaki itu langsung menarik tangan Shanty dan masuk kedalam mobil sedan.
Jamaludin hanya dapat menahan hinaan yang ia dapatkan tadi. Tak apa baginya, ini sudah biasa, ini adalah cobaan hidup. Tuhan masih menyayanginya, ujarnya dalam hatinya.

***
Jamaludin merasa tabungan bambunya kini sudah sangat berat. Apakah ini waktunya untuk menghitung hasil keringat yang disisihkan selama setahun lebih? Tetapi dia mengurungkan niatnya.
Jamaludin menggaruk-garuk bak sampah besar yang ada disamping gerbang SMP. Hari ini sepertinya lumayan baginya. Tetapi tiba-tiba gerbang terbuka dam ia melihat shanty berlari kearah jalan. Dan dengan cepat kejadian itu terjadi.
Teruk pengangkut semen itu bagaikan telapak tangan yang menepuk seekor nyamuk hingga tubuhnya tak terbentuk lagi. Jamaludin dengan cepat berlari kearah shanty yang badannya remuk dan banyak mengeluarkan cairan berkilau yang berwarna merah, darah.
Ayah shanty dan guru-guru tiba di lokasi penabrakan. Dilihatnya tubuh anaknya sudah tidak bernayawa, dan ia lemas sehingga rela pakaian mahalnya menyentuh aspal jalan yang panas dan dipenuhi debu. Dan ia menangis sejadi-jadinya.
Jamaludin hanya menghela nafas. Kematian begitu sering ia jumpai, hingga tak ada lagi air mata untuk kematian, tak ada lagi rasa duka yang amat sangat untuk dipersmbahkan ke sesuatu yang benama duka kehilangan.
Esoknya Jamaludin menemukan koran yang dibuang oleh seorang ibu ketempat sampah. Dikoran itu tertulis tertabraknya siswi SMP yang bernama shanty. Ternyata pada awktu itu shanty berlari keluar karena tidak ingin mengikuti suruhan ayahnya yang akan menyekolahkannya keluar negeri setelah lulus SMP. Ayahnya tetap memaksa, sehingga Shanty berlari keluaar sekolah.
“Lagi-lagi soal pendidikan, nyawa melayang”, ujar Mas Karjo yang juga ikut membaca koran itu. Kali ini Jamaludin besama Mas Karjo menjadi tukang semir sepatu.Jamaludin ditawari oleh seorang teman Mas Karjo, dan iapun ingin mencoba hal yang baru.
“Kenapa ya Mas, kok pendidikan terus barmasalah. Mau meningkatkan kualitas rakyat, malah nyawa terbang. Saya bingung?” ujar Jamaludin.
“Udahlah, kamu ngakusah pikirin itu. Kita ini lebih baik mikirin gimana cara kita makan besok! Pendidikan gratis itu sangat mustahil kalau masih ada pemulung berdasi di gedung-gedung mewah itu!” jawab mas karjo.
“Pemulung berdasi? Maksudnya?” tanya Jamaludin.
“Ya orang-orang yang mulung uang rakyat,” jawab Mas Karjo singkat.
Jamaludin lalu mengais tempat sampah yang tadi. Ia mengingat kalau ia melihat sebuah dasi kupu-kupu yang sudah robek di bagian sebelah kanan. Ia sematkan di leher bajunya yang kumal. Ia berkacak pinggang.
“Saya pikir, saya lebih baik daripada mereka mas. Saya sudah sepuluh tahun menjadi pemulung, sedangkan mereka pasti dua atau tiga tahun. Saya tidak pernah melihat pejabat pakai dasi kupu-kupu seperti ini!”ujar Jamaludin percaya diri.
Mas Karyo hanya senyum-senyum sendiri. diam-diam ia membuat puisi untuk di kirim ke penerbit.

Jamaludin seorang pemulung, ingin sekolah.
Jamaludin seorang pemulung, mau sekolah.
Jamaludin seorang pemulung, butuh biaya sekolah.
Jamaludin butuh biaya sekolah, tapi mahal.
Jamaludin ingin sekolah, tapi mahal.
Jamaludin mau sekolah, tapi mahal.

Adakah Jamaludin yang lain? Atau, adakah korban-korban yang lain? Yang nyawanya terenggut karena mahalnya pendidikan? Apakah pendidikan hanyalah kamuflase untuk mencari duniawi? Jamaludin sangat berharap jawabannya tidak! . Ia tak ingin lagi hal yang serupa terus terulang. Dan kelak, semoga jamaludin tidak menjadi’ pemulung berdasi’

Tinggalkan Balasan