Pro Parkour Anti Kompetisi

Copas lagi! hahahaha… hidup copaster! (duh malu-maluin). Credit to anggarda, (atau dia jugak copas?) -_-b

Sebagai prolog untuk memulai tulisan saya.Adalah beberapa catatan yang berbau euphoria semangat traceur menentang kompetisi yang saya kutip dari www.parkourindonesia.web.id

Anti Kompetisi dalam Parkour

Para member dari komunitas Parkour berdiri tegas melawan ide kompetisi parkour yang terorganisir.

Alasan kami:

  • Kami tidak percaya akan adanya kelas elit.
    Kami tidak percaya akan adanya seleksi special di antara para traceur.
  • Kami tidak percaya bahwa parkour membutuhkan hirarki atau perbedaan level-level kemampuan setiap traceur.
  • Kami percaya bahwa untuk menjadi “yang terbaik atau terkenal” itu tidak ada artinya di Parkour, karena kemenangan atau kekalahan itu tidak berarti apa-apa di dalam filosofi parkour.
  • Kami tidak menerima elemen-elemen pendorong seperti demikian di dalam filosofi parkour.

Sekarang,tanyakan pada dirimu sendiri.Kau berlatih dengan keras.Untuk siapa dan untuk apa?Sewaktu SMA saya pernah bergabung dengan klub basket.Disitu saya ditempa dan didoktrin habis habisan bahwa saya harus berlatih keras untuk membawa nama baik sekolah (beserta pelatihnya).oke itu permasalahan yang pertama.Yang kedua,adanya sistim seleksi,Inilah yang membuat ku muak dengan ideology klub basket SMA saya.Bahwasanya yang mahir yang di bina dan yang dipelihara.Diberi semua fasilitas yang ada.Mendapat labeling serta popularitas.Bagaimana dengan yang lain?Yang lain hanyalah pecundang yang menjadi penonton dalam bangku cadangan paling sudut dekat pembuangan sampah.Inikah yang dinamakan olahraga kelompok?Menurut saya tidak.Yang ada hanya egois dan individualis.

Dari situ,saya tidak mendapatkan apa apa..

Saya keluar dari klub..

Kembali lagi..Anda berlatih mati matian untuk menjadi apa? Untuk menunjukkan siapa yang terkuat di lingkungan mu ? “Dengan menjadi kuat,saya akan mendapat popularitas dan kemapanan”,,apa kau berpikir seperti itu? Kau menjadi kuat untuk mendapat prestige,medali,uang,piala,ranking?  “Kemenangan adalah segala-galanya bagiku” itukah motto hidup mu ?….Kau hanya akan menjadi robot instansi…

Di kompetisi,anda hanya menemukan ambisi untuk menjatuhkan.mendorong orang-orang yang belum siap untuk mengorbankan kesehatan mereka untuk kemenangan cepat atau untuk mendapatkan ranking yang tak berarti. Kompetisi mendorong yang elit [pro] untuk terus menerus dan berulang-ulang membahayakan kesehatan mereka yang berharga, hanya karena obsesi dan obligasi untuk menang, dan hal-hal lain yang akan mengancam mereka bila mereka kalah, seperti kehilangan uang, ranking, status, kesombongan [kebanggaan], dan kontrak-kontrak profesional sponsor serta deal-deal komersil.

KAMI PRACTICIONER PARKOUR BERDIRI TEGAS DAN MENENTANG KERAS KOMPETISI !!

Pernahkah anda berpikir kalau “Saya berlatih dengan keras untuk berguna bagi orang lain” ?

Parkour anti kompetisi dalam kacamata saya : Parkour tidak mengenal diskriminasi kemampuan.Kami berlatih dengan saling memotivasi satu sama lain.Kami berlatih untuk meningkatkan disiplin,conditioning,dan kebutuhan untuk hidup sehat yang tahan lama (endurance) yang pada akhirnya kami gunakan untuk membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan dalam artian yang positif. Kami juga mencari manfaat-manfaat dari Parkour yang bisa kami bagikan.
Kami adalah pemberi bukan penerima.Kami tidak pernah dan tidak akan pernah dimiliki oleh suatu instansi,korporasi,sponsor-sponsor,dan media apapun itu.Kami adalah komunitas bermoral. Komunitas parkour di seluruh dunia itu adalah komunitas anti kompetisi yang berarti bahwa kita berlatih bukan untuk menjadi lebih hebat dari orang lain, tapi untuk menjadi lebih baik dari kemampuan diri kita sendiri di hari kemarin.

Parkour anti kompetisi !

referensi   : www.parkourindonesia.web.id

AKU  DAN  PUISI

Saat aku menulis puisi
Aku adalah kupu-kupu mungil putih, kuning dan hijau
Terbang ringan dalam keindahan tarian peri-peri kecil
Menyentuh pucuk daun yang basah oleh embun pertama
Memandikan kuncup dengan matahari fajar
Berkelana mengumpulkan nektar, berebut dengan lebah di kebun belakang rumah

Saat aku menulis puisi
Aku adalah burung kecil
Yang ribut berkicau di pagi hari di bukit kapur yang kering
Meloncat riang dari rumput ke rumput
Terbang berputar melemaskan otot sayap
Namun jika terlalu tinggi terbang
Sayapnya berubah menjadi kukuh dan lebar
Membentang terbang tenang membelah langit
Menjelma menjadi elang bermata tajam
Siap menukik mencegat mangsanya

Saat aku menulis puisi
Aku adalah segores bulan pucat yang mengambang di langit
Sendirian seperti kekasih yang kesepian
Menggigil dalam sentuhan kabut-kabut senja
Dan ketika hari semakin tua
Bulanku menjadi bulat sempurna
Memberi warna pada gelombang laut
Memadu cinta bersama kekasih di ujung pagi yang dingin
Purnama di atas laut
Purnama di atas gunung
Purnama di atas kota yang sibuk

Saat aku menulis puisi
Aku ingin menjadi matahari
Yang tidak pernah berhenti membagikan sinarnya
Meski di umpat orang karena terlalu gerah
Yang setia menjaga sinar bulan agar tidak padam
Meski tidak pernah di minta
Membagi sinar untuk kehidupan dan kematian
Pada jalan raya yang macet
Pada taman-taman penghijauan kota
Pada sudut-sudut jalan yang sepi dan gelap
Pada selokan-selokan yang mampet dan bau
Pada sampah-sampah yang tersebar di seluruh pelosok negara
Pada sungai-sungai yang berwarna cappucino
Pada tangisan bayi di rumah kontrakan dekat pasar

Saat aku menulis puisi
Aku menjadi seorang pecinta
Yang tenggelam dalam gairah panas
Menghamburkan peluh dan desahan
Antara terbang tinggi dan menyelam dalam
Antara rasa sakit dan kenikmatan
Antara jijik dan ketagihan
Tak hendak berhenti sebelum sampai pada titik kulminasi
Di mana kelelahan hilang di ganti kelelahan yang lain
Dan kelelahan yang selalu meminta untuk di puaskan
Tak hendak berhenti sebelum sampai pada gejolak nol
Ketika nafas semakin memburu dan terlepas tanpa kekang
Tak hendak berhenti
Tak hendak berhenti
Tak hendak berhenti
Sebelum darahku berhenti mengalir
Orgasme

Saat aku menulis puisi
Aku adalah jiwa yang bebas
Keluar dari jeratan dunia mana pun

Saat aku menulis puisi
Aku tak ‘kan pernah bisa mati

Written by :
Sekar Hudie
Yogya, 2008/ 6/ 12          10 : 12  am  wib.

Hujan terus menerus mengguyur kota Jogja tanpa mau berhenti barang sekejap pun. Kuliah sudah mulai aktif kembali, namun turunnya hujan sungguh membuat orang-orang yang berkendaraan “hanya” sepeda motor seperti aku menjadi sangat enggan ketika harus berlomba dengan air hujan. Jas hujan adalah benda wajib yang tidak boleh ketinggalan jika saatnya tiba harus beredar. Namun itupun masih juga belum cukup, seringkali saya harus rela basah kuyup, jika tiba-tiba hujan turun mak bresssss….tanpa permisi.

Saat-saat dunia Jogja menjadi begitu kelabu, dingin dan basah, saat-saat itu pulalah biasanya hatiku terasa gampang sekali menjadi moody,  gamang, sedih tanpa jelas alasannya dan lebih memilih berdiam di kamar yang nyaman dan hangat.

Saat-saat itulah, seringkali pula, satu dua puisi lahir dengan begitu saja. Kadang-kadang pada selembar kertas bekas, kadang-kadang pada buku tulis yang kebetulan berada di sebelahku. Saat-saat membaca buku, menunggu sms dari seseorang, atau sedang mengoleskan krim lembut seusai mandi, puisi bisa dengan begitu saja muncul, persis seperti hujan yang tiba-tiba turun mak bressss…itu tadi.

Saya belajar menulis dari merangkai sejumlah kalimat sederhana dalam buku diary, yang saya lakukan sejak saya masih sangat kecil. Kemudian tanpa tersadari, kalimat-kalimat tersebut menjadi semakin mirip dengan rangkaian puisi. Lama kelamaan, menulis puisi terasa lebih mengasyikkan, terasa lebih menyenangkan dibandingkan menulis laporan harian, sehingga pernah pada suatu masa isi buku harian saya seluruhnya berupa puisi.

Bagi saya menulis puisi tidak memerlukan waktu khusus. Tidak harus memakai kontemplasi ataupun perenungan yang dalam. Juga tidak membutuhkan tempat khusus dengan kondisi dan syarat khusus pula. Tidak. Saya bisa menulis dalam keadaan apapun, di manapun, kapanpun, unpredictable. Bahkan kadangkala tanpa harus berpikir menggunakan bahasa apa, artinya sejauh saya mengetahui dengan baik sebuah bahasa, sejauh itu pula saya bisa menggunakannya untuk menuliskan puisi-puisi saya.

Pernah, pada suatu ketika, ketika malam sudah begitu larut, udara dingin dan saya harus menempuh perjalanan pulang dengan melewati areal persawahan yang senyap, di ujung langit saya melihat sepotong bulan yang pucat dan sendirian, seperti saya. Maka sebuah puisi tiba-tiba meloncat dari otak saya. Selanjutnya saya berhenti di pinggir jalan, dengan penerangan lampu motor saya menuliskan puisi singkat tadi ke dalam selembar kertas yang berhasil saya temukan dalam acakan barang-barangan saya di dalam tas kantong ajaib:

“Secoret bulan mengambang di langit
Sendirian
Seperti kekasih yang kesepian”

( 2007/ 10 / 16 )           ( 11 : 29 pm wib )
Puisi adalah hidup saya. Puisi adalah jiwa, mengalir bersama darah yang berada dalam setiap urat nadi dalam tubuh saya. Meskipun tidak semua puisi saya bagus dan indah, tapi sejelek apapun puisi yang saya tulis, merupakan harta karun saya.

Bagi saya, menciptakan sebuah karya seni bagaikan melakukan percintaan dengan kekasih hati, memerlukan nafsu, hasrat, usaha dan penghayatan. Untuk menunjukkannya di perlukan sebuah simbol, perlambang yang mampu mewakili bicaranya hati dan rasa. Dan puisi adalah salah satu dari sekian banyak simbol yang ada. Dengan puisi saya bisa bicara lebih banyak dari yang bisa diungkapkan oleh bibir saya. Dengan puisi saya bisa tertawa terbahak-bahak, saya bisa menari, saya bisa meratap, mencurahkan segala keluh kesah, menangis sepuas hati, menumpahkan kerinduan yang seringkali menggigit jantung, mengumpat, marah, apa saja bisa saya lakukan. Dengan puisi saya terbang melampaui segala batas, saya mengendarai pikiran dan rasa saya, mengembara ke dunia yang absurd.

Ketika saya sekarang mempelajari linguistic, belajar psikoanalisis kesusastraan, minat menulis puisi itu semakin menjadi-jadi. Banyak kisah yang ditulis dalam bentuk puisi, prosa liris dan tembang yang begitu indah untuk di baca dan dihayati.

Shloka Ramayana dan Mahabaratha ada diantara kisah-kisah puitis yang sangat saya sukai. Serat Centhini adalah kumpulan tembang indah yang saya buru sampai saat ini. Saya berusaha untuk mengumpulkan buku-buku puisi dari berbagai negara dan penulis di samping kumpulan-kumpulan novel sastra yang makin lama makin menggunung di kamar saya.

Puisi yang dalam bahas Inggris disebut sebagai poetry, berasal dari bahasa Yunani “πο?ησις”, poiesis, yang artinya adalah menciptakan, yaitu sebuah karya seni yang mempergunakan bahasa sebagai bentuk pengunkapan keindahannya. Puisi bisa saja di tuliskan sebagai bentuk pengungkapan pribadi, namun juga bisa di tujukan dalam kaitannya dengan karya seni lainnya, seperti misalnya untuk lirik lagu, drama teatrikal, menuliskan cerita/kisah dan sebagainya.

Puisi bersifat simbolik, ambigu dan seringkali menjadi ironik, serta banyak lagi gaya-gaya bahasa dan elemen puitis dalam diksi puisi yang menyebabkan sebuah puisi menjadi multiinterpretation ( memiliki banyak makna/interpretasi ). Beberapa puisi mempunyai ciri khas berdasarkan penggunaan gaya bahasa, kultur, genre dan latar belakang kehidupan sang penulis puisi. Gaya puisi Dante akan sangat berlainan dengan gaya puisi Goethe atau Rumi. Bahkan gaya bahasa Rumi sangat berbeda dengan puisi Omar Khayyam, sekalipun keduanya berasal dari belahan dunia yang hampir sama.

Banyak karya-karya puisi lama yang sangat terkenal dan abadi sampai saat ini, seperti kitab Veda ( Wedatama ) dari tahun 1700-1200 SM, dan juga Oddysey yang bertahun 800-675 SM.

Epic of Gilgamesh adalah salah satu puisi tertua yang pernah di temukan, diangkat dari temuan kuno abad ke 3 sebelum masehi. Ditulis pada sebuah tablet keramik.  Selanjutnya, di samping Oddysey, juga di temukan Illiad ( Yunani ) dan Ramayan serta Mahabaratha dari India, yang tertulis dalam lembaran papyrus.

Puisi-puisi di atas lebih cenderung berupa kisah-kisah kepahlawanan yang ditulis dalam bentuk puisi. Akan sangat berbeda dengan puisi karya Shi Jing, seorang penulis puisi dari Cina, yang merupakan satu dari Five Classics of Confucianism, yang menuliskan puisi dengan ritmik ritual, sebagaimana karya Basho, seorang penulis puisi Jepang yang menulis puisi religi Oku no Hosomichi, begitu juga menjadi berbeda lagi dengan puisi karya Chauser, yang mana salah satu karyanya The Parliement of Foules menjadi salah satu kronik munculnya Valentine’s day sebagai perayaan hari cinta, pada sekitar tahun 1380an di Inggris.

Menurut observasi Paul Valéry, salah seorang poets (penulis puisi ), puisi adalah karya seni yang menggunakan bahasa sebagai basiknya. Namun puisi sebenarnya juga memilki arti yang sangat luas dan sulit untuk di definisikan, sebab puisi itu sebenarnya adalah bentuk ekspresi dari pikiran.

Bicara soal sejarah puisi, tak baik jika meninggalkan Aristoteles. Menurutnya jenis puisi bisa dibagi menjadi tiga, yaitu Epic, Comic dan Tragic. Tetapi kemudian dalam perkembangannya teori ini berubah menjadi epic poetry, lyric poetry dan dramatic poetry, treating comedy dan tragedy adalah subgenre dari dramatic poetry. Karya-karya Aristoteles mempengaruhi banyak karya puisi jaman kejayaan Islam sampai pada masa Renaissance.

Puisi memiliki banyak sekali bentuk, jenis, istilah  dan nama. Misalnya Stanza adalah sebuah istilah untuk baris-baris yang di miliki oleh sebuah puisi. Puisi dengan dua bait disebut sebagai couplet (distich ), puisi dengan tiga baris  disebut triplet ( tercet ), puisi yang di tulis dalam 4 baris disebut quartrain, sedang puisi 5 baris disebut dengan istilah quintain (cinquain). Selanjutnya adalah sestet untuk 6 baris , dan 8 baris puisi disebut sebagai octet. Istilah dalam bentuk puisi yang terkenal adalah Haiku, yaitu puisi pendek satu bait ( seperti puisi pendek saya di atas, misalnya ), yang bisa teridiri dari 2 atau 3 baris saja.

Haiku, meskipun pendek, namun seringkali menyimpan makna yang sangat dalam dan memerlukan pemahaman yang mendalam untuk mengerti inti sarinya.

Dari banyak bentuk puisi umum, Soneta adalah salah satu bentuk yang cukup popular, yang sudah di kenal sejak abad ke 13. Soneta merupakan puisi 14 baris yang memiliki rhytme saling berkaitan satu sama lain. Soneta biasanya digunakan untuk menuliskan puisi-puisi bertema cinta, menggunakan diksi yang cukup berat dan kental akan imajinasi. Salah satu Soneta yang paling terkenal adalah Soneta yang ditulis oleh Shakespeare.

Bentuk lainnya adalah Jintishi, yaitu sebuah bentuk puisi klasik Cina yang menggunakan 4 tone bahasa Cina dalam setiap coupletnya. Dasar dari Jintishi adalah 8 baris yang ditulis dalam 4 couplet. Salah seorang master Jintishi adalah Du Fu, poets dari masa pemerintahan dinasti Tang ( abad ke 8 M).

Villanelle adalah puisi yang terdiri dari 19 baris yang ditulis dalam 5 triplet dan diakhiri dengan satu quartrain. Villanelle biasanya ditulis dalam bahasa Inggris dan mulai dikenal pada awal abad ke 19. Poets yang terkenal akan villanelle-nya diantaranya adalah Dylan Thomas dan Elizabeth Bishop. Villlanelle dalam versi Indonesia dan India lama di sebut sebagai Gurindam. Dalam kesusasteraan Indonesia lama di kenal sebuah gurindam yang sangat terkenal, yaitu Gurindam 12 karya Raja Ali Haji, seorang penyair angkatan Pujangga lama. Di sebut sebagai Gurindam 12 karena terdiri dari 12 bait yang masing-masing berisi 19 baris.

Tanka, adalah bentuk puisi yang sangat terkenal dari Jepang. Jenis ini mempunyai bentuk yang sedikit berbeda dengan puisi-puisi lainnya, tidak mengacu pad rhyme pada umumnya. Tanka memiilki komposisi 5 baris dengan pola khusus 5-7-5-7-7 ( 5-7-5 adalah frase tertinggi, sedangkan 7-7 adalah frase terendah ). Tanka banyak ditemukan pada periode Nara. Salah satu masternya adalah Kakinomoto no Hitomaro. Tanka adalah jenis puisi terpendek yang ada di Jepang, yang lebih banyak berisi ungkapan pribadi. Tanka mulai popular sejak abad ke 13, hingga kini.

Rubaiyat adalah jenis puisi dari timur tengah. Salah satu tokoh Rubaiyat yang paling terkenal adalh Omar Khayyam ( bukan Umar Khayam (alm), penulis Mangan Ora Mangan Kumpul, yang guru besar sastra UGM itu lho). Omar Khayyam adalah seorang poets dari Persia.

Sijo merupakan bentuk puisi musical pendek yang berasal dari Korea. Biasanya ditulis dalam 3 baris yang terdiri dari 14-16 kata setiap baris atau total terdiri dari 44 hingga 46 kata. Salah satu contohnya ( ini sengaja saya pilihkan, sebagai salah satu Sijo favorite saya ) adalah ( terjemahan dalam bahasa Inggris ) :

You ask how many friends I have? Water and stone, bamboo and pine.
The moon rising over the eastern hill is a joyful comrade.
Besides these five companions, what other pleasure should I ask?

Dalam terjemahan bahasa Inggris kadang kala bisa menjadi 6 baris. Ssi adalah jenis puisi lain yang terdapat di Korea. Ssi adalah jenis puisi kuno yang masih ditulis hingga kini. Dalam Ssi biasa seorang poets akan menulis tentang Tuhan, cintanya pada bangsa dan negara, hal-hal yang berifat religious, namun  juga ada kalanya berisi tema-tema tentang cinta dan kerinduan pada seorang keaksih. Salah satu masternya adalah KIM Chang Sik, seorang guru Zen yang lahir pada tahun 1944. Salah satu karya besarnya adalah kumpulan puisi yang berjudul Une Poignee de Terre, yang berisi tentang hidup sehat dan segala bentuk kesehatan, sebuah nasehat yang dikemas indah dalam bentuk puisi.

Masih banyak lagi jenis-jenis bentuk puisi seperti misalnya Ode, Ghazal ( dengan Rumi sebagai tokohnya ), dan puisi-puisi modern masa kini yang terus menerus berkembang dari masa-ke masa. Banyak bentuk puisi yang tidak lagi mengacu pada meter, rhythm dan etika-etika puitisasi masa dulu. Bentuk puisi modern lebih kepada bentuk ekspresi bebas.

Saya sendiri sangat menyukai puisi-puisi karya Oscar Wilde, Flavio Santi, Edgar Allan Poe,  AlfredTennyson, Rabindranath Tagore, juga Remy Silado dan Sindhunata ( Romo Sindhu ). Saya juga menyukai puisi-puisi karya Rumi dan puisi-puisi Zen dan Kahlil Gibran, tentu saja !.

Dunia puisi adalah dunia tanpa batas. Untuk menyelami arti sebuah puisi di perlukan adanya pengalaman puitis yang hanya bisa di ungkapkan oleh kata-kata dan rasa. Jadi seringkali sebuah puisi terjemahan terasa dangkal atau tidak seindah bahasa aslinya, sebab seringkali sebuah kata tidak terwakili, tidak hanya secara estetis, namun juga secara maknawi dalam bahasa lain, termasuk bahasa pemahaman.

Puisi adalah dunia rasa, bak indera keenam. Cinta adalah tema yang paling sering muncul sebagai latar belakang penulisan puisi. Tak hanya cinta pada kekasih pujaan hati, namun rupanya ada cinta yang terasa lebih nikmat, yaitu cinta kepada Tuhan. Keduanya adalah misteri jiwa. Rumi, yang mempunyai nama asli Jalalal-Din Mohammad Balkhi, seorang penyair sufi dari Persia yang karya-karyanya sering muncul secara spontan. Rumi seringkali, dalam kekagumannya pada Tuhannya, keluar dari rumah dan dengan tongkatnya menari sambil melontarkan sejumlah kata-kata puisi. Rangkaian kata-kata tersebut di tuliskan oleh murid-muridnya. Rumi sendiri menulis puluhan ribu aforisme dan puisi epic.

Ada sebuah cerita menarik tentang seorang penyair Timur lainnya, yaitu Kabir yang hidup sejaman dengan Rumi, yaitu sekitar Abad Pertengahan ( berkisar antara 1440-1518 ). Kabir lahir dari keluarga penenun muslim yang sangat sederhana. Jika Rumi di beri label Muslim dan penyair India Mirabai berlabel Hindu, maka Kabir menolak label apapun, namun di klaim oleh ke dua agama tersebut, maka ketika Kabir meninggal dunia, jenazahnya dijadikan rebutan oleh kaum Hindu yang ingin mengkremasikan dan kaum Islam yang ingin menguburkannya. Perseteruan ini semakin meruncing, hingga suatu hari salah seorang pengikut Kabir mendapat mimpi untuk membuka peti mati Kabir. Ajaib ! karena di dalam peti itu tidak terdapat tubuh Kabir, tubuh tersebut lenyap digantikan dengan seikat bunga. Kemudian bunga tersebut di bagi dua, sebagian di perabukan, sebagian lagi di kuburkan. Cerita ini sangat terkenal di kalangan sastra India.
Salah satu karya Rumi adalah sebagai berikut :

Lilin dibuat untuk menjadi nyala
Dalam suatu saat penghancuran
Yang tak menyisakan bayangan “

Rabindranath Tagore adalah seorang tokoh sastra India yang sangat terkenal. Dilahirkan di Bengal tahun 1861 dan mengejutkan seluruh dunia kesusutraan ketika menerbitkan sebuah buku puisi kecil berjudul Gitanjali ( 1912 ), dan Tagore adalah orang pertama yang memenangkan Hadiah Nobel kesusatraan pada tahun 1913. Karya-karya Tagore banyak yang diilhami oleh filasafat Weda, namun lebih dari itu, puisi-puisi Tagore adalah puisi yang kental dengan pengolahan pengertiannya akan dunia cinta dan kematian. Tagore adalah penyair yang sangat piawai menggabungkan esensi cinta dan kematian menjadi sesuatu yang begitu bergairah dan indah. Bahkan Tagore memandang dirinya sebagai kekasih sang Maut. Tagore meninggal dunia pada tahun 1944.

Wahai maut, wahai kematianku
Berbisiklah padaku!
Hanya karena dirimulah aku berjaga-jaga dari hari-ke hari !”

Sementara itu puisi-puisi Kahlil Gibran banyak berisi tentang kisah-kisah cinta yang pedih dan terasa perih bila di hayati dengan sungguh-sungguh. Banyak karya-karya Gibran yang mengisahkan betapa cinta itu adalah sesuatu yang indah namun juga maut. Salah satu syairnya yang selalu saya ingat adalah kalimat “ Bahwa ketika cinta memahkotaimu, cinta juga akan meyalibkanmu pada saat yang sama”. Saya sengaja tidak mengulas soal Gibran ini, sebab buku-buku dan ulasan-ulasan Kahlil Gibran sangat mudah di temukan di toko-toko buku, bahkan juga yang versi pop ( saya sangat tidak suka dengan buku-buku Gibran versi pop ini…bagi saya, ini bagaikan sebuah pelecehan sastra…tapi ya apa boleh buat, tuntutan komersialisme kadang kala harus rela melacurkan sebuah karya sastra sekalipun ).

Puisi juga bisa memuat cerita dan kisah, sebagaimana telah diungkapkan diatas, puisi epos karya Valmikii yang sangat terkenal, bahkan kemudian muncul versi Jawa dalam bentuk tembang epos Langen Mandra Wanara ( tarian para kera ) yang merupakan versi Jawa dari kisah shloka Ramayana. Juga Serat Tripama karya Mangkunegara IV yang berupa tembang kepahlawanan yang menceritakan kisah Patih Suwanda selaku patih Prabu Arjuna Sasrabahu yang sangat setia membela bangsa dan negaranya, sebagai teladan kesetiaan pada bangsa dan negara. Tak lengkap dan tak layak jika saya tidak menyinggung tentang susastra negeri sendiri, khususnya Jawa, daerah yang paling erat dengan hidup saya. Jawa memiliki sejumlah karya sastra puisi dari jaman dahulu kala. Tembang adalah jenis puisi yang dibawakan dengan irama lagu. Namun ada juga yang tidak dibacakan dengan irama, misalnya Parikan atau puisi yang berisi tebakan. Biasanya di ucapkan oleh anak-anak jaman dulu, sambil bermain ditengah terangnya sinar bulan purnama.
Salah satu conto parikan adalah :

“ Nyata kowe wasis sis, bedheken sing bener cangkiman loro iki
Manuk ndhase telu batangane apa ?
Jangkrik sungut selawe batangane apa ?
Manuk ndhase telu kuwi
Manuk ndhase di buntel wulu
Jangkrik sungut selawe kuwi
Jangkrik sungute sak lawe “

Yang artinya adalah tebakan. Pada baris pertama adalah pertanyaan jika kamu benar-benar pandai cobalah tebak apa arti kedua tebakan berikut ini. Baris ke dua dan ketiga berisi tebakan yang harus di jawab, yaitu : burung berkepala tiga ( telu ) itu artinya apa ? serta jangkring bersungut duapuluh lima ( selawe) itu artinya apa ? Baris berikutnya adalah jawabannya, yaitu :

Burung berkepala tiga ( telu ) itu artinya burung yang kepalanya di bungkus bulu ( telu= buntel wulu ), jangkrik sungutnya dua puluh lima ( selawe ) itu artinya jangkrik yang sungutnya sebesar lawe ( tali/ benang ). Nyata kelihatan bahwa ketika puisi Parikan tersebut di terjemahkan, bahasa maknanya tidak akan tercapai. Parikan yang di tembangkan lebih sering berupa tembang Pocung ( Pocung lho ya, bukan Pocong, hihiiiii….tembang Pocung yaitu tembang Dolalanan=tembang permainan ).

Selain Parikan, ada juga yang di sebut sebagai Geguritan, yaitu bentuk puisi berbahasa Jawa, contohnya :

Ngantuk dhatan kena kaampet.
Ananging dayaning asmara hangaluwihi rasaning netra sayah.
Sayahing batin hangentosi kang dadi suluhing batos
Dhuh kakang……atinira ngundhat rasa sunya
Sepi kang ngujiwat.

( sekar—Jogja, 2008/12/10 )

Artinya kira-kira adalah : Kantuk yang tak tertahankan// namun kekuatan cinta melebihi pedihnya mata yang lelah// lelahnya jiwa menunggu sang penerang hati// Duh kekasihku…hatiku merindukanmu// sepi tak terkirakan.

Geguritan bisa di bacakan berupa bacaan puisi, namun juga bisa di tembangkan dengan irama. Geguritan yang berisi tema cinta ditembangkan dalam bentuk tembang Asmarandana, sedang geguritan yang berisikan tema kepahlawanan ditembangkan dalam tembang Dhandhanggula,  geguritan yang berisi ajaran hidup ditembangkan dalam bentuk Pangkur dan sebagainya.

Selain Geguritan, di kenal juga Pantun. Daerah Sumatra dengan kesenian Melayu-nya adalah gudangnya Pantun, yang lebih sering di sebut sebagai Pantun Berbalas, di mana orang-orang saling berbalas-balasan Pantun, seolah-olah saling bicara. Mungkin semacam nge-Rap bagi kalangan kulit Hitam Amerika. Dulu, jamannya Forum Kompas masih ngeTrend di kalangan Kokiers, Lembayung memiliki sebuah threat yang berisi tentang Pantun lucu-lucu, threat ini laku keras, salah satu contoh Pantun saya, membalas pantun Om Billy ( forumer saat itu ) adalah sebagai berikut :

Duduk di kursi makan kedondong
Sambil mendengarkan musik santai
Botol di pegang  jatuh ke lantai
Hati-hati dong

Ada sekumpulan pantun Sunda yang di terbitkan oleh C.M Pleyte, yang di sebut sebagai Sindir Sunda yang bentuknya merujuk pada wangsalan Jawa ( Wangsalan Jawa adalah sebutan untuk Pantun Jawa Tengah, khususnya Jogja-Solo). Dalam Pantun Melayu, syair-syairnya berbalas-balas. Contohnya :

Djikakalau toean moedik dahoeloe,
Tjarikan saja boenga kembodja
Djikalau toean mati dahoeloe
Nantikan saja di pintoe sorga

Dijawab dengan
Apa goenanja boenga kembodja
Saja tjarikan boenga tjempaka,
Apa goenanja di pintoe sorga,
Saja nantikan di pintoe naraka

( duh soesah banget menoelis dengan edjaan lama begini….)

Penulisan pantun di atur dengan ikatan-ikatan tertentu, yaitu adanya persamaan bunyi ( rima ) dan persajakan (asonansi ) yang ada antara baris pertama dengan baris ke dua, baris ke tiga, dengan baris ke empat, namun juga ada yang seluruh baris memiliki rima. Salah satu contoh Pantun Melayu lainnya adalah :

Ranggung lantaikalah dibamban
Padi dan banta punya buah
Tanggung rasakanlah di badan
Hati dan mata punya ulah

( Sutan Takdir Alisjahbana, Puisi Lama 1950 )

Selain di daerah Sumatra, Pantun juga terkenal di Jawa Timur. Parikan atau Pantun Jawa Timuran di perkirakan sudah berumur cukup tua, namun baru popular ketika muncul kesenian Ludruk Bandan, yaitu jenis kesenian Ludruk yang pertama kali muncul di Jawa Timur. Ludruk sangat berperan dalam membentuk Parikan Jawa Timuran, artinya isi dan bentuk Parikan Jawa Timuran mengikuti isi dan bentuk Ludruk yang sempat mengalami perubahan sebanyak 4 kali. Dari Ludruk Bandan yang banyak menggunakan kekuatan fisik, berubah menjadi Ludruk Lerok yang juga masih menampilkan banyak adegan akrobat, berubah lagi menjadi Ludruk Besutan, yang menampilkan cerita tentang perseteruan pemuda Besut melawan Juragan Celep. Ludruk Besutan inilah yang kemudian menjelma menjadi Ludruk Sandiwara seperti sekarang ini, dengan banyak menampilkan Parikan-parikan.

Parika jawa Timuran kadang kala terkesan lucu, kasar dan lugas. Pada tahun 1929 ada seseorang yang berinisal HO berhasil mengumpulkan sejumlah Parikan Jawa Timuran yang beredar di sekitar Surabaya. Parikan ini sebagian besar berisi tentang kehidupan rakyat sehari-hari, misalnya :

tuku cita elon-elonan
Potongana dadekna telu
Aja gampang kelon-kelonan
Durung terang kambek Pengulu”

( Beli kain pelan-pelan// Potonglah menjadi tiga// Jangan gampang tidur bersama// Belum jelas dengan Penghulu )

Parikan Jawa Timuran juga sering ditembangkan, Parikan yang di lagukan ini di sebut sebagai Jula-Juli, salah sebuah Jula-Juli yang terkenal adalah Jula-Juli Parikan karya Sindhunata,  contohnya yaitu :

Ojok Stress

Ojok stress jare kang Paiman
Ngombeo es, masi during tarikan
Aku kepleset kesrimpet kutang
Masi gak direwes tak belani utang

Becak bukaan penumpangku prawan
Roke span ditutupi tangan
You can see-an koyok mek kutangan
Mataku nrawang lali setoran


( Jula-Juli Becak’an  oleh Sindhunata 2005 )

Artinya kira-kira :  “jangan stress kata kang Paiman// minumlah es meskipun belum dapat tarikan ( becak )// aku terpeleset terjerat bra// meskipun tidak di gubris saya bela-bela berhutang

Becak bukaan penumpangku perawan// memakai rok span di tutupi tangan// memakai You can see seperti cuma makai bra saja// mataku menerawang lupa setoran.  Selain Pantun Jawa Timuran dari daerah Surabaya, yang banyak di gunakan dalam ludrukan, di kenal pula Pantun Gandrung dari daerah Banyuwangi. Pantun ini kebanyakan di bawakan oleh penari perempuan, contohnya adalah :

Kabeh-kabeh gelung konde,
Kang endi kang gelung Jawa
Kabeh-kabeh ana kang duwe
Kang endi kang durung ana

Artinya :

Semua bergelung konde// Manakah si gelung Jawa// Semua telah beroleh// Yang mana yang belum punya ?

Selain berisi olok-olokan, ada juga Pantun Banyuwangian berbahasa Bantan yang berisi nasehat seperti contoh parikan di bawah ini :

Sing getol nginum jajamu
Ambeh jadi kuat urat
Sing getol neangan elmu
Gunana dunya akherat

Artinya :
Rajinlah minum jamu// Agar kuatlah urat// Rajinlah tuntut ilmu// Bagi dunia akhirat

Banyak Pantun Jawa Timuran jaman dulu yang mengacu pada pantun-pantun Eropa, contohnya pada pantun berikut ini :

Ali-ali aja akeh-akeh,
Siji bae matane inten,
Pena rabi aja akeh-akeh,
Sitok bae nek anteng

( Cincin jangan banyak-banyak// satu saja yang matanya intan// kamu kawin jangan banyak-banyak// satu saja biar tenang ).

Parikan/ pantun ini mengacu pada sebuah pantun berbahasa Belanda :

Niet teveel ringen,
Een is genoeg,
Als hij maar bezet is met een daimant,
Trouw niet met vele vrouwen,
Een is voldoende
Mits ze een goede vrouw blijkt te zijn

( jangan terlalu banyak cincin// satu saja cukup// jika dihiasi dengan permata// jangan menikah dengan banyak wanita// satu saja cukup// asalkan dia seorang yang baik )

Pada prinsipnya hampir semua jenis puisi lama, termasuk pantun, parikan, gurindam, syair, kata berirama, bahkan juga ode, sonata dan sebagainya mempunyai aturan tertentu dalam bentuk penulisannya. Berbeda dengan bentuk puisi modern yang hampir lepas sama sekali dari segala ikatan peraturan baku perpuisian.

Selain jenis-jenis puisi, dikenal pula prosa liris, yaitu puisi panjang yang memuat cerita. Salah satu bentuk prosa liris karya penyair Indonesia yang sangat terkenal adalah Pengakuan Pariyem karya  Linus Suryadi AG. Sebuah karya prosa liris yang menceritakan tentang isi batin seorang wanita Jawa. Karya yang begitu indah. Saya sendiri pernah menulis sebuah prosa liris pendek yang berjudul Korek Api, dan ditayangkan di Kolom Seni beberapa saat yang lalu ( sudah lamaaaa sekali ).

Di Perancis di kenal  Jean de La Fontaine (1621–1695), yang menulis sejumlah fable ( kisah dunia binatang) dalam bentuk puisi dan prosa lirik. Dari puisi juga  ada yang dijadikan sebagai karya film. Salah satu yang terkenal adalah Oddysey karya Homer, juga, yang belum lama ini adalah, Beowulf.

Kisah Beowuf diangkat dari sebuah puisi epos yang tidak diketahui siapa penulisnya. Namun diperkirakan puisi epos Beowulf muncul pada sekitar abad 8 sampai pertengahan abad ke 11, ditemukan dalam sebuah manuskrip yang bernama Nowell Codex. Setting tempat dimana Beowulf tinggal kira-kira berada diantara Denmark dan Swedia. Beowulf merupakan karya sastra masa Anglo-Saxon yang ditulis di Inggris dan ditulis dalam bentuk puisi kuno dengan dialek  campuran antara West Saxon dengan Anglikan. Sementara dialek West Saxon dikenal sebagai dialek Inggris yang banyak di gunakan dalam puisi-puisi Inggris kuno. Puisi Beowulf terdiri dari 3182 baris.

Menulis adalah sebuah kesenangan, membaca adalah sebuah kebutuhan, termasuk membaca buku puisi. Maka betapa bahagianya saya ketika suatu hari seorang teman menghadiahi saya buku kumpulan puisi Remy Silado yang sangat tebal dan sudah lama saya inginkan berjudul Kerygma & Martyria….wow !! walaupun sudah lama, tapi saya masih suka membacanya…thanx ya…juga sebuah buku yang berisi uraian-uraian ajaran-ajaran kehidupan di sertai beberapa syair  yang membuat saya merenung lebih banyak setiap kali menemukan sebuah syair yang terasa indah dan bermakna dalam. Buku itu berbau wangi teratai kumuda. Terimakasih mas yang telah dengan begitu baik mengirimi saya buku tersebut. Bagi saya itu buku hadiah tahun baru yang sangat berarti.

Sampai saat ini pun kegemaran saya menulis puisi masih terus berlanjut. Namun sekali lagi, saya menulis puisi tanpa paksaan, tanpa harus mencari-cari ide. Jadi bisa setiap saat saya “menemukan” ide untuk menulis puisi. Bisa saat saya sedang duduk manis di kelas, atau di angkringan sambil menyeruput teh panas pahit……bahkan juga bila sedang berada di jalan atau mmmm…sedang pacaran, hehehhee……tapi kadangkala saya sama sekali tidak bisa menulis satu baris pun selama berminggu-minggu.

Apapun itu,bisa menjadi sumber ide. Jadi siapa bilang menulis puisi itu sulit ?

Mari menulis puisi dan ceritakan tentang hari-harimu, tentang apa saja.

Salam.


Enthung Queen ( Sekar ) – Di balik dedaunan

About these ads

1 Response to “Pro Parkour Anti Kompetisi”


  1. 1 baseball video games online 23 Februari 2013 pukul 11:31 PM

    You actually make it seem so easy with your presentation but I find this matter to be really something
    that I think I would never understand. It seems too complex and very broad for me.

    I am looking forward for your next post, I’ll try to get the hang of it!


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




This blog has been discontinued. All the contents, and new posts can be found at blog.pdft.net

RSS latest post @ blog.pdft.net

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
Indonesia Linux Conference 2011

stats

SEO Stats powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

hits

  • 228,469 hits


This blog is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 3.0 Unported License.
pejuang mimpi tak ingkar janji

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: