Situs Penghujat Islam Di Mana-mana : What can we do? (2)

Hmmm, ini perihal situs kampret kemaren (mengenal-islam.t35.com). Saya sudah coba sign up ke t35.com untuk lihat terms of use, apakah kita bisa memprotes…

Ternyata tidak. Inilah isi agreement sebelum saat sign up :

AGREEMENT FOR WEB HOSTING SERVICES

By pressing “I Accept” you are signifying that you have read and agreed to our Terms Of Service, located at http://www.t35.com/free-web-hosting-tos.php.

Membership is available to anyone over the age of 13 who registers and accurately provides all the required information, provides a legitimate electronic mail address and obtains a unique T35 Hosting member name and password. T35.com does not discriminate on the basis of age, gender, race, ethnicity, nationality, religion, or sexual orientation. Children under the age of 13 can only register with the express consent of a parent or guardian.

SUMMARY OF T35 HOSTING TERMS OF SERVICE

T35 Hosting is NOT a place to put:

* Phishing sites that steal user passwords. The follow people have been caught stealing passwords and have been reported to federal authorities and police agencies within their country.
* Pornographic content or direct links to pornographic websites
* Pirate software(warez)/mp3 or links to it.
* Large/numerous files primarily for storage purposes and not made viewable to the public through html pages. There is a 1mb file size limit.

T35 will not tolerate any illegal activities on our servers. This includes, but is not limited to: pornography, phishing, adult content, warez sites, warez files, spam, and pirated software / music. Any such activities will be prosecuted to the greatest extent of the law.

If you do not agree to the above, please press “I Decline”. Any member caught violating our TOS in the manners described above will be prosecuted to the greatest extent of the law. We work together with local and federal authorities in dozens of countries to prosecute any and all TOS violators.

Di sana hanya disebut tidak phising situs, pornografi, pembajakan software atau musik, dan menaruh file yang besar. Tidak ada tentang isi situs yang memprovokasi atau menyentuh SARA atau sejenisnya.

Saya tidak bisa bertindak lebih jauh tapi saya benci membiarkan situs ini bisa dibuka siapa pun, kapan pun, dimana pun sementara isinya sangat menyesatkan…

Oh…(SIGH)

Situs Penghujat Islam Di Mana-mana : What can we do? (1)

Saya baru tahu kalau ada perang agama yang SANGAT sengit di Internet karena selama ini hanya membuka forum-forum seputar komputer.

Ini situs yang sudah membuat saya mengurut dada. Saya memberi alamat ini bukan untuk mempromosikannya atau berafiliasi, melainkan agar saudara muslim lainnya tahu tentang hal ini dan menyelidikinya, bahkan menumpasnya kalau bisa.

http://www.mengenal-islam.t35.com

Saya tidak menyediakan link langsung karena saya merasa sangat terhina bila harus berhubungan dengan situs ini. Saya tidak mau membuat mereka untung bahkan hanya dengan sebuah backlink untuk mereka. Baca entri selengkapnya »

Cerpen : Aku Ingin Masuk ke Surga-Mu

Tiba-tiba aku terbangun oleh suara yang melengking tinggi. Suara itu menggema dan sangat panjang, seperti tiupan terompet super jumbo. Saking kerasnya, suara itu seperti mengoyak lubang telingaku dengan kasar dan membuat kulit muka dan dadaku bergetar serta mati rasa. Meski kututup telingaku serapat mungkin, suara itu tetap menembus dan memasuki relung-relung jiwaku yang paling dalam. Seolah semua anggota badanku menjadi telinga. Merasa kaki dan tanganku mendengar langsung.

Dan jantungku serasa hampir lepas ketika suara itu berhenti. Semuanya menjadi sangat sunyi dan sesuatu seperti berdengung di telingaku. Jika saja suara itu berbunyi agak lama lagi, aku berani bertaruh aku pasti sudah kehilangan indera pendengaran. Sungguh suara yang dahsyat.

Serta merta aku bangkit dan menyaksikan hamparan padang putih yang sangat luas dan bahkan tak berujung. Padang itu dipenuhi banyak manusia dari semua ras. Mereka tak berbusana begitu juga aku. Dan tiba-tiba hawa udara yang sangat panas menyergap dan aku melihat matahari begitu dekat dengan kepalaku. Tengkukku hampir meleleh. Lalu kulihat segerombolan manusia yang melayang-layang oleh kepakan sayap mereka. Malaikatkah itu? Aku menatap sekelilingku dengan takjub, seperti seorang anak kecil yang melihat seperangkat mainan yang mahal.

Tempat apa ini?

Dimana?

Semua orang di situ juga sama bingung seperti aku. Tetapi seorang laki-laki yang berdiri disampingku berkata.

“Inilah padang Mahsyar pada hari penantian sebagaimana yang dijanjikan Tuhan,” katanya.

Padang Mahsyar? Mengapa cepat sekali? Aku masih belum percaya. Rasanya aku belum mati. Aku belum pernah sakit keras atau sekarat. Aku merasa belum dishalati dan ditimbun dengan tanah. Aku belum meninggalkan dunia fana. Aku belum menyaksikan kedahsyatan kiamat.

Aku belum mati.

Tanpa dikomando, semua orang—termasuk aku—digiring menuju ke arah yang aku tak tahu apakah itu barat, timur, selatan, atau utara. Kami berjalan perlahan menuju tempat yang lebih terang dan lebih panas. Terdengar suara menggema yang bersahut-sahutan. Rupanya itu panggilan satu-persatu nama-nama manusia. Aku menunggu dengan tak sabar dan menatap ke ujung sana, di suatu tempat seperti jurang. Tempat itu lebih bercahaya karena ada kobaran api yang ganas di balik jurang itu.

“Itulah neraka yang panas, dibawah sana,” kata lelaki tadi.

Neraka? Tiba-tiba keringatku bercucuran, membentuk bulir-bulir air di seluruh wajahku. Jika benar ini hari di mana perbuatan manusia dipertanggungjawabkan, berarti kiamat memang sudah lewat. Aku jadi takut. Aku tak tahu apakah aku akan masuk surga atau neraka. Pikiranku kembali ke dunia fana. Susah mengingat-ingat kala dalam keadaan tegang seperti ini. Oh ya, aku ingat. Aku adalah seorang aktivis dakwah. Setiap hari sibuk dengan urusan agama. Ceramah di sana-sini. Berinfaq sekian banyak. Aku tidak pernah meninggalkan shalat dan puasa wajib. Yang sunnah pun aku tekuni. Aku sering jadi imam di masjid-masjid besar. Aku dihormati umat. Tentu saja aku termasuk golongan orang-orang yang beriman. Ya, aku yakin aku akan masuk surga.

‘Ya Allah Yang Maha Pemurah, masukkanlah aku ke dalam surga-Mu bersama hamba-hambamu yang beriman,’ batinku penuh harap.

Aku semakin yakin bahwa aku akan masuk surga ketika kulihat gerombolan manusia yang kepalanya menyerupai hewan. Mereka yang berkepala hewan pastinya akan dijilati api neraka jahanam, sedangkan wajahku masih mulus berbentuk wajah manusia. Kukira aku akan masuk surga. Surga. Surga, dimanakah dia? Kulihat sebuah pintu yang sangat besar dan bercahaya. Pintu itu terletak di seberang jurang dan dijaga banyak malaikat bersayap.

Kukira itulah pintu surga.

“Lihat, itulah Surga yang dijanjikan Allah untuk hamba-hamba-Nya yang saleh. Harumnya bisa kucium, samar-samar. Bisakah kau?” ujar si lelaki seolah mengiyakan isi pikiranku.

Aku mengangguk antusias.

Ya, itulah pintu surga. Harumnya surga bisa kucium di tengah busuknya neraka yang menghalangi. Aku akan menuju ke sana. Tapi ternyata tak ada jembatan di atas jurang yang panas itu dan aku dilarang lewat oleh seorang malaikat bersayap banyak. Yang menyatukan kedua sisi jurang itu hanyalah untaian sesuatu yang lebih tipis dari pada sehelai rambut, hampir luput dari mataku. Ya, Shiratal Mustaqim. Tetapi bagaimana mungkin aku akan berjalan di atasnya? Tiba-tiba kulihat seorang pria berjubah berjalan dengan tenang dan anggun. Para malaikat melayang di kedua sisinya. Mungkinkah itu Rasulullah?

“Ya, Rasulullah yang Mulia, shalawat dan salam atasnya. Beliaulah yang pertama memasuki surga.” jelas lelaki tadi.

Aku terkesiap. Seumur hidup aku mengimpikan untuk bisa bertemu dengan Rasulullah. ‘Ya Rasul Allah, menolehlah’ batinku. Ingin sekali aku melihat wajah Rasulullah meski hanya sebentar. Namun Beliau tak menoleh barang sedikitpun, terus berjalan dan memasuki pintu surga yang tinggi. Disusul oleh orang-orang mulia yang telah diceritakan dalam buku-buku sejarah yang membosankan—para nabi, sahabat Rasul, dan para mujahidin. Mereka melewati jembatan rambut—begitu aku menyebut Shiratal Mustaqim—dengan mudahnya. Ada yang berlari bahkan ada yang secepat kilat, seolah-olah jembatan rambut itu adalah sebuah jembatan beraspal yang lebar bagi mereka. Kulihat wajah para syahidin pada perang-perang Badar, Uhud, dan lainnya, memasuki pintu surga sambil tersenyum.

Antrian melewati jembatan rambut itu seperti tidak ada habisnya. Kini keadaannya sudah agak berbeda. Ada yang merangkak, ada yang sepelan kura-kura, bahkan ada yang bergelantungan di untaian yang sehelai itu. Agak menyakitkan ketika melihat orang-orang yang tidak berhasil melewati jembatan itu. Mereka terjatuh ke dalam neraka dan teriakan penyesalan mereka menggema berkali-kali. Membuat bulu kudukku berdiri tegak-tegak.

Lalu kulihat orang-orang yang hidup semasa denganku. Ya, itu si Badrun. Dia jatuh dengan menggenaskan. Ah, memang pantas neraka menjadi tempat untuknya karena sehari-hari hanya berjudi yang dilakoni. Lalu kulihat gerombolan pengamen yang dulu sering menggangguku di perempatan lampu merah. Tetapi anak-anak itu berlari-lari di atas Siratul Muttaqin dan sambil tertawa memasuki surga.

Darahku serasa menguap. Bukankah aku lebih mulia dari pada anak-anak gembel itu? Bukankah aku tak pernah mengeluh selama berdakwah di dunia? Bukankah aku orang yang ’saleh’? Mengapa anak-anak itu lebih dulu masuk surga dari pada aku yang seorang pendakwah dan dihormati umat?

Ada yang salah kukira. Tapi sejurus kemudian kulihat tukang sapu yang selalu membersihkan trotoar di depan rumahku. Juga Pengemis yang saban hari menyambangi rumahku. Pembantu rumah tanggaku yang bebal. Anak-anak pengajian yang kuajari cara mengeja Al Qur’an. Segelintir jamaah masjid yang selalu menjadi makmum di belakangku di masjid kecil dekat rumahku. Ada juga kedua orang tuaku dan adik kandungku. Mereka memasuki surga dengan senang hati.

Aku menjadi lemas seketika. Pastilah banyak dosaku. Betapa sombongnya aku menyangka akan masuk surga. Bagaimana mungkin aku akan masuk surga sementara dengan mata kepalaku sendiri aku melihat orang-orang yang kuanggap hina memasuki surga tanpa halangan?

Karena sangat lama aku jadi kesal menunggu. Tiba-tiba namaku dipanggil tanpa embel-embel gelar yang susah payah kuraih selama hidup di dunia.

“Haekal Jayadi”.

Dan aku disodorkan sebuah buku yang besar. Mungkin inilah yang berisi amalku selama hidup di dunia yang fana dan sementara. Yang membuatku berbesar hati adalah aku menerima buku itu dengan tangan kananku. Kukira ini berarti amalan baikku lebih banyak daripada amal buruk. Amal buruk? Oh, bukankah aku hampir tidak pernah berbuat kesalahan? Tentu saja surga akan ku masuki.

Tetapi ketika membuka buku itu, wajahku pias seketika. Ternyata pahalaku hanya lebih sedikit dengan dosaku. Bagaimana mungkin? Atau ada salah perhitungan? Aku ingin melihat apa saja dosaku hingga sebanyak itu. Kubuka buku itu dengan tergesa.

Yang kudapat hanyalah tulisan riya, riya, riya, dan riya. Apakah aku selalu riya ketika hidup di dunia? Apakah demikian?

Aku malu mengakui. Ya, aku memang riya dalam beribadah.

Aku shalat di masjid hanya untuk mendapat rasa hormat para tetanggaku. Aku berjalan di subuh yang dingin dengan setengah berharap ada tetangga yang menyibakkan gorden jendela mereka dan melihat betapa rajinnya aku ke masjid. Aku bersujud lama-lama, namun yang kupikirkan hanyalah orang-orang yang sedang menatapku dengan kagum. Aku membaca ayat-ayat Al-Quran ketika menjadi imam dengan sangat indah dan panjang-panjang, bukanlah untuk ibadahku kepada Allah, tetapi untuk mengambil hati para makmum bahwa aku memang pantas menjadi imam mereka. Aku bersedekah banyak untuk yatim piatu di panti asuhan di hadapan tamu-tamu terhormat agar aku dikenal dermawan. Namun ketika aku dipinta recehan oleh pengamen di kaca mobilku, aku jadi orang yang pelit sekali, berpaling mengabaikan. Aku bertahan membiasakan diri puasa sunnah sebanyak mungkin. Tidak ada yang kudapatkan selain rasa lapar, dahaga, dan image bahwa aku manusia yang saleh dari orang-orang disekelilingku. Aku berkotbah dengan berapi-api di depan kaca di kamarku, melatih diri agar aku tampil tidak mengecewakan di depan jamaah yang mendengarku nantinya. Aku hanya mencari perhatian bukan mengharap ridha Allah.

Aku jatuh terduduk lemas menyadari bahwa aku manusia yang sangat riya. Kubuka lembaran selanjutnya dan seterusnya, hanya tulisan riya yang tergores. Namun tiba-tiba kata takabur muncul. Kemudian munafik dan kikir.

Apakah aku takabur? Aku tidak akan menyangkal karena semua yang tertulis dalam buku ini adalah benar.

Akulah orang yang sangat sombong dengan kebesaranku sebagai orang saleh. Aku adalah orang saleh di mata tetanggaku tetapi tak ubahnya mahluk yang hina di hadapan Allah yang menguasai segalanya. Aku sangat munafik. Aku berbohong, ingkar, dan berkhianat. Kuceramahi jamaah di masjid sementara apa yang kusampaikan tak pernah kulakukan sendiri. Aku adalah orang yang sok tahu. Kukobarkan permusuhan dengan pemimpin islam lain. Kulemparkan kata-kata bid’ah padahal aku sendiri tidak tahu apakah sesungguhnya yang dianggap bid’ah itu.

Aku juga orang yang sangat kikir. Aku sudah terlalu bosan dengan pengemis kecuali ada kenalan yang kebetulan sedang melihatku, kalau sudah begitu mau tak mau aku harus memberi agar dicap pemurah..

Ternyata jiwaku kotor, berlumuran dosa. Hatiku hitam dan keras bagai batu-batu gunung. Ketaqwaanku rendah, dan aku tak lebih baik dari seorang pengamen gembel. Kupanjatkan doa pengampunan meski aku tahu itu sudah terlambat. Allah takkan mendengarku lagi.

Tiba-tiba namaku sekali lagi disebut dan aku harus melewati jembatan rambut itu.

Jembatan itu terbentang sangat panjang. Ketika aku bersiap melangkah, jembatan rambut itu serasa selebar satu meter padahal mataku melaporkan bahwa jembatan itu hampir tak terlihat karena tipisnya. Aku lega, pastinya tak akan sulit bila lebarnya satu meter. Aku melangkah dengan yakin dan setengah malu atas dosa-dosaku. Angin neraka yang panas dan menyesakkan dada menghembus angkuh, membuatku bergoyang-goyang. Makin lama aku berjalan jembatan itu semakin menyempit dan akhirnya hanya selebar satu jengkal. Aku jadi takut dan tegang. Aku harus berusaha menjaga keseimbangan untuk setiap langkah sementara neraka bergejolak di bawahku. Tiba-tiba aku terpeleset dan terjatuh. Tetapi tanganku berhasil menggenggam jembatan yang semakin tipis itu.

Jadilah aku bergelantungan menyedihkan.

Semakin tipis jembatan itu semakin mengiris tanganku. Aku kesakitan dan berteriak-teriak minta tolong kendati pun aku sadar tidak ada yang bisa menolongku sekarang. Ujung-ujung kakiku sudah hampir melepuh oleh api neraka.

Akhirnya aku melepas peganganku dan aku terjatuh, merasakan betapa panasnya api neraka menjilati tubuhku.

Tiba-tiba aku terbangun dan merasakan wajahku basah dan dingin. Sepasang tangan menjawil hidungku serta menepuk-nepuk pipiku. Ketika aku memicingkan mata, seseorang sedang bersiap-siap mengoleskan balsem di hidungku.

“Istigfar, Jay, istigfar…” katanya.

Ternyata banyak pula yang mengerumuniku. Mereka berbisik-bisik ribut sekali. Aku baru ingat kalau aku sedang diundang ikut pesantren kilat di sebuah sekolah sebagai pemberi materi untuk peserta.

Aku mimpi buruk.

“Mimpi apa kok pake teriak segala? ” tanya Reza, sahabat yang menemani undanganku.

“Habis tidurnya nggak baca doa sih…” yang lain menyahut setengah berbisik.

Mimpi apa? Ya Allah, betapa menyakitkan cara-Mu mengingatkanku akan dosa-dosaku. Dosa-dosaku, ya Allah, dosa-dosa yang sungguh sangat kotor dan mengotori. Ampunilah hamba-Mu ini, yang jiwanya berlumuran dosa-dosa hina yang selama ini terselubung. Aku mengharap ridha-Mu Aku mendambakan surga-Mu, ya Allah.

Aku benar-benar menyesalkan, betapa aku manusia yang hina dibandingkan teman-temanku di sekelilingku ini. Aku tak pantas berada di dekat mereka bahkan memanggil nama mereka pun aku tak pantas. Bisa kurasakan tubuhku gemetar seolah jasadku menolak untuk membungkus jiwaku yang busuk. Air mata mulai meleleh di ujung mataku dan aku menangis sesunggukan menyesali semuanya.

“Kok nangis? Kak Jay… ”

Mataram, 12 September 2008

Kenduri, Harga Diri, dan Hujan

ehm…ada cerita menarik, waktu ikut kendurian [syukuran] ma temen [mr. bun] hujan turun. kondisinya begini. acaranya adl syukuran naik haji n tempatnya disediakan di dalam rumah empunya acara dan di halaman. hanya tamu yang terhormat yang dipersilakan di dalam ruangan. kami dapat jatah di luar. terop yang menaungi saya terbuat dari anyaman daun kelapa yang sudah kering dan di sangga bambu, bertumpuk-tumpuk dan kokoh. akhirnya tiba waktu makan-makan.
tanpa di sangka hujan turun gerimis namun saya dan bun tidak terlalu menghiraukan karena lezatnya makanan itu; sate daging dan bakso yang besar-besar juga ayam suir-suir yang pedas. saya baru menyadari hujan bertambah deras ketika tetesan air jatuh ke dalam piring saya, membuat enggan melanjutkan makan. banyak tetesan jatuh di sana sini, para tamu jadi harus pindah-pindah tempat duduk agar tidak kena air. tiba-tiba tetesan2 itu berubah menjadi kucuran yang deras, tak ayal baju kami semua jadi basah. akhirnya saya dan bun minggat bersama tamu-tamu lain untuk berteduh di teras empunya rumah [sebelumnya mencomot sepotong besar daging ayam].
saya berdiri berdesakan bersama tamu lain. saat itulah saya bisa membedakan mana tamu yang datang dengan niat mendoakan dan mana tamu yang datang dengan niat mendapatkan makanan. ternyata ada tamu-tamu yang bertahan di bawah terop bambu itu, mereka makan dengan cepat sementara punggung mereka sudah basah oleh air. sedikit tebal muka memang, baru ikut berteduh di teras setelah makannya habis. tamu-tamu yang bertahan itu seperti tidak punya harga diri.
saya munafik juga sebenarnya karena ada bagian hati saya yang bertujuan pingin dapat makanan.
akhirnya semua tamu dipersilakan masuk ke dalam, berdesakan dengan tamu-tamu terhormat. semua saling tempel antara yang berpakaian basah kuyup dengan yang kering saking sempitnya. ruang makan keluarga dijadikan tempat lesehan syukuran. begitulah…

  1. well, semoga empunya acara dapat haji yang mabrur, amin.

Surat Dari Pemuda Somalia kepada Pemuda Yang Duduk-duduk

Segala puji milik Allah, sholawat dan salam keatas penghulu para Nabi dan Rosul, Nabi kita Muhammad, keluarga dan seluruh sahabat beliau. Amma Ba’d :Allah berfirman : “Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun”(At Taubah : 39).Ini adalah surat yang kami kirim dari Asy Syababul Mujahidin (para pemuda mujahidin) kepada saudara kami para pemuda ‘Al Qoidun’ (yang duduk-duduk) yang mencintai jihad akan tetapi terhalang oleh udzur bagi diri mereka. Terkadang jiwanya membisikinya agar menyelesaikan kuliah baru kemudian berangkat berjihad. Terkadang jiwanya mengatakan aku menikah terlebih dahulu baru kemudian aku pergi berjihad. Dia mencari-cari suatu pekerjaan lalu kemudian membangun sebuah rumah dan kemudian menikah. Atau dia menanti-nantikan sebuah pesawat yang dikirimkan mujahidin khusus untuk mengangkutnya dari rumah langsung menuju Kandahar atau Baghdad atau Dagestan atau Mogadhisu.. Tidak! dan ini tidak akan pernah terjadi!

Sesungguhnya, semenjak tahun-tahun yang telah lalu, sedikit sekali dari umat ini yang memahami problematika umat dan perang salib yang diumumkan dengan gamblang dalam setiap kesempatan. Dan sekarang, setelah peperangan melawan salibis diumumkan oleh mujahidin di setiap tempat, dan terjadilah bencana yang menimpa Amerika dan sekutunya, lalu kekuatannya menjadi lemah dan mulai goyah yang sebentar lagi akan tumbang – dengan izin Allah. Para pemuda mulai beranjak menuju problem tersebut dan setelah jelas bagi mereka berbagai klaim ulama-ulama suu’ dan para penjual dien, dan setelah tersingkap konspirasi pemerintahan mereka dan lenyapnya berbagai syubhat mukhodzdziliin (para penggembos), para pemuda muwahhid dari berbagai tempat mulai menyambut penyeru jihad.Lalu muncullah, dengan sangat disayangkan, perkumpulan-perkumpulan pemuda yang tak terhitung yang mencintai jihad akan tetapi mereka menjadikan diri mereka hanya sekedar pencinta jihad atau dengan istilah yang lebih jelas “Jamahir” yang memberi tepuk tangan bagi mujahidin dan hanya menantikan berbagai aksi berani mereka melawan Amerika dan antek-anteknya dengan penuh takjub. Hati mereka tidak tergerak untuk menolong mustadh’afin (orang-orang lemah) atau ikut bergabung dengan mujahidin dan syuhada’, akan tetapi hanya mencukupkan diri dengan mengikuti perkembangan berita mujahidin dan memekikkan takbir seusai menyaksikan sebuah operasi mujahidin. Sebagian mereka membanggakan diri bahwa mereka memiliki banyak koleksi film-film mujahidin, dimana mereka merasakan kecapaian saat mengumpulkannya dari internet. Sebagian lagi menisbahkan dirinya dengan “komentator olah raga” di berbagai forum olah raga lalu berkomentar bahwa ini tidak bagus dan semestinya begini, harus begitu, dengan cara begini agar lebih ok.. dan seterusnya.Maaf wahai saudara-saudaraku.. Aku tidak bermaksud dengan hal yang menghalanginya sebagai udzur dan dunia menjadi sempit, sementara dia mencari-cari siapa yang akan membawanya menuju medan jihad.
Perkenanlah kami memetik beberapa faedah dari surat At Taubah – semoga Allah menerima taubat kami dan kalian. Di surat tersebut terdapat makna yang cukup untuk menggerakkan jiwa orang-orang yang duduk dan membangkitkan ‘azm (keinginan yang kuat) untuk berjihad dan membantah berbagai hujjah para mukhodzdzil. Kita mulai dari firman-Nya : “Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat”(At-Taubah : 41), apakah kalian mengerti wahai saudaraku bahwa ayat ini ditafsirkan oleh Syekh Abu Tholhah – semoga Allah meridhoinya -, ketika membacanya beliau mengatakan kepada anak-anaknya “aku melihat Robb kita menyuruh kita untuk berangkat, baik tua maupun muda.. Siapkankanlah aku wahai anakku!”. Dan dia – semoga Allah meridhoinya – ikut berperang bersama Rosulullah SAW sampai meninggalnya beliau, dan berperang bersama Abu Bakar sampai meninggalnya Abu Bakar, dan berperang bersama Umar sampai meninggalnya Umar, sementara itu dia tidak melihat udzur bagi dirinya untuk hanya duduk-duduk saja, maka dia pun mengarungi lautan untuk berperang sampai dia meninggal dan tidak ditemukan satu daratan untuk menguburkannya kecuali setelah sembilan hari dan jasadnya tidak berubah sama sekali – semoga Allah merahmatinya. Ibnu Katsir – semoga Allah merahmatinya – menyebutkan perkataan sahabat dan tabi’in dalam menafsirkan ayat “ringan maupun berat”, beliau menyebutkan (kaya dan miskin, sibuk dan tidak sibuk, senang maupun tidak senang, berat dan memiliki keperluan, dalam kondisi susah maupun senang, menunggang kendaraan maupun jalan kaki, kaya dan fakir). Ayat tersebut tidak mengecualikan seorangpun dan tidak membiarkan satu hujjah pun, dimanakah posisi kita dari orang-orang itu? Kemudian pada ayat selanjutnya Allah berfirman : “Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, pastilah mereka mengikutimu”(At Taubah : 42). Sekiranya melakukan safar kepada selain jihad, semisal untuk berdagang, mencari keuntungan dunia dan semisalnya, niscaya mereka akan bersegera menuju kepadanya. Lihatlah kondisi kaum muslimin, betapa banyak para pelancong dan betapa banyak para musafir yang menghendaki kesenangan dunia. Langit dipenuhi dengan pesawat-pesawat, laut didesaki dengan kapal-kapal, akan tetapi tidaklah mereka melakukan safar untuk berperang kecuali hanya segelintir saja sementara mereka merasa sangat ketakutan, wallahulmusta’an.

Dan kepada mereka, orang-orang yang mencari-cari udzur dan menjadikannya sebagai alasan untuk duduk-duduk, dan mengedepankan satu kaki dan membelakangkan yang lainnya. Allah berfirman : “Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk tidak ikut berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa. Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya”(At Taubah : 44). Ayat ini menunjukkan secara singkat bahwa tidak ada izin untuk duduk dan tinggal diam dari jihad bagi seorang mukmin yang beriman kepada Allah dan Rosul-Nya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin adalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir karena hati mereka ditimpa dengan kebimbangan dan keraguan.

Sebagian lagi merasa takut dengan berbagai fitnah/ujian dalam perjalanan, sementara itu kami takut mereka terkena firman Allah : “Di antara mereka ada orang yang berkata: ‘Berilah saya keizinan (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus dalam fitnah’. Ketahuilah bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah”(At Taubah : 49). Fitnah yang besar adalah meninggalkan jihad dan tinggal diam dari berperang, bahkan bisa saja perkataan ini membawa ke Jahanam. “Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya : ‘Dalam keadaan bagaimana kamu ini?’. Mereka menjawab: ‘Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)’. Para malaikat berkata: ‘Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?’. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali”(An Nisa’ : 97). Perhatikanlah wahai saudaraku!

Allah azza wa jalla mengecualikan diantara Al Qoidin (orang-orang yang duduk) bagi orang yang memiliki udzur. Allah berfirman : “Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya”(At-Taubah : 91). Allah juga mengecualikan orang-orang yang berusaha mencari jalan untuk berjihad di setiap tempat, akan tetapi ketika tidak memungkinkan bagi mereka untuk berangkat dan setiap jalan di depan mereka ditutup mereka tidak terus kembali menuju rumah mereka dengan merasa senang karena dapat duduk-duduk santai, akan tetapi mata mereka dibanjiri dengan peluh dan mereka merasa sangat sedih karena mereka tidak dapat berangkat untuk berjihad.

Inilah surat dari negri Somalia, negri jihad dan ribath, kepada orang-orang yang menangis karena duduk-duduk mereka. Kami katakan kepada mereka : bergembiralah kalian, telah datang jalan keluar dan pintu diantara pintu-pintu surga telah dibuka di Somalia, dan Somalia menjadi medan orang-orang yang berlomba dan berpacu di jalan Allah. Cepatlah kalian dengan segera. Kemenangan tinggal menanti sesaat lagi. Peperangan melawan penolong koalisi tidak akan pernah dimulai sampai tampak pertanda kemenangan dan banyak kabar gembira. Maka larilah para pasukan koalisi dari darat dan dari laut dengan meninggalkan senjata mereka di belakang mereka sebagai ghonimah untuk mujahidin, dan mereka meninggalkan saudara mereka orang-orang murtad yang terkena hujaman panah mujahidin siang dan malam.

Wahai pasukan Allah di setiap tempat! Kami berjanji kepada kalian bahwa kami akan memanggul panji “laa ilaaha illallah” yang cemerlang dan tidak ada debu padanya, dan kami akan menyemainya dengan darah kami sebagaimana saudara-saudara syuhada’ kami yang telah mendahului. Kami hanyalah pasukan diantara pasukan-pasukan kaum muslimin, kami menolong islam dimanapun tempatnya. Dan syariat islam kami mewajibkan kami untuk menolong kaum muslimin yang berada di Somalia dan jihad melawan penjajah di negri ini juga mewajibkan kami untuk memerangi mereka di setiap negri islam. Seorang yang berakal tidak akan pernah mengatakan bahwa hukum jihad berubah menurut pembatasan Sykes Pickot, dan jihad tidak akan pernah gugur kewajibannya dari seorang muslim selama negri Palestina masih terjajah, dan tentara salibis merendahkan kaum muslimin di Irak, Afganistan, Chechnya dan seluruh negri kaum muslimin yang dijajah oleh Amerika melalui antek-anteknya, para thogut Arab. Dan Somalia hanyalah salah satu parit diantara parit-parit kaum muslimin, tidak diperkenankan bagi seorang muslim untuk tinggal diam darinya selama dia mampu untuk menuju kesana.

Jihad kami akan terus berjalan dengan izin Allah azza wa jalla, kami tidak akan terganggu dengan orang yang menyelisihi kami dan tidak juga orang yang menelantarkan kami, sampai kalian melihat kemuliaan dan kekuasaan pada umat kami, atau kami menemui Allah azza wa jalla dalam kondisi menghadap dan tidak mundur.

Dan penutup doa kami ialah: “Alhamdulilaahi Rabbil ‘aalamin”.

Penunggang kuda dari Somalia