Cerpen : Aku Ingin Masuk ke Surga-Mu

Tiba-tiba aku terbangun oleh suara yang melengking tinggi. Suara itu menggema dan sangat panjang, seperti tiupan terompet super jumbo. Saking kerasnya, suara itu seperti mengoyak lubang telingaku dengan kasar dan membuat kulit muka dan dadaku bergetar serta mati rasa. Meski kututup telingaku serapat mungkin, suara itu tetap menembus dan memasuki relung-relung jiwaku yang paling dalam. Seolah semua anggota badanku menjadi telinga. Merasa kaki dan tanganku mendengar langsung.

Dan jantungku serasa hampir lepas ketika suara itu berhenti. Semuanya menjadi sangat sunyi dan sesuatu seperti berdengung di telingaku. Jika saja suara itu berbunyi agak lama lagi, aku berani bertaruh aku pasti sudah kehilangan indera pendengaran. Sungguh suara yang dahsyat.

Serta merta aku bangkit dan menyaksikan hamparan padang putih yang sangat luas dan bahkan tak berujung. Padang itu dipenuhi banyak manusia dari semua ras. Mereka tak berbusana begitu juga aku. Dan tiba-tiba hawa udara yang sangat panas menyergap dan aku melihat matahari begitu dekat dengan kepalaku. Tengkukku hampir meleleh. Lalu kulihat segerombolan manusia yang melayang-layang oleh kepakan sayap mereka. Malaikatkah itu? Aku menatap sekelilingku dengan takjub, seperti seorang anak kecil yang melihat seperangkat mainan yang mahal.

Tempat apa ini?

Dimana?

Semua orang di situ juga sama bingung seperti aku. Tetapi seorang laki-laki yang berdiri disampingku berkata.

“Inilah padang Mahsyar pada hari penantian sebagaimana yang dijanjikan Tuhan,” katanya.

Padang Mahsyar? Mengapa cepat sekali? Aku masih belum percaya. Rasanya aku belum mati. Aku belum pernah sakit keras atau sekarat. Aku merasa belum dishalati dan ditimbun dengan tanah. Aku belum meninggalkan dunia fana. Aku belum menyaksikan kedahsyatan kiamat.

Aku belum mati.

Tanpa dikomando, semua orang—termasuk aku—digiring menuju ke arah yang aku tak tahu apakah itu barat, timur, selatan, atau utara. Kami berjalan perlahan menuju tempat yang lebih terang dan lebih panas. Terdengar suara menggema yang bersahut-sahutan. Rupanya itu panggilan satu-persatu nama-nama manusia. Aku menunggu dengan tak sabar dan menatap ke ujung sana, di suatu tempat seperti jurang. Tempat itu lebih bercahaya karena ada kobaran api yang ganas di balik jurang itu.

“Itulah neraka yang panas, dibawah sana,” kata lelaki tadi.

Neraka? Tiba-tiba keringatku bercucuran, membentuk bulir-bulir air di seluruh wajahku. Jika benar ini hari di mana perbuatan manusia dipertanggungjawabkan, berarti kiamat memang sudah lewat. Aku jadi takut. Aku tak tahu apakah aku akan masuk surga atau neraka. Pikiranku kembali ke dunia fana. Susah mengingat-ingat kala dalam keadaan tegang seperti ini. Oh ya, aku ingat. Aku adalah seorang aktivis dakwah. Setiap hari sibuk dengan urusan agama. Ceramah di sana-sini. Berinfaq sekian banyak. Aku tidak pernah meninggalkan shalat dan puasa wajib. Yang sunnah pun aku tekuni. Aku sering jadi imam di masjid-masjid besar. Aku dihormati umat. Tentu saja aku termasuk golongan orang-orang yang beriman. Ya, aku yakin aku akan masuk surga.

‘Ya Allah Yang Maha Pemurah, masukkanlah aku ke dalam surga-Mu bersama hamba-hambamu yang beriman,’ batinku penuh harap.

Aku semakin yakin bahwa aku akan masuk surga ketika kulihat gerombolan manusia yang kepalanya menyerupai hewan. Mereka yang berkepala hewan pastinya akan dijilati api neraka jahanam, sedangkan wajahku masih mulus berbentuk wajah manusia. Kukira aku akan masuk surga. Surga. Surga, dimanakah dia? Kulihat sebuah pintu yang sangat besar dan bercahaya. Pintu itu terletak di seberang jurang dan dijaga banyak malaikat bersayap.

Kukira itulah pintu surga.

“Lihat, itulah Surga yang dijanjikan Allah untuk hamba-hamba-Nya yang saleh. Harumnya bisa kucium, samar-samar. Bisakah kau?” ujar si lelaki seolah mengiyakan isi pikiranku.

Aku mengangguk antusias.

Ya, itulah pintu surga. Harumnya surga bisa kucium di tengah busuknya neraka yang menghalangi. Aku akan menuju ke sana. Tapi ternyata tak ada jembatan di atas jurang yang panas itu dan aku dilarang lewat oleh seorang malaikat bersayap banyak. Yang menyatukan kedua sisi jurang itu hanyalah untaian sesuatu yang lebih tipis dari pada sehelai rambut, hampir luput dari mataku. Ya, Shiratal Mustaqim. Tetapi bagaimana mungkin aku akan berjalan di atasnya? Tiba-tiba kulihat seorang pria berjubah berjalan dengan tenang dan anggun. Para malaikat melayang di kedua sisinya. Mungkinkah itu Rasulullah?

“Ya, Rasulullah yang Mulia, shalawat dan salam atasnya. Beliaulah yang pertama memasuki surga.” jelas lelaki tadi.

Aku terkesiap. Seumur hidup aku mengimpikan untuk bisa bertemu dengan Rasulullah. ‘Ya Rasul Allah, menolehlah’ batinku. Ingin sekali aku melihat wajah Rasulullah meski hanya sebentar. Namun Beliau tak menoleh barang sedikitpun, terus berjalan dan memasuki pintu surga yang tinggi. Disusul oleh orang-orang mulia yang telah diceritakan dalam buku-buku sejarah yang membosankan—para nabi, sahabat Rasul, dan para mujahidin. Mereka melewati jembatan rambut—begitu aku menyebut Shiratal Mustaqim—dengan mudahnya. Ada yang berlari bahkan ada yang secepat kilat, seolah-olah jembatan rambut itu adalah sebuah jembatan beraspal yang lebar bagi mereka. Kulihat wajah para syahidin pada perang-perang Badar, Uhud, dan lainnya, memasuki pintu surga sambil tersenyum.

Antrian melewati jembatan rambut itu seperti tidak ada habisnya. Kini keadaannya sudah agak berbeda. Ada yang merangkak, ada yang sepelan kura-kura, bahkan ada yang bergelantungan di untaian yang sehelai itu. Agak menyakitkan ketika melihat orang-orang yang tidak berhasil melewati jembatan itu. Mereka terjatuh ke dalam neraka dan teriakan penyesalan mereka menggema berkali-kali. Membuat bulu kudukku berdiri tegak-tegak.

Lalu kulihat orang-orang yang hidup semasa denganku. Ya, itu si Badrun. Dia jatuh dengan menggenaskan. Ah, memang pantas neraka menjadi tempat untuknya karena sehari-hari hanya berjudi yang dilakoni. Lalu kulihat gerombolan pengamen yang dulu sering menggangguku di perempatan lampu merah. Tetapi anak-anak itu berlari-lari di atas Siratul Muttaqin dan sambil tertawa memasuki surga.

Darahku serasa menguap. Bukankah aku lebih mulia dari pada anak-anak gembel itu? Bukankah aku tak pernah mengeluh selama berdakwah di dunia? Bukankah aku orang yang ’saleh’? Mengapa anak-anak itu lebih dulu masuk surga dari pada aku yang seorang pendakwah dan dihormati umat?

Ada yang salah kukira. Tapi sejurus kemudian kulihat tukang sapu yang selalu membersihkan trotoar di depan rumahku. Juga Pengemis yang saban hari menyambangi rumahku. Pembantu rumah tanggaku yang bebal. Anak-anak pengajian yang kuajari cara mengeja Al Qur’an. Segelintir jamaah masjid yang selalu menjadi makmum di belakangku di masjid kecil dekat rumahku. Ada juga kedua orang tuaku dan adik kandungku. Mereka memasuki surga dengan senang hati.

Aku menjadi lemas seketika. Pastilah banyak dosaku. Betapa sombongnya aku menyangka akan masuk surga. Bagaimana mungkin aku akan masuk surga sementara dengan mata kepalaku sendiri aku melihat orang-orang yang kuanggap hina memasuki surga tanpa halangan?

Karena sangat lama aku jadi kesal menunggu. Tiba-tiba namaku dipanggil tanpa embel-embel gelar yang susah payah kuraih selama hidup di dunia.

“Haekal Jayadi”.

Dan aku disodorkan sebuah buku yang besar. Mungkin inilah yang berisi amalku selama hidup di dunia yang fana dan sementara. Yang membuatku berbesar hati adalah aku menerima buku itu dengan tangan kananku. Kukira ini berarti amalan baikku lebih banyak daripada amal buruk. Amal buruk? Oh, bukankah aku hampir tidak pernah berbuat kesalahan? Tentu saja surga akan ku masuki.

Tetapi ketika membuka buku itu, wajahku pias seketika. Ternyata pahalaku hanya lebih sedikit dengan dosaku. Bagaimana mungkin? Atau ada salah perhitungan? Aku ingin melihat apa saja dosaku hingga sebanyak itu. Kubuka buku itu dengan tergesa.

Yang kudapat hanyalah tulisan riya, riya, riya, dan riya. Apakah aku selalu riya ketika hidup di dunia? Apakah demikian?

Aku malu mengakui. Ya, aku memang riya dalam beribadah.

Aku shalat di masjid hanya untuk mendapat rasa hormat para tetanggaku. Aku berjalan di subuh yang dingin dengan setengah berharap ada tetangga yang menyibakkan gorden jendela mereka dan melihat betapa rajinnya aku ke masjid. Aku bersujud lama-lama, namun yang kupikirkan hanyalah orang-orang yang sedang menatapku dengan kagum. Aku membaca ayat-ayat Al-Quran ketika menjadi imam dengan sangat indah dan panjang-panjang, bukanlah untuk ibadahku kepada Allah, tetapi untuk mengambil hati para makmum bahwa aku memang pantas menjadi imam mereka. Aku bersedekah banyak untuk yatim piatu di panti asuhan di hadapan tamu-tamu terhormat agar aku dikenal dermawan. Namun ketika aku dipinta recehan oleh pengamen di kaca mobilku, aku jadi orang yang pelit sekali, berpaling mengabaikan. Aku bertahan membiasakan diri puasa sunnah sebanyak mungkin. Tidak ada yang kudapatkan selain rasa lapar, dahaga, dan image bahwa aku manusia yang saleh dari orang-orang disekelilingku. Aku berkotbah dengan berapi-api di depan kaca di kamarku, melatih diri agar aku tampil tidak mengecewakan di depan jamaah yang mendengarku nantinya. Aku hanya mencari perhatian bukan mengharap ridha Allah.

Aku jatuh terduduk lemas menyadari bahwa aku manusia yang sangat riya. Kubuka lembaran selanjutnya dan seterusnya, hanya tulisan riya yang tergores. Namun tiba-tiba kata takabur muncul. Kemudian munafik dan kikir.

Apakah aku takabur? Aku tidak akan menyangkal karena semua yang tertulis dalam buku ini adalah benar.

Akulah orang yang sangat sombong dengan kebesaranku sebagai orang saleh. Aku adalah orang saleh di mata tetanggaku tetapi tak ubahnya mahluk yang hina di hadapan Allah yang menguasai segalanya. Aku sangat munafik. Aku berbohong, ingkar, dan berkhianat. Kuceramahi jamaah di masjid sementara apa yang kusampaikan tak pernah kulakukan sendiri. Aku adalah orang yang sok tahu. Kukobarkan permusuhan dengan pemimpin islam lain. Kulemparkan kata-kata bid’ah padahal aku sendiri tidak tahu apakah sesungguhnya yang dianggap bid’ah itu.

Aku juga orang yang sangat kikir. Aku sudah terlalu bosan dengan pengemis kecuali ada kenalan yang kebetulan sedang melihatku, kalau sudah begitu mau tak mau aku harus memberi agar dicap pemurah..

Ternyata jiwaku kotor, berlumuran dosa. Hatiku hitam dan keras bagai batu-batu gunung. Ketaqwaanku rendah, dan aku tak lebih baik dari seorang pengamen gembel. Kupanjatkan doa pengampunan meski aku tahu itu sudah terlambat. Allah takkan mendengarku lagi.

Tiba-tiba namaku sekali lagi disebut dan aku harus melewati jembatan rambut itu.

Jembatan itu terbentang sangat panjang. Ketika aku bersiap melangkah, jembatan rambut itu serasa selebar satu meter padahal mataku melaporkan bahwa jembatan itu hampir tak terlihat karena tipisnya. Aku lega, pastinya tak akan sulit bila lebarnya satu meter. Aku melangkah dengan yakin dan setengah malu atas dosa-dosaku. Angin neraka yang panas dan menyesakkan dada menghembus angkuh, membuatku bergoyang-goyang. Makin lama aku berjalan jembatan itu semakin menyempit dan akhirnya hanya selebar satu jengkal. Aku jadi takut dan tegang. Aku harus berusaha menjaga keseimbangan untuk setiap langkah sementara neraka bergejolak di bawahku. Tiba-tiba aku terpeleset dan terjatuh. Tetapi tanganku berhasil menggenggam jembatan yang semakin tipis itu.

Jadilah aku bergelantungan menyedihkan.

Semakin tipis jembatan itu semakin mengiris tanganku. Aku kesakitan dan berteriak-teriak minta tolong kendati pun aku sadar tidak ada yang bisa menolongku sekarang. Ujung-ujung kakiku sudah hampir melepuh oleh api neraka.

Akhirnya aku melepas peganganku dan aku terjatuh, merasakan betapa panasnya api neraka menjilati tubuhku.

Tiba-tiba aku terbangun dan merasakan wajahku basah dan dingin. Sepasang tangan menjawil hidungku serta menepuk-nepuk pipiku. Ketika aku memicingkan mata, seseorang sedang bersiap-siap mengoleskan balsem di hidungku.

“Istigfar, Jay, istigfar…” katanya.

Ternyata banyak pula yang mengerumuniku. Mereka berbisik-bisik ribut sekali. Aku baru ingat kalau aku sedang diundang ikut pesantren kilat di sebuah sekolah sebagai pemberi materi untuk peserta.

Aku mimpi buruk.

“Mimpi apa kok pake teriak segala? ” tanya Reza, sahabat yang menemani undanganku.

“Habis tidurnya nggak baca doa sih…” yang lain menyahut setengah berbisik.

Mimpi apa? Ya Allah, betapa menyakitkan cara-Mu mengingatkanku akan dosa-dosaku. Dosa-dosaku, ya Allah, dosa-dosa yang sungguh sangat kotor dan mengotori. Ampunilah hamba-Mu ini, yang jiwanya berlumuran dosa-dosa hina yang selama ini terselubung. Aku mengharap ridha-Mu Aku mendambakan surga-Mu, ya Allah.

Aku benar-benar menyesalkan, betapa aku manusia yang hina dibandingkan teman-temanku di sekelilingku ini. Aku tak pantas berada di dekat mereka bahkan memanggil nama mereka pun aku tak pantas. Bisa kurasakan tubuhku gemetar seolah jasadku menolak untuk membungkus jiwaku yang busuk. Air mata mulai meleleh di ujung mataku dan aku menangis sesunggukan menyesali semuanya.

“Kok nangis? Kak Jay… ”

Mataram, 12 September 2008

Olimpiade Teknik UNUD Bali : I am Winner!

Alhamdulillah, yes…yes…yes… Hanya itu yang saya ucapkan ketika pengumuman lomba Olimpiade Teknik 2008 UNUD Bali dibacakan. Nama saya disebut pada urutan kedua pada mata lomba web desain yang berarti saya meraih juara 2. Si fraxis dapet juara 1 (dia berhak masuk Universitas Udayana tanpa tes). Kami girang sekali. Prediksi fraxis benar, kami akan menang karena script-script kami yang keren. Kami saling bantu. Fraxis memberi saya script-script yang bagus dari javascript collector, sedang saya memberinya sedikit desain yang tidak begitu bagus dan sedikit animasi flash. Tidak sia-sia kami berjuang semalaman sampai jam 12 menghafal script dan latihan menyusun layout web. Baca entri selengkapnya »

Olimpiade Teknik 2008 UNUD Bali : Web Design

pagi tadi benar-benar menegangkan. kondisi : saya diutus sekolah ke bali (mengutuskan diri) sama teman saya (frxs). ada acara olimpiade teknik 2008 yang diadakan universitas Udayana Bali. saya ikut mata lomba web design (sebenarnya nggak tahu apa-apa). alhasil 1 bulan sebelumnya saya tidak pernah belajar (pelajaran sekolah), pulang skol langsung gigit komput ngerjain web (isinya amburadul).
kami (saya dan teman saya serta seorang guru dari sekolah) berangkat ke Bali dari Mataram-NTB, Naik kapal ferry yang lambat. habis tu nungguin rombongan dari selong (lombok timur) yang katanya mau ikut juga. dari teman sya, dy bilang peserta web design ada 18 orang, otomatis saya jadi pesimis. karya saya hanya biasa-biasa saja. saya menaruh harapan pada menu flash drop down yang beda dengan peserta lain juga sedikit css dan javascript. Baca entri selengkapnya »

Cerpen : Jamaludin (bukan) Pemulung Berdasi

Ini cerpen dari teman di skul [atria hikmamaya], tulisannya mungkin jelek, tapi orangnya berbakat n sering juara lomba menulis. cerpen ini pemenang lomba menulis cerpen utk pelajar se NTB oleh UNRAM…met baca

Jamaludin masih mengais-ngais tumpukan sampah yang merupakan tempat kerjanya sehari-hari. Dimana ada tumpukan sampah, disitulah mengucur uang yang bisa dipergunakan Jamaludin untuk membuat perutnya tidak selalu meneriaki dirinya. Umurnya mash sangat muda, sebenarnya ia harus merasakan masa remaja yang normal, tetapi kedaan terus memaksanya untuk terus melaksanakan pekerjaan ini.
Jamaludin adalah anak tunggal dari keluarga yang sangat berkekurangan. Dua tahun yang lalu ayahnya meninggal karena hanyaut disungai, setahun yang lalu ibunya meninggal karena ditabrak oleh sedan pejabat. Dan pejabat itu hanya memberikan uang sebesar seratus ribu. Jamaludin tak bisa menuntut seorang pejabat, ia tahu diri bahwa ia tak mungkin akan didengar.
Orang tuanya hanya mewarisinya sebuah gubuk triplek tipis yang pasti akan hancur bila badai datang. Jamaludin ingin pindah ke bawah kolong jembatan, tetapi ia urungkan niatnya, ia tak sampai hati meninggalkan warisan orang tuanya.
Hari ini jamaludin sepertinya sangat beruntung. Ia banyak sekali mengumpulkan plastik dan kardus. Jamaludin tak sampai petang lagi untuk membuat keranjang bambunya penuh. Hari waktu istirahatnya lebih banyak dari hari-hari sebelumnya.
Bebrapa uang ribuan sepertinya sangat senang untuk memasuki kantong celana buluk jamaludin. Hari ini jamaludin berpikir bahwan Tuhan sangat menyayanginya. Bukannya jamaludin tak pernah berpikir seperti itu, tetapi hari ini ia sangat berterima kasih pada Tuhan.
Di dalam gubuknya, jamaludin memasukan dua uang kertas ke dalam bambu yang sudah ia juga tak tahu uang itu akan di pergunakan untuk apa, yang jelas pasti akan beguna kelak.
Hari ini tumben sekali jamaludin ingin membeli es sirup. Segera ia keluar dari gubuknya dan berjalan menuju SMP yang berada lima ratus meter dari perkampungan gubuknya.terlihat para pedagang kaki lima menjajakkan dagangannya di seberang SMP itu. SMP itu termaksud SMP elit yang murid-muridnya orang berada.
Jamaludin lalu menghampiri seorang pedagang es, ia lalu membeli secangkir es doger, ketika ia meneguknya, dahaganya langsung sirna begitu saja. Apakah ada makanan yang nikmat selain es ini? Tanya jamaludin dalam hati.
“ dek, abang mau beli gula dulu ya, di toko ujung jalan itu. Abang mau minta tolong , jagain dagangan abang. Sebentar lagi anak-anak sekolah pulang, pasti rame, tolong ya dek”, ujar abang penjual es doger ini.
“oh , iya bang. Silahkan aja” ujar jamaludin. Abang itu langsung berlari menuju toko.
Belum lima menit, anak-anak sekolah langsung berhamburan keluar dari pintu gerbang. Mereka langsung menuju para pedagang kaki lima yang berada di seberang jalan. Jamaludin merasa heran, mengapa anak- anak para penghasil banyak uang ini mau membeli jajanan yang berada di seberang jalan begini.
“lho,? Bukan abang yang biasanya? Anaknya ya?” tanya seorang siswi berwajah manis.
“bukan, tadi si abang pergi beli guladi toko ujung jalan sana, jadi saya yang jaga sementaara dagangannya” jawab jamaludin.
“ oh gitu, aku beli satu bungkus, nih uangnya, kembaliannya ambil aja” ujar siswi itu sambil menyodorkan uang kertas lima ribu.
“lho kok gitu, ? apa kamu gak mau uang kembaliannya yang ribu-ribuan?” tanya jamaludin polos. Siswi itu tersenyum.
Lalu anak-anak yang lain menghampiri jamaludin untuk membeli es. Siswi itu lalu masuk ke sebuah sedan. Jamaludin masih tidak mengerti. Tetapi ia akhirnya melayani para siswa- siswi yang sudah tidak tahan lagi untuk melumat es doger dengan gigi geraham mereka.
Abang penjual es doger belum juga kembali. Selama dua jam jamaludin melayani para pembeli yang tidak hanya siswa saja, melainkan guru-guru juga. Ternyata es doger milik si abang laku keras. Akhirnya setelah semua pembeli mendapat es dogernya masing-masing, jamaludin bisa istirahat.
Tiba-tiba si abang menepuk pundaknya dari belakang.
“gimana? Maaf ya abang lama datangnya . gula sekarang mahal, jadi abang beli gula merah di pasar,” ujar si abang lalu duduk disamping jamaludin.
“ ga apa-apa ko bang, ini uangnya . laku keras bang. Oh, ya ada cewek tadi yang gak mau diberi kembalian, ini uang lima ribunya’” jamaludin menyerahkan semua hasil penjualan es dogernya.
“ Oh neng shanty. Dia memang suka begitu, dia anaknya baik hati. Oh ya, kok kamu ndak sekolah, umur kamu berapa? Tanya abang penjual es.
“Umur saya 15 tahun Bang.saya gak punya biaya untuk sekolah, saya jadi pemulung.Biaya sekolah juga makin mahal , kalau saya sekolah, saya makan pake apa?” ujar Jamalaudin lirih, ditatapnya SMP yang berada diseberangnya.
“Iya dek anak Abang aja yang masih SD, biaya sekolahnya sampai satu jutaan.Terpaksa minjem sana sini, uang pembangunan, uang buku, uang seragam, pokoknya ada aja alasannya untuk nyekik orang kecil kayak kita.Oh ya, ini Abang kasi buat kamu, sebagai terima kasih Abang yang udah dibantu,” Abang lalu menyerahkan selembar uang kertas berwarna hijau.
“Gak usah Bang, saya hari ini juga sudah dapat rejeki.Alloh maha mengetahui kesusahan hambanya.ini cuma cobaan.Saya permisi dulu Bang,”Jamaludin lalu dengan cepat pergi dari hadapan si Abang.
Meringis hati jamaludin ketika ia membayangkan dirinya mengambil uang yang diberikan si abang. Padahal abang pasti sangat kesusahan menghidupi anak istrinya.
Jamaludin berjalan menuju gubuknya. Ia lalu melihat orang –orang ramai di gubuk pak soleh, tetangganya, ia lalu berjalan mendekati keramaian itu.
“Ada apa mas?” tanya jamaludin pada seorang tetangganya, Mas Karjo.
“ Aduh nak, istrinya Pak Soleh bunuh diri! Dia minum obat nyamuk!” ujar Mas Karjo.
“Astagfirulloh! Kenapa dia bunuh diri?” tanya jamaludin.
“ Biasa nak,masalah ekonomi. Kemarin anak sulung pak soleh minta uang untuk bayar sekkolah. Uang sekolahnya mencapai jutaan, pak soleh sudah pinjem sana sini, tapi belum juga cukup. Istri pak soleh tidak tahan lagi, akhirnya ia bunuh diri”, cerita Mas Karjo.
Jamaludin lalu kembali ke gubuknya, disana ia duduk merenung,Apakah pendidikan begitu mahal? Hingga nyawa tak seberapa harganya di mata pendidikan ?Jamludin sebenarnya ingin sekali mengenyam bangku pendidikan. Ia pernah sekolah, tetapi hanya sampai kelas dua SD. Mengapa hari ini ia melihat dampak mahalnya biaya pendidikan bagi rakyat kecil?.
Ia pernah mendengar ada dana BOS ( Bantuaan Operasional Sekolah), tetapi apakah itu tetap tidak dapat meringankan beban para rakyat miskin? Apakah pendidikan adalah sesuatu yang begitu mahal dan hanya ada di dalam angan-anagannya saja? Apakah rakyat yang tak punya apa- apa tak punya hak untuk mencicipi nikmatnya ilmu?
Jamaludin terus merenung. Hatinya geram, entah dengan siapa, yang jelas ia ingin memperbaiki keadaan. Ia terus merenung hingga kepalanya terasa berat, dan akhirnya ia tertidur.

***
Jenazah istri pak soleh sudah dikuburkan. Pak soleh memberikan amplop kepada Jamaludin karena sudah membantu, tetapi ia menolak, pak soleh lebih membutuhkan dari pada dirinya.
Mengapa orang seperti Pak Soleh dan si abang begitu baik? Mau membereikan sedikit harta mereka kepada orang lain? Mengapa orang-orang besar tidak melakukan apa yang dilakukan Pak Soleh dan si Abang?.
Esoknya, Jamaludin kembali melakukan rutinitasnya. Ia mengais-ngais tumpukan sampah yang berada di belakang SMP elit itu. Matahari sepertinya menunjukkan jam sembilan. Tiba- tiba ada suara benda jatuh dari atas pagar tenbok SMP.
Ternyata dua buah tas yang sepertinya berlabel mahal telah tejun bebas. Lalu, dua orang anak berseragam memanjat keluar. Mereka melihat Jamaludin yang juga melihat mereka.
“ kalian sedang apa?” tanya jamaludin.
“bolos, gak usah ikut campur gembel”,ujar seorang anak laki-laki.
“ lho, kalian sudah disekolahkan mahal-mahal, tapi kok malah bolos? Kasihan orang tua kalian,” ujar Jamaludin dengan wajah yang ingin menangis.
“ Diam pemulung!ayo, kita sekarang ke pangkalan biasa,” ujar yang seorang lagi. Mereka lalu berlari dengan cepatnya.
Jamaludin lalu menitikkan air mata,. Apa ini yang disenbut keadilan? Kemarin, istri Pak Soleh bunuh diri karena biaya pendidikan yang begitu mahal. Sekarang, ada anak-anak yang tak menghargai mahalnya biaya pendidikan itu.mengapa orang-oarang yang seperti mereka yang mendapat kursi dibangku sekolah.?
Tetapi Jamludin meneruskan pekerjaannya. Ia lalu berjalan kedepan sekolah dan mengais lagi bak sampah besar yang berada di samping gerbang sekolah. Ia melihat kesebrang jalan, berharap ada abang es doger, tetapi ternyata ia tak menemukannya.
Jamaludin terus mengais rejekinya. Ia berjalan menjauhi sekolah itu, mencari tumpukan sampah yang lebih banyak memberikannya uang.
Matahari sudah berada diatas kepala. Jamaludin ingin pulang ke gubuknnya. Dilewatinya SMP elit itu. Ternyata sudah jam pulang. Dan tiba-tiba, ia bertemu dengan siswi yang bernama Shanty itu.
“Hai, lho, ko kamu gak jualan es?”sapa siswi itu.
“Saya bukan penjual es,saya pemulung.saya sudah bilang waktu itu saya cuma bantu-bantu abang jualan es,” jawab Jamaludin malu.
“Oh gitu, namaku Shanty, nama kamu siapa?”,ia menjulurkan tangannya
“nama saya Jamaludin. Maaf tangan saya kotor dan bau” ujar Jamaludin sangat malu.
Tetapi tiba-tiba ,sebuah mobil dan sang supir langsung membantintg setir mobil. Akibatnya mobil berjalan dengan kecepatan penuh menuju Jamaludin dan Shanty. Jamaludin langsung mendorong shanty dan ia juga dengan cepat mendorong dirinya. Akibatnya mobil itu hanya menabrak tembok pagar sekolah.
Sang sopir pingsan dan langsung dibawa kerumah sakit oleh guru-guru SMP itu. Sedangkan Jamaludin dan Shanty hanya lecet-lecet. Sebuah sedan langsung berhenti dan keluarlah seorang yang necis dengan jas dan dasi. Ia terkihat rapi dan berwibawa. Ia lalu mendekati Shanty dan Jamaludin.
“Shanty, kamu tidak apa-apa?” ujar pria itu.
“ Tidak pa. Ada Jamaludin yang menolongku tadi” jawab Shanty.
“ Mana orangnya? Biar papa ucapkan terima kasih” ujar lelaki itu. Shanty lalu menunjuk Jamalludin yang berada di sampingnya.
“ Apa ! Orang kumuh ini? Shanty, kamu jangan bercanda!papa tidak akan mengucapkan terima kasih pada gembel! Ayo pulang!” Lelaki itu langsung menarik tangan Shanty dan masuk kedalam mobil sedan.
Jamaludin hanya dapat menahan hinaan yang ia dapatkan tadi. Tak apa baginya, ini sudah biasa, ini adalah cobaan hidup. Tuhan masih menyayanginya, ujarnya dalam hatinya.

***
Jamaludin merasa tabungan bambunya kini sudah sangat berat. Apakah ini waktunya untuk menghitung hasil keringat yang disisihkan selama setahun lebih? Tetapi dia mengurungkan niatnya.
Jamaludin menggaruk-garuk bak sampah besar yang ada disamping gerbang SMP. Hari ini sepertinya lumayan baginya. Tetapi tiba-tiba gerbang terbuka dam ia melihat shanty berlari kearah jalan. Dan dengan cepat kejadian itu terjadi.
Teruk pengangkut semen itu bagaikan telapak tangan yang menepuk seekor nyamuk hingga tubuhnya tak terbentuk lagi. Jamaludin dengan cepat berlari kearah shanty yang badannya remuk dan banyak mengeluarkan cairan berkilau yang berwarna merah, darah.
Ayah shanty dan guru-guru tiba di lokasi penabrakan. Dilihatnya tubuh anaknya sudah tidak bernayawa, dan ia lemas sehingga rela pakaian mahalnya menyentuh aspal jalan yang panas dan dipenuhi debu. Dan ia menangis sejadi-jadinya.
Jamaludin hanya menghela nafas. Kematian begitu sering ia jumpai, hingga tak ada lagi air mata untuk kematian, tak ada lagi rasa duka yang amat sangat untuk dipersmbahkan ke sesuatu yang benama duka kehilangan.
Esoknya Jamaludin menemukan koran yang dibuang oleh seorang ibu ketempat sampah. Dikoran itu tertulis tertabraknya siswi SMP yang bernama shanty. Ternyata pada awktu itu shanty berlari keluar karena tidak ingin mengikuti suruhan ayahnya yang akan menyekolahkannya keluar negeri setelah lulus SMP. Ayahnya tetap memaksa, sehingga Shanty berlari keluaar sekolah.
“Lagi-lagi soal pendidikan, nyawa melayang”, ujar Mas Karjo yang juga ikut membaca koran itu. Kali ini Jamaludin besama Mas Karjo menjadi tukang semir sepatu.Jamaludin ditawari oleh seorang teman Mas Karjo, dan iapun ingin mencoba hal yang baru.
“Kenapa ya Mas, kok pendidikan terus barmasalah. Mau meningkatkan kualitas rakyat, malah nyawa terbang. Saya bingung?” ujar Jamaludin.
“Udahlah, kamu ngakusah pikirin itu. Kita ini lebih baik mikirin gimana cara kita makan besok! Pendidikan gratis itu sangat mustahil kalau masih ada pemulung berdasi di gedung-gedung mewah itu!” jawab mas karjo.
“Pemulung berdasi? Maksudnya?” tanya Jamaludin.
“Ya orang-orang yang mulung uang rakyat,” jawab Mas Karjo singkat.
Jamaludin lalu mengais tempat sampah yang tadi. Ia mengingat kalau ia melihat sebuah dasi kupu-kupu yang sudah robek di bagian sebelah kanan. Ia sematkan di leher bajunya yang kumal. Ia berkacak pinggang.
“Saya pikir, saya lebih baik daripada mereka mas. Saya sudah sepuluh tahun menjadi pemulung, sedangkan mereka pasti dua atau tiga tahun. Saya tidak pernah melihat pejabat pakai dasi kupu-kupu seperti ini!”ujar Jamaludin percaya diri.
Mas Karyo hanya senyum-senyum sendiri. diam-diam ia membuat puisi untuk di kirim ke penerbit.

Jamaludin seorang pemulung, ingin sekolah.
Jamaludin seorang pemulung, mau sekolah.
Jamaludin seorang pemulung, butuh biaya sekolah.
Jamaludin butuh biaya sekolah, tapi mahal.
Jamaludin ingin sekolah, tapi mahal.
Jamaludin mau sekolah, tapi mahal.

Adakah Jamaludin yang lain? Atau, adakah korban-korban yang lain? Yang nyawanya terenggut karena mahalnya pendidikan? Apakah pendidikan hanyalah kamuflase untuk mencari duniawi? Jamaludin sangat berharap jawabannya tidak! . Ia tak ingin lagi hal yang serupa terus terulang. Dan kelak, semoga jamaludin tidak menjadi’ pemulung berdasi’