Cerpen : Dialog Cermin

Sang nyonya sudah tidak sabar. Kakinya yang mungil tergesa-gesa. Selop tebal yang dipakainya menimbulkan bunyi gelisah. Tangannya mengobrak-abrik tumpukan pakaian di atas dipannya yang empuk dan tinggi. Tumpukan pakaian itu adalah gaun-gaun dari suaminya, dihadiahkan sebuah setiap ia ulang tahun. Dan kini ia sudah punya belasan. Ia sudah tidak muda lagi namun masih sangat cantik dan ia merasa masih pantas memakai gaun-gaun itu.

Malam ini malam istimewa karena giliran suaminya yang berulang tahun dan ia harus memilah-milah gaun terbaik untuk dipakai. Terdengar suara tawa di seberang ruangan dan si nyonya berdiri tegak, menoleh kanan kiri. Sedikit berjingkat ia mendekati cermin di dinding. Cermin berbingkai kayu itu begitu tinggi dan cukup untuk melihat keseluruhan dirinya dari kaki sampai ujung rambut. Ditatapnya dirinya dalam cermin itu, begitu cantik dan menawan. Ia memiringkan kepala dan mencoba tersenyum. Suara tawa itu terdengar lagi dan sang nyonya terkejut.

“Siapa itu?”

“Cermin, nyonya.”

Si nyonya tersenyum. Dilepasnya ikatan rambut dan rambutnya terurai ke bawah. Ia memiringkan kepalanya lagi.

“Oo Cermin di dinding, siapakah wanita paling cantik di dunia ini?”

“Semua wanita cantik nyonya,”

“Kamu berbohong lagi.”

“Tidak, nyonya.”

“Ini seperti dongeng.”

“Begitulah, nyonya”

“Hmm…Bagaimana dengan gaun ini?” tanya nyonya ceria.

“Jelek, Nyonya. Saya lebih suka dengan yang nyonya pakai tahun lalu.”

“Oh, yang itu sudah sobek, tersangkut pagar.”

“Tapi yang ini jelek, nyonya.”

“Baiklah”

Si nyonya mengganti gaunnya dan kembali mematut diri di depan cermin.

“Yang ini?”

“Bagus, nyonya. Sangat bagus.”

Sang nyonya tersenyum dan memiringkan kepalanya lagi. Ia lihat dirinya begitu sempurna dan ia merasa bersyukur. Kerutan di wajahnya tidak menutupi bahwa ia dulunya sangat cantik. Dan masih seperti itu sekarang. Sang nyonya mengelus cermin, meninggalkan noda berminyak di cermin yang bening.

“Apa dia akan memuji, cermin?”

“Siapa nyonya?”

“Suamiku.”

Cermin tak menjawab. Sang nyonya menempelkan telinga dan pipinya ke cermin.

“Cermin?”

“Ya?”

“Apa dia akan memujiku?”

“Ehm. M-mungkin, nyonya…”

“Kenapa mungkin?” tanya si nyonya seraya melepaskan pipinya dari permukaan cermin. Terasa lengket dan noda minyak wajah tertinggal di sana.

“Saya mencintai suami saya.”

“Saya tahu, nyonya.”

“Suami saya mencintai saya”

“Saya juga tahu, nyonya”

“Lalu, kenapa mungkin?”

“Karena suami nyonya tak seperti yang nyonya bayangkan.”

Si nyonya tersenyum, “Apa yang dia sembunyikan dariku?” si nyonya menyisir rambutnya dengan tangannya, “Tidak ada, cermin, tidak ada yang dia sembunyikan dariku”.

Cermin tak menjawab, hanya bergetar pelan. Si nyonya mundur beberapa langkah. Ia melepas gaunnya dan memakai daster yang biasa. Dengan tampang cemberut, ia duduk di atas dipan.

“Kenapa nyonya melepas gaun itu? Gaun itu indah, nyonya”

“Tak ada gunanya”

“Sebentar lagi suami nyonya ulang tahun”

“Tapi dia sudah tidak mencintaiku”

“Dia masih punya rasa cinta itu, nyonya, meski sebagian”

“Apa yang tak kuketahui tentang suamiku, cermin?”

“Banyak,”

“Jelaskan,” pinta si nyonya.

“Dia tukang khianat.”

Si nyonya mencoba tersenyum, “Berkhianat kepada siapa?”

“Kepada siapa saja”

“Kepadaku juga?”

“Mungkin”

“Kenapa mungkin?”

“Kenapa nyonya bertanya begitu?”

“Saya tidak suka kata mungkin”

“Ya, dia juga berkhianat kepada nyonya”

Sang nyonya mencoba tersenyum.

“Kenapa nyonya tersenyum? Tidakkah nyonya marah mendengar ini?”

“Kenapa harus marah, cermin? Bukankah cermin selalu berbohong? Cermin tidak pernah memantulkan bayangan sebenarnya.”

“Mengapa nyonya menganggap saya berbohong?”

“Suami saya mencintai saya”

“Saya tahu, nyonya, tapi—“

Si nyonya berdiri, membalikkan badan lalu mengumpulkan gaunnya. Ia masih merasa cermin berbohong tapi tak pernah melihat bukti bahwa cermin benar-benar bohong. Hanya saja, instingnya selalu berkata demikian. Ia selalu merasa instingnya kuat. Wanita punya kekuatan lebih pada perasaan.

Si nyonya berjalan ke lemari pakaian. Ia menjejalkan semua gaunnya di sana.

“Kenapa gaun-gaun itu dikembalikan, nyonya? Kalau nyonya menganggap saya berbohong mengapa nyonya tidak datang ke pesta suami nyonya?

Si nyonya berhenti bergerak, ia sedikit berpikir. Ia mengakui ada sebagian instingnya yang mengatakan bahwa suaminya berkhianat, ini bukan karena perkataan cermin. Perasaan ini sudah lama ia pikirkan.

“Aku akan menyiapkan makan malam, seperti biasa,” dan si nyonya berjalan ke arah pintu.

“Dia selingkuh, nyonya”

Si nyonya berhenti bergerak.

“Mengapa kamu tidak bisa berhenti berbohong, cermin? Kalau kau berbohong lagi, aku bisa memecahkanmu. Ada palu di balik lemari itu.”

` “Tapi saya tidak berbohong, nyonya.”

“Ada bukti?”

“Tidak, tapi ada saksi.”

“Siapa? Panggil dia.”

“Cermin ini sendiri saksinya. Saksi perbuatan khianat suami nyonya. Ia pantulkan apa yang terjadi di atas dipan itu, nyonya.”

“Saya tidak melihat. Dipan itu kosong,” kata si nyonya seraya pura-pura mengintip ke dipan melalui pantulan cermin. Ia menjinjitkan kakinya seperti penari balet dan berputar di depan cermin sambil membentangkan tangannya.

“Mengapa ia harus berkhianat, cermin? Aku selalu cukup untuknya.” Tanya nyonya sambil tersenyum sinis.

“Lelaki tidak pernah puas nyonya”

“Jangan panggil ia lelaki, itu penghinaan. Dia malaikat, cermin, bukan lelaki bukan perempuan. Sempurna.”

“Tapi dia lelaki hidung belang”

Vas bunga itu melayang dan membuat cermin retak pada sudut kanan atas. Cermin menjerit.

Si nyonya tersenyum dan mengambil palu di balik lemari. Ia berdiri di depan cermin yang retak sambil memiringkan kepalanya.

“Berbohonglah lagi dan pecahanmu tak ada yang lebih besar dari telapak tanganku.”

“Nyonya jahat.”

“Tukang fitnah lebih jahat.”

“Sudah banyak wanita dibawa ke kamar ini oleh tuan besar.”

Cermin dinding itu pecah ladi tepat di tengah, pecahan yang kecil berserakan di lantai yang kemilau. Sebagian besar masih menempel di dinding.

“Kau tak takut mati, cermin?”

“Tidak”

“Pecah berarti mati”

“Cermin tidak bisa mati, nyonya”

“Oh, sebentar lagi. Sabarlah. Berbohonglah lagi, semua pasti lebih cepat.”

“Saya tidak akan berbohong, nyonya. Saya mengatakan kebenaran.”

“Itu satu lagi kebohongan. Apapun yang kau katakan adalah bohong, juga tentang gaun itu.”

“Terserah nyonya. Tuan besar, suami nyonya, punya empat istri simpanan.”

“Kamu berbohong”

“Tidak”

“Bohong”

“Tidak”

“Bohong”

“Kenapa tidak pecahkan saya, nyonya?”

Si nyonya menjatuhkan palunya, ia jatuh berlutut.

“Kalau begitu, aku memang tak banyak berguna,” keluhnya, tangannya meraba-raba lantai dan meraih satu pecahan kaca yang lancip, “Sudah lama kuduga, tapi aku tak bisa terima, cermin. Aku bersikap seperti biasa. Tidakkah kau berbohong, cermin?”

“Saya tidak berbohong. Tapi, letakkan pecahan itu, nyonya.”

“Ini untuk bunuh diri, cermin. Bunuh diri.”

“Saya tahu, nyonya. Tapi itu tak ada gunanya…”

“Bagaimana respon suamiku jika ia melihatku mati di depanmu?”

“Dia pasti sedih sekali, nyonya.”

“Tidak. Dia pasti senang sekali, menguburku secepat ia bisa, lalu meninggalkan rumah ini.”

“Nyonya, meski Tuan besar selingkuh, ia masih mencintai nyonya. Ia lakukan itu hanya sebagai hiburan.”

“Hiburan?”

“Ya, nyonya?

“Tak cukupkah aku sebagai hiburannya?”

“Lelaki tidak pernah merasa cukup, nyonya.”

“Oh, baiklah. Dia memang lelaki. Bukan malaikat seperti sangkaanku. Tak apalah, toh aku akan pergi sebentar lagi”

“Kemana, nyonya?”

“Tentu saja mati, cermin. Mau kemana kau jika apa yang kau harapkan menghilang, atau tak sesuai dengan kenyataan?”

“Saya tak akan kemana-mana, nyonya. Saya tetap di sini.”

“Bagus,” si nyonya mengiris urat pergelangannya dan merintih. Akhirnya terjatuh lemas.

Namun ia bangkit lagi dan menyapa cermin.

“Pagi, cermin. Oh, mengapa aku tertidur di sini?”

Tak ada yang menjawab. Cermin di dinding sudah rapikan dengan selotip di sana-sini.

“Cermin”

“Ya, nyonya?”

“Siapa yang merapikan dirimu?”

“Tuan Besar, nyonya.”

“Oh, dia baik sekali.”

“Bagaimana wajahku pagi ini? Tapi—“

Si nyonya menyadari bahwa bayangannya tidak ada di cermin. Ia bangkit dan menyentuh cermin.

“Cermin, mengapa kau tidak memantulkan diriku?”

“Sudah, nyonya. Saya memantulkan apapun yang berada di depan saya”

“Tapi aku tak melihat apapun.”

“Bukankah nyonya sudah mati?”

“Mati? Kapan?”

“Berhari-hari yang lalu.”

“Oh ya. Aku ingat.”

“Bagus, nyonya. Ingatan nyonya masih sehat.”

“Dimana suamiku sekarang?”

“Pindah, nyonya. Pindah rumah. Ia beli rumah baru di kota. Rumah ini kosong nyonya. Hanya kita berdua.”

“Tapi aku sudah mati, jadi tinggal kau sendiri, kan?”

“Memang,”

“Ternyata aku benar, ia tinggalkan aku, tinggalkan rumah ini. Ia adalah lelaki”

“Tapi nyonya, tuan besar menyesal ketika melihat nyonya mati. Ia menangis, nyonya”

“Benarkah?”

“Benar.”

“Kurasa aku percaya, cermin”

“Secepat itukah?”

“Yah, instingku bilang begitu.”, kata si nyonya sambil memiringkan kepalanya. Matanya berusaha mencari bayangan dirinya yang memang tidak ada.

“Aku mau menyiapkan makan malam, seperti biasa”

“Rumah ini kosong, nyonya”

“Oh ya, aku lupa”

“Tidurlah nyonya, sudah larut malam”

“Baiklah, aku tidur”

Si nyonya berjalan ke arah dipan, menepuk seprai yang berdebu, lalu berbaring di atasnya. Esok paginya ia tidak bangun karena ia memang tak ada di sana.

4 Responses to “Cerpen : Dialog Cermin”


  1. 1 Felcia 10 September 2009 pukul 1:07 PM

    heeeeeeeeee……………………..

  2. 2 piko 10 September 2009 pukul 1:10 PM

    😀
    jadi semangat nulis lagi setelah ada komen…

  3. 3 ahmad faisal 23 Agustus 2010 pukul 12:02 PM

    wewew


  1. 1 Cerita Seru - Sang Primadona (2) | Sang Primadona Lacak balik pada 30 November 2008 pukul 7:54 AM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




This blog has been discontinued. All the contents, and new posts can be found at blog.pdft.net
Indonesia Linux Conference 2011

stats

SEO Stats powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

hits

  • 316,687 hits


This blog is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 3.0 Unported License.
pejuang mimpi tak ingkar janji

%d blogger menyukai ini: