Cerpen : Ustadz Jamil

Hari ini terasa panjang sekali dan sang surya sepertinya enggan untuk bergerak ke barat lebih cepat. Hawa panas bak udara sahara menyelinap ke setiap tempat bahkan sampai di balik kaos singletku. Membuat tubuh yang tadinya segar karena dibasuh mandi menjadi bau dan sumpek. Pakaianku menjadi lengket dengan kulit. Peluh keringat memenuhi wajahku dan sesekali aku menelan ludah hampir-hampir tak bisa bernafas. Mataku nanar menatap buah mangga matang yang menggantung anggun di tangkai pohon di luar. Benar-benar keadaan yang tepat untuk menyiksa orang yang sedang berpuasa.

Aku dan kedua temanku, Nugi dan Akin, sedang tidur-tiduran di masjid, menempelkan pipi-pipi kami ke lantai putih yang dingin agar sedikit sejuk.. Bukannya menjadikan masjid sebagai tempat tongkrongan, tapi kami sedang menunggu kedatangan Ustadz Jamil yang notabene adalah orang yang dihormati di kampungku. Kami di sini orang-orang terpilih, kata Ustadz, karena mampu mengalihkan waktu yang seharusnya kami gunakan untuk tidur pulas di rumah menjadi waktu yang bermanfaat untuk menuntut ilmu yang mahal. Ya, kami juga bersyukur karena merasa diberi hidayah. Kami bukan seperti kebanyakan anak muda sekarang, kami berbeda, meski kami juga tidak begitu shaleh karena Akin orangnya nakal betul. Itu sedikit merusak klasifikasi untuk kami. Yah, hari ini kami akan kajian gratis dengan Ustadz Jamil sampai azan magrib berkumandang

“Assalamualaikum.”

“Kumsalam,” jawab kami bertiga.

Ustadz Jamil akhirnya datang. Di tangan kanannya ada mushaf yang kecil sekali. Pecinya putih abu kusam. Jenggotnya bergoyang manja ditiup angin sepoi. Wajahnya putih bersih, tua, dan teduh. Celana panjangnya menggantung di atas mata kaki. Ia memakai kaos oblong warna putih. Ada tulisan sablon berwarna merah di punggungnya.

BAGI DIN INI KAMI MENJADI PEJUANG SEJATI

HINGGA DIN INI KEMBALI MULIA

ATAU DARAH TERAKHIR KAMI MENETES.

Benar-benar idealis, pikirku.

“Maaf, saya jadi terlambat. Jadi kajiannya kan?”

“Yah, nggak papa, Ustadz. Gantian. Kan kemarin kita yang telat,” kata Akin dan Ustadz pun tersenyum. Senyum yang syahdu.

Akhirnya ia memulai kajiannya, membahas tentang makhroj huruf Al Qur’an. Kami memandangi lekat-lekat Qur’an kami masing-masing. Tapi ini berjalan membosankan karena kami harus mengucapkan huruf-huruf hijayah sampai benar dan itu harus berpuluh-puluh kali. Kami jadi cepat haus. Berbeda dengan hari kemarin saat membahas Ghazwul Fikr. Kami kagum karena waktu itu Ustadz membeberkan fakta-fakta betapa perang pemikiran atau ideologi itu sudah merusak umat Islam sampai ke akar-akarnya. Akhirnya Nugi mengeluh.

“Ustadz, kalo gini terus jadi cepat haus. Memangnya nggak ada materi lain?”

“Nggak juga, kok,” tiba-tiba Ustadz Jamil berubah genit. Ini suara yang lain dari biasanya, suara yang berat namun ada unsur feminim yang kuat. Senyumnya menawan dan lidahnya menjilat-jilat bibirnya sendiri. Dengan tiba-tiba ia menyentuh dan mengelus tangan Nugi sementara Nugi hanya bisa melongo.

Apaan ini? Aku pun terperanjat melihatnya. Ustadz kok jadi begini? Sama seperti Nugi, aku hanya memandangi Ustadz dengan takjub. Lain Akin, ia memasang tampang mau muntah setengah senyum, tangannya bersedekap di perut.

“Ustadz…” tegurku.

“Ya, kenapa? Lu kok kaget sih? Imut-imut deh,” kata Ustadz sambil tersenyum, tingkah lakunya mirip banci kelas kakap. Kini ia menggenggam tangan Nugi dan menariknya. Nugi malah misuh-misuh dan mau menghindar. Ia terlihat takut sekali.

“Nugi kok gitu? Nggak mau ya sama Mbak?”

Aku beristigfar sambil tertawa. Sedetik kemudian aku panik namun sedetik lagi aku ingin tertawa lagi. Setan mana yang sedang berkunjung sehingga Ustadz Jamil berubah jadi wanita? Tapi akhirnya aku yakin kalau Ustadz lagi ada gangguan jin.

“Ustadz, sadar! Sadar!” aku membentaknya sambil mengguncangkan bahunya dengan keras.

Ustadz akhirnya terdiam dan terlihat berpikir agak lama.

“Astagfirullah hal aziim” ujarnya tiba-tiba sambil terus mengulang-ulang, “Tadi saya kenapa?”

“Ustadz jadi banci…” jawab Akin sambil tertawa, “Ustadz belajar akting di mana sih?”

Ustadz Jamil beristigfar lagi dan tiba-tiba ia menangis tersedu-sedu. Kepalanya ditundukkan dan kedua tanggannya saling meremas.

“Ustadz…Ustadz kenapa? Ntar kalo nangis puasanya batal, dong?”

Ia tak menjawab. Hanya terus menangis. Kami jadi terdiam, bahkan Akin ikut memandang dengan iba. Ia menangis lama sekali dan kami tak tahu harus bagaimana. Suaranya serak dan sesekali ia beristigfar.

“Jangan bilang sama siapa-siapa perihal tadi, saya mohon,” ucapnya tiba-tiba.

Jangan bilang siapa-siapa? Kalau ini disebarkan bakal jadi gosip paling hot. Ibu-ibu perumahan akan berkumpul lebih cepat di tempat tongkrongan tukang sayur dan memasang kode judul ‘Utadz Jamil ternyata banci’. Bila semua sudah tahu hal ini, tak ada lagi yang akan sudi Ustadz menjadi imam mereka pada saat shalat di masjid. Bisa jadi masyarakat akan mengusirnya.

Tapi itu ghibah dan membatalkan puasa. Menyebarkan aib orang lain adalah perbuatan yang keji. Kulirik kedua temanku, mereka pada mengangguk.

“Ya, kami nggak akan bilang siapa-siapa. Suer,” kataku menyakinkan, “Tapi sebenarnya tadi Ustadz kenapa?”

“Supaya kalian tahu,“ katanya sambil menghapus air matanya. “Saya dulu setengah wanita.”

“Hah?” Akin berteriak seolah-olah belum tahu, “Jadi, Ustadz benar-benar banci?”

“Bencong”

“Waria”

Aku dan Nugi melengkapi.

“Ya, saya banci tulen.”

Kami terdiam kagum. Kehidupan ini memang mengagumkan. Aku tak pernah mengira seorang Ustadz yang dihormati masyarakat ternyata dulunya adalah seorang manusia dengan gangguan jiwa yang parah. Tetapi aku menyangka Ustadz sedang berbohong.

“Tapi kenapa Ustadz bisa jadi banci?” tanyaku.

“Salah, seharusnya kamu tanya kenapa saya bisa menjadi seorang Ustadz. Masa lalu saya kelam, nak.”

“Ustadz, ceritakan. Saya mau dengar.” pinta Nugi yang masih taku-takut.

Ustadz menggeleng.

“Ustadz, cerita dong. Supaya kita tahu tentang kebenaran. Jadi kita ada niat untuk tidak mengumbar-ngumbar kalau Ustadz bencong.” Akin mendesak.

Akhirnya Ustadz Jamil mengalah, ia mulai bercerita.

“Masa kecil saya kurang bahagia. Saya tiga bersaudara. Dua yang lain perempuan dan saya bungsu. Saya ingat waktu itu, saya sering disiksa Abi saya karena hanya mau main dengan anak perempuan. Saya lebih senang menyentuh boneka dan bola bekel dari pada bermain layang-layang atau sepak bola. Waktu itu saya benar-benar perempuan, maksud saya jiwa saya benar-benar perempuan. Saya adalah perempuan meski tubuh saya secara biologis adalah laki-laki. Anu saya laki-laki—“

Akin tertawa kecil. Aku menjewernya supaya diam.

Aku melamun membayangkan masa kecil Ustadz.

“Kalau main sama anak itu lagi,lihat!” hardik seorang pria bercambang dan sangar. Dia ayah Ustadz Jamil. “Lihat! Paku panas ini bakal tak tusuk ke mulutmu. Kamu anak laki-laki. Besar mau jadi banci kamu? Mainannya itu ya ini, robot, mobil-mobilan, sepak bola. Apa gunanya saya beli semua ini? Hah! Tinggalkan, tinggalkan boneka itu!”

Sementara Jamil kecil sedang meringkuk di pojok ruangan. Ia menangis. Mulutnya belepotan lipstik warna ungu. Di tangannya tergenggam boneka panda yang lucu. Tapi tampang panda itu sedih sekali, seakan sedih majikannya disiksa. Jamil kecil bertahan agar boneka itu tidak berpindah tangan

“Karena merasa diri saya perempuan, saya berusaha menjadi perempuan. Saya memanjangkan rambut, pakai rok, dan bertingkah seperti perempuan. Kadang saya tidak terima dengan jasad saya ini. Saya merasa Tuhan salah perhitungan dalam menciptakan saya meski saya tahu sekarang ucapan itu salah. Waktu SMP saya hampir memotong anu—kamu tahu kan?.”

Tak hanya Akin yang tertawa, aku dan Nugi juga tertawa. Ustadz hanya tersenyum melihat respon kami. Tapi aku tidak bisa membayangkan yang satu ini.

“Tapi waktu itu saya ketahuan pihak sekolah,” lanjut Ustadz, “Saya dimasukkan ke rumah sakit khusus gangguan jiwa. Empat tahun saya ditahan di sana dan saya tidak berubah sedikit pun. Saya tetap seorang wanita. Suatu malam saya berhasil kabur dan umur saya saat itu enam belas tahun. Selanjutnya saya hidup di jalanan, jadi pengamen. Saya berusaha bertahan di bawah kerasnya kehidupan itu sampai saya dewasa. Saya tetap seorang wanita. Maya adalah nama saya waktu itu.”

Aku melamun lagi.

Ustadz Jamil sedang menyanyi. Bukan, bukan Ustadz bukan pula Maya, itu Aming. Aku tidak bisa membayangkan wajah Ustadz yang penuh jenggot sebagai orang banci.

Si Aming menyanyi di pinggir jalan. Jam menunjukkan pukul 11.00. Di tangan kanannya tergenggam gitar kecil. Wajahnya dipoles menor. Bajunya ketat seksi. Ada dua buntelan tisu di balik pakainannya. Suaranya berat, asli banci. Beberapa orang yang lewat melihat dirinya dengan tertarik tapi sejurus kemudian mengabaikan.

Judi…..judi…meracuni kehidupan

Judi…..judi…meracuni keimanan

Bohong…kalaupun kau menang

Itu awal dari kekalahan

Bohong…kalaupun kau kaya

Itu awal dari kemiskinan

Lampu merah berganti hijau dan Aming berhenti menyanyi. Lalu ia menghentikan seorang pejalan kaki. “Cucok boo’! Ih, amit-amit,” sapanya, “Sini, mas. Sama mbak…” Orang itu ketakutan seperti Nugi dan lari menghindar.

Aku tak bisa meneruskan karena suara Ustadz tiba-tiba meninggi.

“Meski saya hidup di jalanan, saya paling takut dengan HIV atau Aids, mungkin keduanya. Saya tidak tahu apa bedanya HIV dengan Aids juga tidak tahu definisinya. Yang saya tahu penyakit itu mematikan. Saya punya seorang sahabat—“

“Memangnya banci punya teman?” potong Akin.

Ustadz sedikit tersinggung. Aku tahu itu dari semburat wajahnya yang samar-samar.

“Ya, sesama banci.”

Akin mengangguk-angguk sambil nyengir.

“Namanya Indah. Nama aslinya Sakti Wibisono. Ia kena karena melakukan hubungan sesama jenis, bukan dengan saya. Setelah tahu dirinya mengidap HIV, dia tidak lagi berbuat itu. Dia mengucilkan diri dan saya selalu membesarkan hatinya. Sayalah yang selalu melindunginya kala ia disakiti teman-temannya. Sayalah yang membuatnya bertahan hidup lebih lama. Dia meninggal enam bulan setelah dinyatakan positif kena penyakit itu. Dia meninggal karena pilek berat terus-menerus, juga kanker paru-paru karena kebanyakan merokok. Virus itu membuat kita nggak bisa sembuh-sembuh.”

Ustadz kembali terisak-isak.

“Memangnya Ustadz nggak pernah melakukan…” tanyaku kurang ajar.

“Pernah,” kata Ustadz malu-malu, “Tapi nggak lagi setelah tahu dia kena itu. Dan Alhamdulillah saya negatif.”

Nugi bergidik ngeri membayangkan Ustadz sebagai orang banci. Kalau harus mengkhayalkannya secara benar maka kami harus mencukur habis janggut dan cambang Ustadz Jamil agar tahu bagaimana wajahnya tanpa itu semua. Lalu ditambah rambut palsu dan sedikit kosmetik. Tapi kami tidak berani melakukannya.

“Lima belas tahun, nak. Lima belas tahun saya hidup di jalanan sebagai orang banci. Tiga puluh dua tahun saya berjiwa wanita jika dihitung sejak lahir. Waktu yang lama, yeah? Saya takut kalian akan menyebarkan aib ini.”

“Nggak, Ustadz. Nggak bakalan. Kita kan sudah janji.” kata Nugi.

“Saya juga takut kalian kehilangan rasa hormat terhadap saya. Kalian nggak mau lagi ikut kajian setelah tahu masa lalu saya.”

Aku memandang sedih Ustadz. Memang, di sebagian sisi hati kami, kami sudah tidak lagi menghormati Ustadz Jamil begitu tahu masa lalu yang gelapnya. Tapi dia banyak berjasa dalam hidup kami bertiga. Membuat kami berbeda dengan anak-anak muda lainnya.

“Tidak, saya masih menghormati Ustadz.” kataku, “Ustadz yang ajarkan kami mengeja a ba ta. Ustadz yang selalu mengarahkan kami ke jalan yang lurus. Hanya Ustadz sendiri—kami tak masuk hitungan—yang selalu memuliakan masjid ini. Kalau nggak ada Ustadz, siapa yang azan, siapa yang memimpin jadi imam, siapa yang jadi khatib di hari Jumat? Hanya Ustdaz. Hanya Ustadz cahaya di masyarakat di sini. Masa lalu hanya masa lalu. Yang buruk dilupakan yang manis dikenang. Saya masih hormat kok sama Ustadz.”

Kedua temanku mengangguk-angguk.

“Terus, Ustadz, bagaimana Ustadz bisa jadi alim seperti sekarang?” tanya Akin.

“Ya, ya, kok bisa?” aku juga penasaran.

“Karena ada bidadari turun dari langit.” kata Ustadz sambil tersenyum.

“Hah? Banci jatuh cinta?”

“Begitulah. Saya dulu hanya jatuh cinta kepada sesama jenis. Orang-orang banci hanya jatuh cinta kepada lelaki yang bertubuh kekar dan macho. Bagi kami itu keren sekali. Kami sering menggoda para bodyguard yang menjaga pub-pub kelas atas. Kebanyakan gagal dan hanya sedikit yang berhasil, termasuk Indah. Indah memang cantik. Ia laki-laki namun jiwa dan wajahnya adalah wanita. Tapi saya nggak pernah berhasil.”

“Siapa bidadari itu Ustadz? Ade Rai?” tanya Akin

Aku tertawa tapi Ustadz Jamil cemberut.

“Bukan, bukan laki-laki. Dia mahasiswi yang cerdas.”

“Kok bisa, banci suka hati sama perempuan?”

“Bisa, sebab mahasiswi itu yang menolong saya.”

“Ceritakan, Ustadz.” pinta kami.

“Suatu malam ada razia. Hampir setiap bulan ada razia dan saya selalu lolos. Sebenarnya itu razia PSK tapi kami para banci selalu ikut disekop. Malam itu saya berhasil bersembunyi di bawah jembatan dekat sebuah masjid. Seharusnya waktu itu saya tidak bersembunyi di situ karena rentan untuk diperiksa. Tiba-tiba seorang wanita mengusir rombongan penangkap PSK itu. Dia bilang itu mengganggu tadarus yang sedang dilakukan di masjid itu dan tidak akan ada PSK yang mau mendekati masjid. Rumah suci tak akan disentuh orang-orang macam kami. Akhirnya polisi-polisi itu beranjak pergi.”

“Namun tiba-tiba ia menemukan saya sedang jongkok bersembunyi di bawah jembatan itu. Ia sempat kaget namun akhirnya tersenyum lebar. Dia membawa saya ke kamar kosnya. Saya tinggal di sana beberapa hari. Saya banyak ditanyai tentang kehidupan saya sebagai orang banci. Dia bilang dia tertarik dengan manusia macam kami dan berniat menjadikan kami sebagai bahasan utama skripsi kuliahnya.”

Aku mengkhayal.

“Peleton satu, periksa sebelah situ!”

“Siap!”

Para petugas berseragam hitam-hitam memencar ke segala arah. Mereka sangat ribut. Mengobrak-abrik sana-sini. Pada tangan kanan mereka tergenggam pentungan plastik yang keras dan di tangan kiri ada senter yang menyilaukan mata.

Namun seorang wanita berjilbab menghentikan mereka. Wanita itu tingginya sedang. Kalau saja ia tidak menggunakan jilbab, pasti sudah ditangkap karena disangka bunga malam. Ia tampak cantik di antara sorotan senter para petugas. Setelah berdialog agak lama akhirnya petugas-petugas itu menaiki truk mereka dengan kesal dan melaju pergi, mencari mangsa di tempat lain. Wanita itu menoleh kanan kiri seolah mencari sesuatu, lalu turun ke bawah jembatan dan menemukan Si Aming sedang menangis ketakutan. Wanita itu tidak takut dengan si aming karena menyangka lelaki banci tak lebih kuat dari pada seorang wanita tulen. Ia yakin si banci tak akan berani menyakitinya. Dan memang begitu kenyataannya.

Tiba-tiba wanita itu tersenyum senang, karena menemukan sesuatu yang bisa dijadikan bahan penelitian untuk kuliahnya. Karena judul skripsinya selama ini selalu ditolak dewan. Autisme, skizofernia, stres, itu sudah terlalu lazim dan klise. Ia butuh yang lain dan sekarang ia menemukannya.

“Jangan takut,” katanya lembut seolah-olah berusaha membohongi,”Polisi-polisi sudah pergi, pergi jauh.”

Si aming masih tidak percaya, ia terus mengerut ke sudut di bawah jembatan yang paling gelap dan bau. Polesan kosmetiknya rusak karena keringatnya sendiri.

Akhirnya wanita itu sendiri yang menyentuh si banci dan menariknya ke luar dari bawah situ.

“Dia kuliah di jurusan psikologi dan lulus predikat cum laude berkat ketersediaan saya untuk diwawancarai. Setelah lulus dia meminta saya tinggal di kamar kosnya selagi ia pulang ke kampung halamannya di bantul, Jogja. Satu setengah tahun saya tinggal di kamar itu dan biaya hidup dia yang menanggung. Dia sering mengunjungi saya dan berbincang-bincang tentang kehidupan. Selama kunjungannya itu dia menyembuhkan saya.”

“Menyembuhkan?”

“Ya. Dia membuat saya semakin sadar bahwa saya adalah laki-laki. Menurutnya tidak ada jiwa wanita dalam tubuh laki-laki, itu hanya gangguan jiwa. Dalam penelitiannya, dia menyimpulkan, yang membuat saya menjadi banci adalah pergaulan di masa kecil. Lebih banyak kesempatan untuk bertemu dengan teman perempuan dari pada teman laki-laki membuat saya terus seperti itu. Juga faktor keluarga. Kedua kakak saya perempuan dan saya cenderung mengikuti jejak. Pada masa-masa tinggal di kosnya itu saya mulai menemukan bagian jiwa saya yang laki-laki. Pejantan.”

Akin tertawa dan aku menjewernya lagi agar ia diam.

“Lalu dengan mengejutkan ia menyatakan cinta kepada saya dan mengajak saya menikah. Tentu saja saya kaget karena saya seorang banci dan pasti orang tuanya akan menolak jika putrinya saya nikahi. “

“Wah, ternyata banci laku juga,” ujar Akin dan aku menjewernya lebih keras.

“Tapi dia memaksa dan menyuruh saya berbohong di depan orang tuanya. Dia memberi saya waktu satu tahun lagi untuk mengubah sikap dan tingkah laku saya menjadi seorang laki-laki tulen. Dalam waktu satu tahun itu saya menemukan bahwa agamalah yang bisa menuntun saya menjadi seorang laki-laki. Saya ingat masa kecil dan tahu bahwa saya seharusnya beragama Katolik karena ibu bapak saya adalah orang Katolik. Tapi dia menuntun saya ke Islam. Begitu terkejutnya saya mengetahui bahwa Al Quran mengancam orang-orang yang berusaha menyerupai lawan jenisnya. Saya akhirnya khilaf. Nama wanita itu Maya, itu ‘nama perempuan’ saya dulu.”

“Sekarang istri Ustadz yang namanya Maya itu mana? Saya kok nggak pernah lihat?” tanyaku menyelidik.

“Dia meminta saya menceraikannya karena saya kembali ke kebodohan saya sendiri. Empat tahun setelah menikah saya kembali menjadi banci dan dia kecewa berat. Sekarang dia menikah dengan lelaki lain dan saya harap dia bahagia. Sekarang dia tinggal di Kalimantan bersama putranya, putra saya juga sih. Saya kembali kilaf dan memutuskan untuk mempelajari agama lebih dalam. Saya memutuskan pindah ke sini dan berdakwah sampai sekarang.”

Ustadz Jamil mengakhiri kisahnya dan kami terdiam. Tiba-tiba Nugi menangis.

“Lho?” kataku tapi yang lain mengabaikan.

“Kalau banci bisa khilaf, berarti cewek tomboy bisa juga dong, Ustadz?” tanya Akin.

“Ya, iyalah, Sayang. Yang itu lebih mudah kok. Ntar Mbak yang khilafin.” Kata Ustadz Jamil genit sambil mengedip-kedipkan matanya.

Nugi tertawa tapi aku yakin Ustadz tidak sedang main-main. Ia jadi banci lagi.

2 Responses to “Cerpen : Ustadz Jamil”


  1. 1 fraxis 18 November 2008 pukul 8:34 AM

    Qoute yang bener :
    “Bagi din ini kami menjadi pejuang sejati, hingga kemuliaan din ini kembali atau mengalir tetes-tetes darah kami”

  2. 2 smandamataram 18 November 2008 pukul 1:44 PM

    hmm, thx dah ingetin…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




This blog has been discontinued. All the contents, and new posts can be found at blog.pdft.net
Indonesia Linux Conference 2011

stats

SEO Stats powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

hits

  • 316,997 hits


This blog is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 3.0 Unported License.
pejuang mimpi tak ingkar janji

%d blogger menyukai ini: