Review : Laskar Pelangi The Movie

Ini pertama kalinya saya menonton film yang baru keluar dengan cara yang legal. Biasanya saya nonton dari dvd bajakan yang pinjam di teman. Tapi film ‘Laskar Pelangi’ ini saya tonton di semacam ‘bioskop. Sebenarnya bukan bioskop, cuma auditorium Universitas Mataram yang disulap di sana sini. Lembaga yang mengadakan acara adalah pihak Pertamina, lagi promosiin oli fastronnya yang lengket, sekaligus sebagai sponsor. Berapa beli tiketnya? Oh, saya dapat gratis. Tiketnya diberi oleh Wakasek kesiswaan di sekolah saya, frxs juga dapat. Kata bu wakasek, tiket ini hadiah dari dirinya pribadi untuk kami karena berhasil di olimpiade teknik di Bali. Senang bukan main memang.

Saya pergi bersama frxs. Banyak sekali orang berjubel di sana. Memang filmnya yang laris atau memang sedang malam mingguan, saya tidak tahu. Waktu masuk ke ‘bioskop’, ternyata tiketnya tidak diperiksa, begitu juga waktu keluar. Jadi tiket ini seperti nggak ada gunanya. Kalau pun saya tidak diberi tiket atau membelinya seharga 20ribuan, saya yakin bisa masuk gedung itu dengan leluasa.

Hanya membaca bukunya saja, bola mata saya jadi agak basah. Terutama nasib Lintang si genius. Dari bukunya, saya menyangka sekolah anak-anak laskar pelangi tu begitu asri meski mungkin bangunannya reyot. Detail tentang pohon-pohon yang diceritakan Andrea Hirata membuat saya menyangka sekolah itu hijau. Ternyata digambarkan gersang di filmnya, dan bahkan lebih reyot, kumuh, dan menyedihkan dari yang saya bayangkan ketika baca bukunya. Film yang digarap Riri Riza ini membuat kita tertawa terpingkal-pingkal berkali-kali, kemudian membuat mata basah. Saya tidak sadar akan perubahan itu dan pasti semua orang yang menontonnya juga tidak.

Sayangnya, seperti kebanyakan film yang diangkat dari sebuah buku bestseller, banyak bagian film yang tidak sesuai dengan cerita dibukunya dan juga dihilangkan di sana sini. Contoh lain dari hal ini adalah serial Harry Potter yang setiap versi filmnya selalu mengecewakan penggemarnya. Tapi Riri Riza berhasil membuat film ini mempunyai efek yang sama yang ada pada bukunya. Sehingga penyampaian pesan jelas sama dengan bukunya, bahwa seharusnya semua anak-anak mendapat pendidikan yang layak. Saya mengagumi film ini sebagaimana mengagumi buku dan penulisnya.

Setelah menonton filmnya, saya membaca lagi bukunya, semua terasa berbeda karena sudah dapat gambaran.

Bagaimana dengan Sang Pemimpi dan Edensor? Mampukah diterjemahkan ke dalam film tanpa menghilangkan hal-hal yang sepele? Saya jadi tidak sabar dan mengharap ada tiket gratis lagi.

0 Responses to “Review : Laskar Pelangi The Movie”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




This blog has been discontinued. All the contents, and new posts can be found at blog.pdft.net
Indonesia Linux Conference 2011

stats

SEO Stats powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

hits

  • 317,557 hits


This blog is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 3.0 Unported License.
pejuang mimpi tak ingkar janji

%d blogger menyukai ini: