Arsip untuk April, 2009

UN : Hari Keempat dan Terakhir

Geo?    Meragukan…

Ekonomi?    Apalagi…

Ah…..

*lega*

Akhirnya selese juga.

Kalo enggak lulus? (dag dig dug dag dig dug)…  Masa bodoh…

*lega lagi*

Iklan

000webhost sediakan trojan?

baru sign up ke 000webhost. tau-taunya ip_confirm.exe yang disediakan 000webhost dideteksi sebagai trojan sama avast yang baru diupdate saat itu juga. kok bisa? saya tanya sana tanya sini, ada yang bilang karena proses donlotnya korup, jadi headernya berubah seperti virus, ada yang bilang cuma bisa di donlot pake firefox, ada yang bilang 000webhost memang kurang ajar.

ah, masa bodoh… jadilah akun sama kemarin sebagai sampah di server 000webhost. cari yang lain ah…

UN : Hari Kedua dan Ketiga

Bahasa Inggris = tidak ada yang perlu dikeluhkan, kecuali mata pengawas yang jelalatan. kontrak yang sudah diteken berjalan lancar.

Matematika = ?????????????????

kayaknya enggak lulus nih  <sigh>

UN : Hari Pertama

mungkin bagi kebanyakan orang, UN adalah hal yang penting dalam hidup mereka. saya juga merasakannya ketika ujian akhir waktu SMP. tapi sekarang, kenapa pikiran itu hilang? sejak pembinaan imtaq terakhir, saya tidak bisa belajar sama sekali. seperti yang dibilang teman saya, makin mencoba tekun, makin tak karuan.

jadi, yang saya lakukan adalah tidur, kemudian bangun, pusing. saya bermain2 sedikit dengan komputer agar segar. kemudian mencoba belajar, lapar. jadi saya makan banyak biar tidak lapar. eh, malah jadi ngantuk kekenyangan. akhirnya tidur lagi. sama sekali tidak bisa belajar. saya heran, mengapa di saat genting ini muncul rasa malas yang amat sangat.

alhasil, ketika hari senin subuh, saya sadar bahwa saya sama sekali tidak belajar. rasa menyesalnya meluap2. untuk bahasa Indonesia, saya yakin bakal mudah. tapi untuk sosiologi, ah… apa mau dikata… di sosiologi terlalu banyak bermain istilah, salah satu yang kurang saya suka.

yang menjengkelkan pagi itu, celana abu-abu saya hilang tanpa jejak. saya mencari kesana kemari. mengobok2 lemari, mencari di jemuran, membongkar paksa laci meja, menguras bak mandi (eh…). tetap saja tidak ketemu. pencarian yang menyita waktu. ketika saya lihat jam, ternyata sudah pukul setengah delapan. saya berteriak keras sekali sampai-sampai ayam tetangga balas berkokok ‘eh, elu telat, bos. gue masih gelap udah bekokok’. tapi boong.

akhirnya sya memutuskan menggunakan seragam khas sekolah yang warna hijau muda dan hijau tua. setelah mandi bebek kurang dari satu menit (mungkin), saya berlari ke sekolah. tiba-tiba ada yang memanggil saya dari belakang. tiga orang guru dan satu petugas TU–dengan tampang kesal–menghampiri saya. ternyata, mereka menjemput saya karena pihak sekolah kawatir saya putus sekolah terus kawin (ya ampun… separah itu).

saya jelaskan kalau celana abu-abu saya yang lusuh itu sedang ngumpet, mereka maklum. akhirnya saya di bonceng ke sekolah, ngebut sekali. di sekolah, dengan tampang tak berdosa, saya ngeloyor masuk.

ada aturan baru, di UN kali ini. yaitu siswa tidak diperbolehkan keluar ruangan meskipun telah menyelesaikan soal, harus menunggu waktu habis. siapa pun yang pernah ujian atau ulangan harian satu ruangan dengan saya, mereka sudah tahu kalau saya selalu paling cepat selesai dan keluar ruangan, juara satu. paling banter urutan ketiga. karena menurut saya bahasa Indonesia itu gampang (ya Allah, maafkanlah hambamu yang sombong ini), saya menyelesaikan dengan cepat.

hasilnya, lebih dari satu jam saya mati kebosanan, bingung mau ngapain. periksa jawaban? sudah. mau tidur? tidak boleh. ngelirik2? apa lagi… mau bengong? ini dia, tapi nggak tahan. bantuin temen? well, bukannya sombong atau bagaimana, saya sudah memutuskan untuk tidak membantu dan tidak dibantu (kecuali waktu listening basa english).

soal membantu, saya takut memberi jawaban yang salah. meski orang lain menganggap saya mampu, saya tetap tidak bisa. kalau dibantu, kadang saya tidak bisa mempercayai siapapun. siapa yang menjamin jawabannya benar? jadi, ya kerja sendiri2.

pengawasnya? jangan harap ada kerja sama. pengawasnya dari sekolah lain, wajah mereka ramah-ramah tapi sejatinya mereka adalah laba-laba tak berperasaan. mata mereka ada delapan, setiap sudut diawasi. meski saya tidak berniat main curang, tapi mata mereka benar-benar mengganggu.

tingkat paranoidnya sudah parah. waktu ujian sosiologi saya sadar, kalau saya belum sarapan karena waktu dialih alokasikan untuk ekspedisi celana abu-abu. jadi perut saya bunyi terus. benar-benar nelangsa. belum lagi waktu ‘bengong’ yang tersedia, terasa lebih panjang.

yah….. akhirnya semua berjalan lancar, meski sedikit tersandung ketika sosiologi. besok selasa adalah bahasa inggris. saya memutuskan untuk main serong di bagian listening. saya sudah teken kontrak dengan beberapa siswa di samping depan saya. saya pikir mereka bisa dipercaya dan kemampuannya tidak begitu meragukan. ah…. sudahlah.

Lagi… Ngenet Gretongan di Halaman Rumah

Siapa sangka di halaman rumah sendiri ada access point yang tidak diproteksi? Saya tidak perlu lagi capek-capek ke XXX (yang saya ceritakan sebelumya). Hanya saja ap yang satu ini hanya aktif pada pukul 12 sampae 17.30. si frxs jadi sering-sering numpang di sini buat maling benwit dari pada dia pigi ke XXX yang rada jauh. Saya tidak bisa bercerita banyak, ntar ditau sama yang poenya.

Ini skrinsut si frxs lagi maling benwit, diambil diam2 dari cctv di dalam celana.

frxs_ngenet

Linux itu [TIDAK] Gratis!

Pernahkah Anda mendengar suatu pernyataan yang mengatakan bahwa Linux itu gratis ? Saya yakin … semua pengguna komputer, baik yang belum, sedang, akan atau telah menggunakan Linux pasti pernah mendengar pernyataan semacam ini.

Benarkah Linux itu gratis …???

It’s not about Free … it’s FREEDOM

Linux itu Free … begitu banyak pernyataan yang sering kita dengarkan. Kata Free jika diartikan dalam bahasa Indonesia ternyata mempunyai 2 arti, yaitu gratis dan bebas. Kata gratis dan bebas jelas berbeda artinya. Misalnya kata Free Sex … pernahkah Anda mengartikannya sebagai sex gratis … ? Tentu saja tidak, karena dalam hal ini free sex mempunyai arti sex bebas yang artinya jelas sangat berbeda dengan sex gratis.

Nah, sayangnya di Indonesia ternyata banyak orang lebih suka mengkaitkan Linux dengan arti kata gratis, bukannya bebas atau merdeka. Padahal … Richard Stallman – pendiri Free Software Foundation (FSF), dalam bukunya Free as in FREEDOM – mengkaitkan Linux dengan kata bebas atau merdeka, bukannya gratis.

Jadi, Linux – menurut pendiri FSF – bukanlah berbicara tentang Free (Gratis), tapi Freedom (Kebebasan).

Kesalahan tentang Linux yang terus berlanjut

Namun … entah mengapa di Indonesia kata kebebasan dan kemerdekaan ternyata lebih sulit diucapkan daripada kata gratis. Tidak mengherankan jika sampai sekarangpun masih cukup banyak penggiat Linux yang lebih suka menyebutkan Linux itu Gratis daripada Bebas atau Merdeka.

Tapi sebetulnya, sedikit banyak hal ini bisa kita mengerti … karena ternyata usaha untuk memasyarakatkan Linux di Indonesia memang bukanlah pekerjaan mudah. Banyak pengguna komputer di Indonesia yang sudah terbuai dan terlelap dengan kenyamanan penggunaan perangkat lunak bajakan dan bahkan sudah terikat erat pada belenggu perangkat lunak seperti halnya pecandu rokok atau narkotika yang susah melepaskan ketergantungannya.

Itulah sebabnya mengapa kata gratis lebih banyak dipakai untuk memperkenalkan Linux daripada kata bebas atau merdeka. Karena pada kenyataannya memang lebih mudah untuk menyodorkan sesuatu yang gratis daripada mengajak seseorang untuk berjuang melepaskan diri dari kenyamanan yang sudah mengikat dan membelenggunya selama berpuluh-puluh tahun.

Mengapa Linux dikomersilkan ?

Pertanyaan berikutnya … kalau Linux memang gratis, mengapa harus dikomersilkan ?
Apakah diperbolehkan dan pantas memperdagangkan sesuatu jika ternyata itu bisa kita dapatkan secara gratis …?

Sebelum menjawabnya, coba Anda jawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini :

* Pernahkah Anda melihat situs yang memperdagangkan CD / DVD Linux …?
* Pernahkah Anda melihat majalah tentang Linux dijual toko-toko buku …?
* Pernahkah Anda melihat penerbit buku ternama menjual buku-buku Linux ?
* Pernahkah Anda membaca penawaran pelatihan Linux yang ternyata tidak murah harganya …?

Apa jawaban Anda …? Tidak pernah …? Bohong …!!!
Bahkan di situs inipun Anda jelas-jelas bisa melihat CD/DVD/Buku Linux dijual … dan tidak diberikan secara gratis.

Bahkan kalau mau diperpanjang lagi, daftar pihak yang mengkomersilkan Linux ternyata sangat panjang, dan juga sudah merambah ke perusahaan skala multinasional. Tidak percaya …?!!!

Mengapa perusahaan besar menjual Linux ?

Coba simak daftar perusahaan besar berikut ini yang telah mengkomersilkan Linux :

* Motorola, Panasonic, HTC, Samsung, OpenMoko, Accton, Grundig, DLink, Haier, dan masih banyak lagi telah menjual ponsel berbasis Linux (lihat di situs Linux Devices)
* HP, Dell, Everex, Asus, Acer dan masih banyak perusahaan komputer lainnya menjajakan Linux untuk komputernya.
* Disney/Pixar, Dreamworks, Sony, ILM dan banyak studio film lainnya menggunakan Linux untuk memproduksi film-filmnya. Apakah Anda bisa melihat film-filmnya secara gratis … ? tentu saja tidak. Bahkan untuk melihat film bajakannyapun Anda tidak bisa mendapatkannya secara gratis.
* Google – si raksasa mesin pencari – ternyata menggunakan Linux untuk komputernya, tapi mengapa juga ikut mengkomersilkan produknya (baca : AdWords) ?
So, what open-source software does Google use itself?
DiBona: We use the Linux kernel. We’ve got the GNU tools, we use a lot of the compiler collection from the Free Software Foundation (FSF). We use some Apache libraries–we don’t use the Apache Web servers so often, but we do use a lot of their libraries. We use a lot of OpenSSL and OpenSSH. We use languages like Python and C. We use a fair amount of MySQL, all kinds of things.
* Microsoft – si raksasa perangkat lunak yang menganggap Linux sebagai kanker – ternyata kemudian juga mengkomersilkan Linux melalui tangan rekanannya, Novell.

Jadi … kalau Linux memang Gratis, mengapa begitu banyak pihak yang mengkomersilkannya …? Apakah layak dan pantas mengkomersilkan ‘barang gratisan’ seperti Linux ?

Linux itu [TIDAK] Gratis

Betul … Linux itu [pada dasarnya memang] Gratis …!
Namun untuk mendapatkan sesuatu yang gratispun terkadang tidak bisa kita dapatkan secara gratis … Bingung ?!! Contoh berikut memperjelas apa yang dimaksud diatas :

* Request CD Linux ke Canonical : bayar akses Internet dan listrik plus biaya pos
* Minta CD Linux dari Pemerintah : dananya dari mana ? pejabat … ? enggaklah, semua itu dibayar dari duit rakyat.
* Download Linux langsung dari Internet : bayar akses Internet dan listrik plus kemudian burning ISOnya ke CD/DVD
* Pesan CD/DVD dari toko Linux : bayar beberapa ribu sampai ratusan ribu bahkan jutaan rupiah
* Copy CD/DVD Linux dari teman : bayar CD/DVD kosong dan listrik untuk burning
* Langganan Majalah Linux : bayar beberapa puluh ribu rupiah setiap bulan
* Belajar dari buku Linux : keluar duit buat beli di toko-toko buku
* Belajar dari tempat pelatihan Linux : lagi-lagi bayar, dan biasanya tidak murah
* Iklan di Google Adwords yang ternyata juga pakai Linux : siapa bilang gratis …?
* Beli Motorola Krave yang Linux-based : bayar juga bro .. mana ada yang gratis ?
* Beli Asus EeePC yang juga Linux-based : gratis …? bisa …! nanti saya minta Asus jadi sponsor situs ini buat bagi-bagi EeePCLinux gratis 🙂

Apakah Anda masih yakin bahwa Linux itu 100% gratis … ? Atau Anda masih tetap ngotot menginginkan Linux secara gratis seperti yang terjadi di percakapan ini (lucu tapi cukup menjengkelkan, dan sayangnya hal seperti ini banyak ditemui di Indonesia :).

Jelas sudah bahwa apa yang didengung-dengungkan sebagai Linux itu Gratis adalah tidak benar alias bohong. Jangan pernah percaya kalau ada yang berkata Linux itu gratis. Untuk mendapatkan Kebebasan dan Kemerdekaan Linux jelas ada harga yang harus dibayar. Apalagi jika Anda ingin meraih kebebasan dan melepaskan diri dari belenggu perangkat lunak bajakan, bukan hanya ada harga yang harus dibayar, tetapi juga butuh perjuangan yang tentunya tidak akan pernah bisa Anda dapatkan secara gratis.

Bahkan bangsa kitapun harus berjuang keras untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan. Hal yang sama juga berlaku bagi kita jika ingin mendapatkan Kebebasan dan Kemerdekaan Linux. Anda harus berani berjuang untuk melepaskan diri dari kenyamanan yang telah disediakan oleh perangkat lunak bajakan selama berpuluh-puluh tahun. Ada harga yang harus Anda bayar untuk meraih Freedom (Kebebasan dan Kemerdekaan), dan tentu saja itu tidak bisa didapatkan secara Free (gratis).

Percayalah teman … perjuangan itu perlu. Terbelenggu 28 tahun (baca Sejarah Sistem Operasi Dari Dos, Windows sampai Linux) bukan berarti kita harus menyerah kalah pada keadaan dan menjadikannya sebagai alasan untuk terus terikat pada belenggu kenyamanan perangkat lunak bajakan. Bahkan setelah 350 tahun-pun kita masih bisa bangkit meraih kebebasan dan kemerdekaan.

Namun … tentu saja kita tidak perlu mengulang kesalahan itu sekali lagi. Cukup sudah 28 tahun untuk terbelenggu, Anda tidak perlu menunggu 350 tahun lagi. Perjuangan untuk meraih Kebebasan dan Kemerdekaan ini memang berat dan tentu saja tidak Gratis. Namun, jika Anda ingin melihat Indonesia Bangkit, mulailah dari diri Anda sendiri, mulailah dengan membebaskan isi komputer Anda dari belenggu perangkat lunak bajakan.

Jadi … sekali lagi jangan pernah percaya kalau ada yang berkata Kebebasan dan Kemerdekaan Linux itu Gratis.

Linux … Free as in FREEDOM

Imagine a place …

Where everything is possible

Where everyone can fly

Be Linux … Be Free

sumber : www.pclinux3d.com

Ngenet Gretongan di Hot Spot Bocor, Nyam…Nyam…

yahuuuii!! ini benar-benar menyenangkan. saya tidak tahu apakah XXX (XXX adalah lembaga BUMN yang memiliki access point wireless tanpa proteksi ini) sengaja membuka hotspot atau adminnya sedang rada bego sehingga lupa pasang proteksi wpa atau wep. mudah-mudahan saja sengaja agar tidak termasuk mencuri.
berita gembira ini diberitahu oleh frxs. tentu saja saya bersemangat. rupanya disana sudah banyak yang sedang ngenet. yang menjengkelkan, sementara orang lain sudah konek dan bersenang-senang. saya masih mondar-mandir tidak kedapatan sinyal. untuk beberapa saat sinyalnya konek, tapi dengan cepat putus lagi. sampai kami pulangpun, saya hanya sempat buka halaman paman google sebanyak empat kali!
selang beberapa hari, saya pergi sendiri ke wifi-zone tersebut pada pukul setengah dua belas malam. benar-benar sepi di sana. dan ternyata langsung konek. siapa tidak ketagihan? sayang baterai mekbuk ini hanya tahan dua setengah jam, padahal pingin sampai pagi.
saya kembali ketempat tersebut beberapa hari kemudian bersama amri (seorang teman dan saudara capas) setelah kami mencoba membobol proteksi wpa di atap genteng rumah si frxs (gagal total, lagi deauth pakek aircrack, eh leptopnya heng…). begitu sampai di sana, netbooknya amri yang mungil langsung konek tanpa banyak masalah. asyk bener tuh anak, pasti bokep yang dibuka. sedang saya, seperti hari pertama, mekbuk tidak mau konek. selama satu setengah jam penggunaan batere, saya mondar-mandir, manjat dinding, lompat-lompat, tiduran, mutar-mutar, dll buat cari sinyal. akhirnya saya membalik mekbuk ini dan mengangkatnya tinggi2. voila! access pointnya kedetek banyak dan langsung konek di ap paling kuat. saya langsung duduk dan buka gmail. eh putus lagi. saya angkat lagi, nyambung lagi. kesimpulan saya, permukaan bawah macbook menerima sinyal lebih baik. akhirnya saya menempel macbok tersebut pada tembok pendek yang miring atapnya, satu tangan saya menahannya agar tidak jatuh, satu tangan buat nari-nari di atas kibort. akhirnya saya bsa ngenet selama satu jam penuh. kuenceng banget, transfer ratenya ada sampai 70kbps waktu donlot kumpulan theme gnome.
sayang, batere habis dan kami pulang. ada kepikiran bawa cokroll (hah?). sehabis ujian nasional, sya bakal sering ke wifi-zone tersebut.


This blog has been discontinued. All the contents, and new posts can be found at blog.pdft.net

RSS latest post @ blog.pdft.net

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
Indonesia Linux Conference 2011

stats

SEO Stats powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

hits

  • 354,157 hits


This blog is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 3.0 Unported License.
pejuang mimpi tak ingkar janji