Pembangkang

aku jadi tertatih-tatih. aku terpuruk sedemikian rupa, terjembab di tanah. aku berdiri, mereka menjatuhkan lagi. aku merangkak, mereka menyentilku hingga beberapa meter seperti kelereng. aku berkata-kata, mereka menutup telinga dengan headphone berbulu. aku adalah seorang life observer, setiap detik berusaha memahami realita. tapi sekarang semua terbalik. menyiksa dan membosankan.

jadi, kuhentikan saja waktu. jarum detik tertahan di angka lima. matahari tidak terlihat diam tapi nyatanya ia memang sedang diam, menuruti aturan. hanya awan-awan saja yang bergerak. atau angin juga harus berhenti? tidak, hanya dia yang pembangkang.

aku masih tertatih-tatih tapi mereka sudah tidak lagi mencemoh. sekarang mereka adalah patung yang siap dipukulkan dengan martil besar dan pecahan mereka akan berserakan di tanah. aku bisa saja mengambil revolver dari kantong-kantong licin mereka, lalu menempelkan selongsongnya di kening mereka. dan dengan sedikit tenaga di telunjuk, otak mereka sudah terburai-burai. tapi buat apa pula?

angin sepoi menggoyangkan rambut kusut masaiku. dia menyapa sekaligus mengejek.

“jangan cari perkara kau,” kataku.

tapi seperti yang seharusnya terjadi, angin adalah pembangkang. ia meniup diriku seperti api lilin. aku terpelanting jauh dan ia terus mengikuti.

“kamu bosan?” tanyanya seraya mengelilingiku perlahan. aku tahu ia hanya berpura-pura.

“ya,”

“mari ikut terbang, ada tempat yang lebih baik.”

“tunggulah sebentar,” aku masih mengatur nafas.

“waktu sudah mati. tidak ada yang menunggu atau ditunggu. ayolah” dan dia meniupku sedemikian keras hingga mataku kelilipan dan kulitku mati rasa.

seperti yang ia bilang, aku jatuh di tempat yang lebih baik. tempat dimana aku bisa berjalan sendiri sambil melihat kaki dan merentangkan tangan. tempat dimana ada orang lain yang masih ingat cara tersenyum yang tulus dan sebagian besar senyum itu adalah untukku. tempat dimana keberadaanku diakui dan diterima, mereka akan melihatku seperti melihat ibu jari yang tumbuh di hidung.

kulihat arloji, waktu kembali hidup. kulihat langit, awan tak bergeming. kulihat diriku, aku masih harus berjuang karena tempat sebenarnya yang dijanjikan angin masih sangat jauh.

angin memang pembangkang, tapi ia tak pernah ingkar janji.

0 Responses to “Pembangkang”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




This blog has been discontinued. All the contents, and new posts can be found at blog.pdft.net
Indonesia Linux Conference 2011

stats

SEO Stats powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

hits

  • 317,317 hits


This blog is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 3.0 Unported License.
pejuang mimpi tak ingkar janji

%d blogger menyukai ini: