Ngomongin Tipi dan Musik?

Pertama saya mau nyerocos soal tipi (baca : TV). What’s wrong? Yang paling saya jengkelkan, tayangannya itu! Sumpah, saya merindukan bakabon, doraemon, pak senbe dan arale, ksatria baja hitam, p-man, dan kawan-kawan dari negeri matahari terbenam, eh terbit. Anda ingat kan saat2 itu? Setiap hari minggu pagi dari jam tojoh sampe dua belas, sepanjang taon, penuh dengan pilem-pilem kartun yang bikin males bersih2 rumah. Sekarang? Huek… Memang sih masih ada beberapa, seperti di globaltipi, tapi itu sedikit sekaleee.

Saya kesal karena generasi di bawah kita sekarang ini, yaitu adek2 kita yang masih kocet2 disodok matanya (hiperbola loh) sama sinetron cinta melulu (yang kebanyakan nggak mutu). Kan nggak pantas tuh? Masih mending anak2 suruh mengkhayal bagaimana kalo dia punya laci meja belajar yang ada doraemon dengan kantong ajaib, biar doi mikir2 kreatip apa benda ajaib yang kira2 muncul, dibanding mengkhayalin pacar monyet, belajar ngeres. Bah! Njrit! Dan buat stasiun tipi, balikin tu pilem2 kartun kita! *yihaa! lempar sendal*

Ajaibnya, kotak tipi ini dijadikan rujukan. Gimana sih bergaul yang baik? Liat tipi. Gimana sih pacaran yang baik (yaok?)? Nongton tipi. Gimana sih bertindak krimminal yang baek (gubrak)? Pelototin tuh tipi! Memang sih, tipi berperan juga dalam penyebaran informasi, dan membuat dunia lebih sempit, jadi kita bisa nengok sana sini dengan mudah. Itulah, yang orang-orang intelek sebut sebagai gombalisasi, salah ding, globalisasi. *menyentil sisi buruk globalisasi*

Coba bayangkan lima atau sepulu taon yang lalu, kalo ada sedikit saja tayangan yang aduhai gitu, eh udah digugat n dicekal. Sekarang? Buset.. Mah, jangan ditanya, iklan seronok gitu paling sering dimunculin sama stasiun tipinya, mungkin yang punya iklan bayar mahal. Tak dapat disangkal lagi, tipi adalah salah satu media perusak moral paling jitu, di samping sebagai media pendidik. Hei, wait… widot telebisien?

OK, saya pernah merasakan 7-8 bulan tanpa tipi. Habis, tipinya meledug gitu, ada api nyembrut dari belakang. Dari dulunya sih memang sering error. Nah, di masa-masa itu, saya memang agak ketinggalan informasi, dan awalnya tidak siap. Internet dan koran jadi pelarian saya. Waktu ada tipi lagi di kediaman saya, saya malah nggak ngeh. Saya menemukan bahwa internet (meski banyak pornonya) dan kertas tipis koran masih lebih baik dan banyak ilmunya dibanding tayangan tipi yang segitu-gitu doang.

Lihatlah Aceh. Dulu dikenal sebagai provinsi yang beda dengan yang lain, semua yang ada di sana islami. Tapi sekarang? Udah ada yang berubah. Dan kalo ada yang tanya pada saya (saya sebagai life observer, eh) saya akan bilang yang mempunyai peran terbesar dalam merubah Aceh adalah tipi. Ambil aja yang deket2 contohnya, bagi anda-anda yang tinggal jauh dari jakate (baca : jakarta), anda pasti menemukan beberapa temen/kerabat anda (atau malah anda sendiri?) bicara pake lo gua lo gua, apa lagi kalo nge-sms. siapa tuh yang ngajarin? ya tipi… saya gak bilang kalo ngomong lo gua lo gua itu jelek karena bahasa lo gua termasuk salah satu budaya indonesia, cuma nunjukin bahwa itu salah satu contoh penyebaran pengaruh dari kotak tipi. Yang lainnya bisa dipikirin sendiri.😛.

Pokoke tipi paling ngaruh. Why? Karena tipi murah meriah! *gelar dagangan, depele2, bli stu dapet dua!*. Betul kok. Liat aja ke permukiman kelas bawah, mana ada komputer (apa lagi dengan akses internet!) atau tumpukan koran (mereka tidak terlalu peduli dengan berita, wong cari makan saja susah). Paling tidak yang ada hanya tipi, tipi, dan tipi. bekas? paro belah dapet…

Ada orang dangdutan tuh, denger? Soal musik, saya kagum dan manyun perkembangannya yang super cepat. Balik lagi ke lima atau sepulu taon yang lalu.

Disklaimer : bukan berarti saya tidak suka musik. Saya seneng tuh denger unbelievable-nya craig david, lagunya bondan feat fedtublek, atau yang lebih melo, lagu titanik.

Anda pasti masih inget dan bisa ngebandingin. Apa bedanya? Sekarang dimana-mana ada musik. Di warung kopi ada musik, di sekolah ada musik, di kamar tamu ada musik, di kamar mandi? eh, kita sendiri yang nyanyi2…. *permisi, mau harakiri X( *

Yak, kayaknya bukan lagi musim musik, tapi selamanya musik terus. Semua begitu memuja musik. Sepertinya gadget kayak mp3player atau hp yang bisa muterin musik berperan besar dalam memasarkan musik. File2 mp3 bertebaran bak kacang goreng. Bebas donglot, hak cipta diinjek2. Kaset2 compo gak laku. Tayangan tipi lebih banyak nampilin musik. Kalo gak salah awalnya ada acara dahsat, inbok, dll, juga konser campur sari. Saya tidak tahu mana yang duluan muncul. Dan tiba-tiba acara-acara adu bakat tarik suara bermunculan, marak, mulai dari anak-anak sd sampai ibu2. Grup ben-grup ben baru mulai lahir, menambah daftar. Memang tidak ada salahnya. Tapi rasanya aneh sekali kalo semua orang beranggapan bahwa menyanyi adalah bakat yang paling istimewa dan mereka berlomba-lomba. Yui, ribuan orang ikut audisi macam ini. Sekali lagi, memang tidak salah, tapi bagi saya aneh. *megang erat2 buku UU yang mengandung kebebasan berpendapat*

Tapi musik punya kekuatan tersendiri. Sebuah lagu, kalo didenger secara kontinyu dan non-boring pada saat tertentu, untuk kedepannya kita akan mudah mengingat saat2 tertentu itu ketika lagu tersebut diputar. Bahkan bertaon2 setelahnya. Nggak percaya? Coba saja sendiri. Misalnya saya. Waktu masih kecil saya pernah liburan ke kampung di jogja. Lagu yang paling sering saya putar selama liburan itu adalah manusia bodoh. Dan bertaon2 kemudian saya mendengarnya lagi. Asli, saya langsung inget detail2 tempat di jogja (pada bagian ‘…yang biarkan semua… ini permainkanku berulang-ulang kali….coba bertahan sekuat hati–‘, langsung deh inget sama bau daun sirih yang tiap hari dikunyah jadi merah sama nenek saya)

Ada lagi, waktu komputer saya rusak gara2 cpunya jatuh dan plesdis saya ilang, selama dua bulan saya menggunakan penggantinya yaitu sebuah komputer tua, acer builtup pentium satu dengan hdd sebesar 120 mb dan ram 64. Asli jadul dah. Karena kondisi komputer gitu, saya install damnsmalllinux (distro supersmall, hanya 50mb!). Dan satu2nya file mp3 yang ada di hdd itu hanya ‘cinta ini membunuhku’ yang waktu itu baru kelar sama Demasip. Yak, selama dua bulan membosankan itu, saya hanya denger2 lagu itu doang dengan xmms yang legendaris lewat spiker cempreng. Nggak boring? Hohoho, jelas boring tapi ndak ada lagu lain karena plesdis saya tidak pernah ditemukan jadi saya tidak bisa tambah2 lagi. Dan sekarang, ketika saya sedang mengetik tulisan ini di mekbuk tua dengan blankon tercinta sebagai os-nya, saya memutar lagu ini. Saya langsung inget masa menderita saya dengan DSL, ngerjain tugas skul pake ted, wordprocessing super kuno, katro, dan jadul abis (tapi berguna). Saya langsung inget dimana saya terpaksa lebih sering ngetik2 di terminal buat kelola file dari pada filemanager gui-nya yang rada membingungkan. Langsung inget dimana saya terpaksa melototin acara booting mode teks khas knoppix setiap nyalain dan matiin komput. Dan yang paling kerasa, inget gimana cara make fluxbox yang bener. Tapi di sinilah masa saya belajar keras tentang linuk dengan hardware pas-pasan, belajar perintah2 cli dan konfig jaringan LAN (untung acernya ada colokan UTP). Tengs berat buat si acer jadul, kamu keren deh, masuk gudang sana… Tengs juga buat damnsmalllinux, teruslah mengecil!

Tak sadar, begitu cepatnya dunia berubah. Teknologi bermunculan. Bayi2 lahir melebihi kuota. Ekonomi anjlok. Konspirasi besar2an. Moral bergelindingan bak buah dari jatuh dari pohonnya. Krisis. Krisis. Sudah terlambat untuk jadi pahlawan.

begitulah…

6 Responses to “Ngomongin Tipi dan Musik?”


  1. 1 fraxis 11 Juni 2009 pukul 1:22 PM

    artinya dunia tambah rusak…dari pada minggu bosen lebih baik ke sangkareang… ada tawaran jadi cameramen~!~!

  2. 4 nyonyogoblog 14 Juni 2009 pukul 4:24 PM

    gmana lok dengerin radio aja? ada musik,no tipi, hehe
    woi pik, ku link ya dirimu.. hho

    cheers!

  3. 5 piko 15 Juni 2009 pukul 6:07 AM

    hidop tipi! hidop musek!
    ah, ngenet aja dah….

    btw tengs dah ngelink… 😀


  1. 1 Ngomongin Tipi dan Musik? Lacak balik pada 9 Juni 2009 pukul 4:41 AM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




This blog has been discontinued. All the contents, and new posts can be found at blog.pdft.net
Indonesia Linux Conference 2011

stats

SEO Stats powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

hits

  • 316,997 hits


This blog is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 3.0 Unported License.
pejuang mimpi tak ingkar janji

%d blogger menyukai ini: