Hooreeee! Saya ndak Lulus UN!

hei…hei… tentu saja saya lulus. judul itu saya tulis sebagai penghormatan saya terhadap calon entri postingan saya yang terselip di bawah. di kota saya, kota mataram yang kecil dan penuh polusi, pengumuman diundur sebanyak tiga kali sehingga bikin jengkel para peserta UN. nah, karena saya yakin tidak lulus atau pendek kata, merencanakan diri untuk tidak lulus, maka pada malam sebelum pengumuman sesungguhnya, saya menulis sebuah tulisan untuk blog ini. saya menulis apa yang kira-kira akan terjadi. sebuah tulisan yang saya siapkan di belakang kenyataan bahwa saya tidak lulus. sebuah tulisan yang ditulis dengan sepenuh hati, mengungkapkan isi otak saya tentang UN dan tetek bengeknya. yang mau muntah silakan muntah….😀

begin of file

percaya atau tidak, saya benar-benar tidak lulus Ujian Nasional. nama saya yang keren dan tiada duanya tidak nongol di daftar peserta yang lulus. anehnya, ketika saya mendengar kabar ini, saya tidak merasakan apa2. datar dan lurus. datar. lurus. kosong. tanpa bermaksud untuk mengelak, sebagian hati saya memang merencanakan untuk tidak meluluskan diri. saya sudah menyebar imej ini tiga bulan sebelumnya. setiap saya bosan dan ketika teman-teman saya ngerumpi tentang UN yang mendebarkan, saya akan celoteh, “eh, kayaknya saya nggak lulus nih besok”, “bro, temenin saya ngulang setaon lagi yaw?”, “kayaknya saya yakin nggak lulus”, “nggak lulus bareng2 nyok”. alhasil, semua menjauhi saya. saya juga mengganggu mental mereka menghadapi UN. bahkan, image ‘piko tidak meluluskan diri’ semakin kuat ketika gosip menyebar cepat bahwa saya telat dateng ke sekolah pada hari pertama UN. sampai2 saya dipanggil guru saya, “heh, kamu beneran nih nggak mau lulus?”. saya cuma nyengir kuda. besoknya, teman-teman saya mengejek, “ko, kamu kan mau ngulang, ngapain ikut UN?”. saya jawab, “yah, dari pada bosen sendiri di rumah.”

kemauan untuk tidak lulus diperkuat oleh fakta bahwa saya masih punya cadangan satu taon di dunia akademik. waktu esempe, saya sempat ikut kelas akselerasi alias percepatan belajar. jadi masa belajar saya di esempe hanya dua taon. ketika saya mengungkapkan hal ini kepada orang lain, mereka bilang saya benar-benar bodoh, menyia-nyiakan kesempatan, membuang-buang waktu, dan pikiran tidak maju. gyahahahaa, terserah apa orang mau kata. saya punya misi-misi tersendiri di balik semua ini.

sama seperti yang dirasakan si frxs, teman saya yang lain lagi, saya merasakan masa-masa UN kali ini begitu datar, lurus, detak jantung normal, dan tidak ada pikiran macam-macam. pendek kata, UN tidak mengusik pikiran saya seperti kebanyakan anak-anak lain. why?

apakah saya pemalas? hahhaha, saya memang pemalas tapi bukan alasan untuk hal ini. dan jujur, saya diterjang banyak sekali masalah-masalah pelik (sebagai catatan, saya bukan orang yang terbuka sehingga saya tidak mau buang-buang waktu untuk menceritakan di sini) sehingga tak sempat memikirkan UN. mungkin ini bisa dijadikan alasan, tapi tidak cukup kuat bila dilihat dari sudut pandang orang yang tak mau tahu. atau saya terinfeksi oleh doktrin ivan illich? sebuah pemikiran yang menyatakan sekolah sama sekali tidak berguna. menurut pemikiran ivan, sekolah sama dengan menimba air dari sumur yang dalam, dengan susah payah pula, tetapi ketika kita mendapatkan seember air itu, malah kita guyurkan di tanah, bukan untuk mandi atau hal lainnya. pengalaman di kehidupan nyata dan aktivitas belajar secara otodidak lebih banyak mengajari banyak hal dari pada duduk di bangku sekolah dengan mendengar celoteh guru dan menjawab soal-soal yang monoton.

apakah saya mengikuti doktrin itu? saya setuju dengan pemikiran ini, tapi saya tidak menjadikannya sebagai alasan saya mengabaikan UN. seberapa pun bodohnya UN (dengan prosedurnya, contek-menyontek, bocoran soal, pengawas yang berbaik hati), UN tetap penting, setidaknya di negara kita sementara ini.

dan alasan teknis yang sama sekali tidak bisa dibantah yaitu pada hari terakhir UN di mata ujian ekonomi, saya mengisi lembar jawaban komputer dengan pensil 8B, sekali lagi 8B. orang bilang, “bagus tuh, kan 8B lebih bagus dari pada 2B”. dasar dodol, tentu saja beda dong, bahkan tidak ada label ‘for computer’. dan untuk masalah pensil 8B ini, saya memang sengaja. why? karena saya memang tidak yakin mengenai UN kali ini. dan karena waktu itu hari terakhir, mental saya sudah bobrok banget. jujur, saya setengah2, jurus kamekameha saya tidak bisa keluar seperti biasa.

yah, bagaimana-bagaimana saya akan membiarkan orang lain berpendapat sendiri-sendiri. mereka akan bilang, ‘dia kan bodoh, wajar nggak lulus’. hehehehe, it’s ok… mereka punya hak buat berpendapat.

dan buat teman-teman seangkatan lainnya yang tidak lulus, la tahzan. mungkin saya keterlaluan, karena yang lain mungkin akan pingsan dan diinfus tiga kantong, paling banter nangis sejadi-jadinya. hei, hei, hidup tak serumit yang dibayangkan orang-orang. lalui saja semuanya dengan enjoy.

dan rencana, saya akan mengulang di sekolah yang sama, balik lagi ke angkatan saya yang seharusnya. apakah saya malu? ya, tapi sedikit. kan saya punya alasan. muka tebal dong? ngawur…

end of file

saya tidak melanjutkan karena sudah jam 2 dini hari dan saya tahu besok saya ada sesi latihan jumpalitan (baca :parkour). elparkour (lombok parkour) yang dipelopori si frxs dan kawan2 sedang mencoba bangkit. meski anggotanya sedikit, esoknya kami tetap latihan dengan semangat. sementara anak-anak lain berseliweran keliling kota teriak-teriak dengan baju putih abu-abu yang dipilox warna-warni, kami sibuk lompat sana lompat sini, membuang tenaga kami sebanyak kami bisa.

ehem, mengenai lulus tidak lulus, berarti saya tidak menghargai pendidikan dong? hohohoho, itu jauh dari pembahasan. memang ada perasaan bersalah setelah saya menongton laskar pelangi berikut behind the scene-nya, juga interview dengan andrea hirata (duh, tua banget keliatannya si ikal).

masalahnya : seandainya saya dididik dengan cara dan visi misi sekolah yang hampir roboh itu, pastilah saya mencintai sekolah dan berjuang habis-habisan. tapi di sekolah saya (dan saya yakin begitu juga di banyak sekolah lain) saya tidak menemukan semangat itu. pendidikan di negara kita belum bermutu. hanya segelintir sekolah favorit dan itu pun biayanya masih jauh dari jangkauan masyarakat kelas menengah. yang saya temukan di sekolah saya : pembelajaran monoton dan guru-guru yang tidak sesuai dengan tugas mereka.

di sebuah sekolah, kita dicekcoki dengan semua mata pelajaran, pukul rata semuanya. padahal, di setiap diri masing-masing siswa ada bakat yang berbeda-beda, skill yang beda. misal saya suka sejarah, tetapi dipaksa menelan buku matematika. meski nilai sejarah mengkilap-kilap tapi matematika anjlok, kesimpulan wali kelas : you = goblok. benar-benar tidak menghargai kemampuan yang sebenarnya. sekali lagi pukul rata, semua mata pelajaran harus bagus…

ok, ada sedikit aib saya ceritakan di sini. pada hari ketiga, saya merasa bodoh sekali. pengawas dari sekolah lain mengizinkan kami saling contek, bahkan menyarankan demikian. seandainya saya adalah hollowman, saya akan melemparnya dengan sepatu saya plus kaus kaki yang baunya hangus. sombong dong? it’s ok. beberapa siswa memang tidak setuju dengan prinsip saya mengenai contek-mencontek : kalo nyontek, saya tidak yakin jawaban yang saya dapat itu benar, kalo dicontek, saya takut saya memberikan jawaban yang salah. mereka menganggap saya sok, aneh, jogang… gyahahaha, terserahlah. intinya, bagaimana pendidikan di negara kita mau maju kalau ujian saja seperti itu keadaannya. mental bangsa kita memang mental tempe, harus perlahan-lahan kita ubah.

hmmm, topik beralih ke aksi kejar-kejaran antara pelajar corat coret dengan polisi. kota saya jadi ramai hari itu. ada beberapa gerombolan konvoi corat-coret kesana kemari. suara kendaraan mereka meraung-raung. polisi juga sibuk ke sana kemari dengan mobil mereka yang kinclong. beberapa jalan di blokir. seru deh keliatannya. seandainya saya jadi si polisi, saya bawa senapan bius. tembaklah satu. kalo jatuh, ketangkep deh… kejam? hehehe, saya kan berjiwa psikopat… ujung-ujungnya para siswa itu ketangkep. di sekolah saya, mereka sudah dikumpulin, beberapa polisi berjaga-jaga. menurut gosip, yang ketangkep bakal digundulin. wah…wah…

cus waktu sesi latihan elparkour, seru juga. sebagai catatan, ini latihan pertama saya. sebeumnya saya hanya ikut nongton dan jadi kameramen. ternyata : parkour butuh tenaga ekstra. meski saya sudah pemanasan ala paskib, tetap saja saya cepat kelelahan. beberapa lompatan terlihat gampang, ketika mencoba malah jadi takut-takut, tapi ujung-ujungnya bisa juga. saya ingat si frxs gelantungan di pohon sebelum kami berangkat, terus dia lompat, eh kakinya mendarat di punggung saya (saya lagi jongkok). luar biasa menderita. waktu latihan, saya mencoba salto (tapi tangan tetap nyentuh tanah), saya pikir gampang kacang, tau-tau tulang ekor saya yang duluan mendarat. wadaauuuu…. geblek banget pasti keliatannya.

yah… hari itu memang agak berbeda.

2 Responses to “Hooreeee! Saya ndak Lulus UN!”


  1. 1 dymash 17 Juni 2009 pukul 10:39 AM

    syukur deh klo pd lulus..

  2. 2 frxs.karimov 20 Juni 2009 pukul 2:51 PM

    penguasa memang banyak beretorika…. anjink menggonggong, ujian berlalu….. lulus cuma sekedar formalitas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




This blog has been discontinued. All the contents, and new posts can be found at blog.pdft.net
Indonesia Linux Conference 2011

stats

SEO Stats powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

hits

  • 316,997 hits


This blog is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 3.0 Unported License.
pejuang mimpi tak ingkar janji

%d blogger menyukai ini: