Racun Tikus on Delusion

hmm, setelah 4 hari mengalami kejang otot habis latihan parkour, saya kembali sehat. dalam kurun waktu 4 hari itu, saya jadi kakek2. jalan harus sepelan mungkin, kala mau duduk atau berdiri rasa sakit yang luar biasa menyerang paha dan punggung. apa lagi kalau mau noleh kanan kiri, kayak robot kurang oli saja. alhasil, saya gak bisa ikutan latihan parkour berikutnya.😦

ngomong-ngomong, saya sempet liat sebungkus racun tikus di atas kotak tipi. saya ambil dan teliti baik-baik. hei…hei…! saya sedang memegang salah satu alat pembunuh paling ampuh! bukan saja untuk membunuh tikus yang bau, tapi juga buat bunuh spesies yang sama kayak saya! entah kenapa, jiwa psikopat saya bangkit kembali. banyak sekali keterangan yang tertera di bungkus racun tikus itu. bahkan, peringatan yang sama tertulis sebanyak empat kali. intinya, racun tikus itu sama berbahayanya dengan kebocoran radiasi nuklir (hahahaha). racun tikus itu berbahaya jika tersentuh oleh tangan, terhirup, apa lagi sampai termakan. pokoknya, menyentuh bungkusnya saja sudah membuat jantung saya berdetak kenceng sekaligus bergairah.😀

yang sempat terpikir oleh saya :

pertama > saya mencicipi racun tikus itu, esoknya saya sudah dishalati kerabat saya, dikubur di halaman rumah. (mudahan ini tidak terjadi)

kedua > saya menyobek bungkus warna metalik racun tikus itu. wah, ternyata isinya kotak-kotak warna biru muda, mirip buah dadu. saya memasang sarung tangan lalu mengambil satu. saya mengirisnya kecil-kecil, lalu menumbuknya menjadi serpihan-serpihan yang kecil sekali. kemudian membeli kokakola, eh bukan, bukan kokakola, tapi sprite sensasi plong edisi kalengan. saya buka, pus…. uap karbonasinya keluar. saya masukan sedikit serbuk itu ke dalam kaleng sprite.

lalu saya membuka sarung tangan kemudian sambil membawa kaleng sprite itu, saya menghampiri seorang anak kecil di seberang jalan.

saya : dek, mau minum gak? enak lho, ini seperit lho….
anak kecil : (berbinar-binar)
saya : mau?
anak kecil : mau, mau (mengambil kaleng sprite lalu menenggak)
saya : buahahahahaha
anak kecil : (terkapar seperti tikus, busa putih keluar dari mulut, hidung, dan telinga)

lalu saya mengeluarkan tisu, mengusap-usap kaleng agar sidik jari saya hilang.

di lain kesempatan, saya akan memasukkan serbuk-serbuk putih biru itu ke mangkok sup kakak saya. lima menit kemudian, dia sudah terkulai, mirip tikus. buahahahahahaha!

langkah terakhir : ngacir.

<peringatan : please don’t try it at home>

tapi saya tidak melakukannya. jiwa psikopat tergantikan dengan narsisme tingkat dua.

2009-06-21-174635

yah, saya hanya berfoto2 dengan isight si mekbuk. tapi jangan terkecoh dengan wajah idiot ala simple jack, terselubung di balik matanya, ada keinginan untuk membunuh tanpa pandang bulu. gyahahahaha.

pesan : hati-hati dengan racun tikus. peringatan yang tertera bukan main2. jangan mengulai kesalahan yang saya lakukan.

3 Responses to “Racun Tikus on Delusion”


  1. 1 itachi 25 Juni 2009 pukul 2:26 AM

    begini nih tingkat narsis paling gede! bisa bikin hilang nyawa orang juga ya?

  2. 2 piko 26 Juni 2009 pukul 10:59 AM

    hmmmm, itu masi tingkat dua, efek samping : sesak nafas, rasa menyesal, mata bergerak terus.

  3. 3 roy 13 November 2009 pukul 4:17 PM

    kayanya si piko dah pernah makan tu racun deh..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




This blog has been discontinued. All the contents, and new posts can be found at blog.pdft.net
Indonesia Linux Conference 2011

stats

SEO Stats powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

hits

  • 316,690 hits


This blog is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 3.0 Unported License.
pejuang mimpi tak ingkar janji

%d blogger menyukai ini: