Science and Faith

Kukukukukuku… setelah sempat nemu teman-teman sd di pesbuk, saya temukan banyak sekali hal yang berubah pada mereka semua. dan sadarlah saya, saya pun sudah berubah, dari ulet menjadi kepongpong. salah satunya adalah ghesa (adlini ilma ghaisany). belum enam taun dia sekolah sd sudah kabur ke ostrali. pulang-pulang jangan bilang jadi makin bobrok tertular ideologi busuk (mudahan tidak) tapi lebih hebat dari itu. dia sempet translit sebuah tulisan (science and faith), ini terjemahan kasarnya tapi cukup mudah dipahami.

Seorang Profesor Filosofi penganut Atheis sedang berbicara kepada kelasnya mengenai masalah pertentangan ilmu Sains dengan TUHAN YANG MAHA KUASA. Ia bertanya kepada salah satu mahasiswa barunya yang taat beragama.

Profesor: Kamu beragama Kristen, iya kan nak?

Murid: Iya.

Profesor: Jadi, kamu percaya adanya TUHAN?

Murid: 100%, Pak.

Profesor: Apakah TUHAN baik?

Murid: Pasti.

Profesor: Apakah TUHAN MAHA KUASA?

Murid: Iya..

Profesor: Saudara saya meninggal dunia karena kanker meski pun dia sudah berdoa kepada TUHAN untuk menyembuhkannya. Sebagian besar dari kita akan mencoba membantu orang yang sedang sakit atau kesusahan. Tapi TUHAN tidak melakukannya. Jadi bagaimana bisa TUHAN dianggap baik? Hmm?

(Murid terdiam)

Profesor: Kamu tidak bisa menjawab, kan? Mari kita coba lagi, anak muda. Apakah TUHAN Baik?

Murid: Iya.

Profesor: Apakah Setan baik?

Murid: Tidak.

Profesor: Darimana datangnya Setan?

Murid: Dari … TUHAN..

Profesor: Itu benar. Beritahu saya, nak, apakah ada kejahatan di dunia ini?

Murid: Iya..

Profesor: Kejahatan ada dimana-mana, kan? Dan TUHAN menciptakan segala hal. Benar?

Murid: Benar.

Profesor: Jadi, siapa yang menciptakan kejahatan?

(Murid terdiam)

Profesor : Apakah ada penyakit di dunia? Keabadian? Kebencian? Kejelekan? Semua hal buruk ini ada di dunia, bukan?

Murid: Iya, Pak.

Profesor: Jadi, siapa yang menciptakan semua hal buruk itu?

(Murid tidak punya jawaban)

Profesor: Ilmu Sains mengatakan bahwa kamu memiliki 5 indera yang dapat kamu gunakan untuk mengidentifikasi dan mengobservasi dunia sekitarmu. Beritahu saya, nak…Apakah kamu pernah Melihat TUHANmu?

Murid: Tidak, Pak.

Profesor: Beritahulah, apakah kamu perngah Mendengar TUHAN?

Murid: Tidak, Pak.

Profesor: Apakah kamu pernah Merasakan TUHANmu, Memegang TUHANmu, Mencium TUHANmu? Apakah kamu pernah mengalami persepsi indera apapun tentang TUHAN?

Murid: Tidak, Pak. Saya tidak pernah.

Profesor: Tapi kamu masih Percaya kalau DIA ada?

Murid: Iya.

Profesor: Berdasarkan Protokol Empiris, Dapat Diuji, dan Dapat Didemonstrasikan, Ilmu Sains mengatakan bahwa TUHAN tidak ada. Apa yang bisa kamu katakan untuk menanggapi pembuktian itu, nak?

Murid: Tidak ada. Saya hanya memiliki kepercayaan saya.

Profesor: Ya, Kepercayaan. Dan itulah Masalah yang dimiliki Ilmu Sains dengan TUHAN.

Murid: Profesor, apakah ada suatu hal yang disebut Panas (Heat)?

Profesor: Iya

Murid: Apakah ada suatu hal yang disebut Dingin (Cold)?

Profesor: Iya.

Murid: Tidak, Pak. Tak Ada.

(Kelas mulai terdiam dengan keadaan yang tiba-tiba berbalik)

Murid: Pak, hal-hal yang disebut “Lots of Heat”, bahkan “More Heat”, “Superheat”, “Mega Heat”, “White Heat”, “Little Heat” atau “No Heat” memang ada. Tapi tidak ada hal yang disebut Cold secara sains. Kita bisa menurunkan temperatur 458 celcius di bawah nol, yaitu kondisi yang disebut “No Heat”, tapi kita tidak bisa menurunkan temperatur lebih bawah daripada itu. Tidak ada sama sekali hal yang disebut Dingin (Cold). Dingin hanyalah sebuah kata yang kita gunakan untuk mendeskripsikan Tidak Adanya Panas (the Absence of Heat). Kita tak bisa mengukur Dingin. Panas adalah energi. Dingin bukanlah lawan dari Panas, Pak, dingin hanyalah Absence (tidak adanya) dari Panas.

(Kelas terdiam sunyi)

Murid: Bagaimana dengan Kegelapan, Profesor? Apakah ada hal yang disebut kegelapan ini?

Profesor: Iya. Apa itu Malam kalau tidak ada kegelapan?

Murid: Anda salah lagi, Profesor. Kegelapan adalah the Absence (tidak adanya) suatu hal. Kita memiliki Low Light (cahaya rendah), Normal Light (cahaya biasa), Bright Light (cahaya terang), Flashing Light (cahaya berkedip)… Tapi jika kita memiliki No Light (Tidak ada cahaya), kita tidak memiliki apa-apa dan itu yang kita sebut Kegelapan, bukan? Dalam realita, Kegelapan tidak nyata adanya. Karena jika ia nyata, kita pasti bisa membuat yang Gelap lebih Gelap lagi, bukan?

Profesor: Apa maksud yang ingin Anda sampaikan, Anak Muda?

Murid: Maksud saya adalah dasar pikiran filosofi Anda bermasalah, Profesor.

Profesor: Bermasalah? Bagaimana Anda bisa menjelaskan itu?

Murid: Pak, Anda berpikir menggunakan logika dasar pikiran Dualitas Anda berargumentasi bahwa ada Kehidupan dan ada juga Kematian, ada TUHAN baik dan ada TUHAN buruk. Anda melihat konsep TUHAN sebagai sesuatu yang terbatas, sesuatu yang dapat diukur. Pak, Ilmu Sains bahkan tidak dapat menjelaskan sebuah Pikiran… Ilmu Sains menggunakan konsep Electricity and Magnetism (Listrik dan Magnet), namun tidak pernah melihat, apalagi benar-benar mengerti kedua hal tersebut. Untuk menganggap Kematian sebagai Lawan dari Kehidupan, itu berarti kita pura-pura tidak tahu bahwa Kematian tidak akan bisa ada sebagai hal yang substantif (Yang dapat diukur dan diintensifkan, selayaknya Panas, Kehidupan, Cahaya, dan sebagainya.) Kematian bukanlah Lawan dari Kehidupan : kematian hanyalah absence (ketidak-adaan) dari Kehidupan. Sekarang beritahu saya, Profesor, apakah Anda mengajarkan murid Anda bahwa mereka berevolusi dari kera?

Profesor: Jika maksudmu adalah Teori Evolusi Darwin, maka iya, saya memang mengajarkan teori tersebut.

Murid: Apakah Anda pernah mengobservasi proses Evolusi dengan mata kepala sendiri, Profesor?

(Pak Profesor menggelengkan kepalanya dan tersenyum kecil, mulai menyadari kemana arah argumen ini)

Murid : Karena tidak ada satupun orang yang pernah mengobservasi berlangsungnya proses Evolusi dan bahkan tidak bisa membuktikan bahwa Proses ini adalah sesuatu yang terus berlangsung, Bukankah Anda hanya mengajarkan sebuah opini, Profesor? Mungkinkah Anda bukan seorang ahli ilmu pengetahuan, melainkan seorang khatib/pendeta?

(Seisi kelas ribut hebat)

Murid : Apakah ada seseorang di dalam kelas ini yang pernah melihat otaknya Profesor?

(Seisi kelas ketawa)

Murid: Apakah ada seseorang di sini yang pernah mendengar otak sang Profesor, merasakannya, memegangnya, ataupun mencium baunya? Sepertinya tidak ada seorangpun yang pernah melakukan itu. Jadi, berdasarkan peraturan Protokol Empiris, Tetap, dan Dapat Didemonstrasikan, Ilmu Sains mengatakan bahwa Anda tidak memiliki Otak, Profesor. Dengan segala hormat, Profesor, bagaimana kami bisa mempercayai ajaran kuliah Anda kalau seperti ini kenyataanya?

(Kelas terdiam lagi. Sang Profesor menatap muridnya, dengan ekspresi yang susah diartikan.)

Profesor: Mungkin kamu harus bisa mempercayainya hanya dengan KEYAKINAN HATI, nak.

Murid: Itu dia Pak…tepat sekali! Hubungan antara manusia dan TUHAN adalah kepercayaan hati. Hanya itu yang membuat hal-hal hidup dan bergerak.

NB:

Murid itu adalah Albert Einstein.

1 Response to “Science and Faith”


  1. 1 itachi 12 September 2009 pukul 2:59 AM

    eh… ogut pernah liat deh cerita ini… kayak pernah denger…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




This blog has been discontinued. All the contents, and new posts can be found at blog.pdft.net
Indonesia Linux Conference 2011

stats

SEO Stats powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

hits

  • 316,997 hits


This blog is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 3.0 Unported License.
pejuang mimpi tak ingkar janji

%d blogger menyukai ini: