Lelaki Hujan

Di atas tembok, di sudut jalan ini, dia duduk seperti biasa.

“Ini lain,” katanya, “Berbeda…”.

Lelaki itu tidak lagi mengeluh setelah hujan mengguyurnya lebih deras lagi.

“Dimana perbedaannya?” kata hujan.

“Sikapku”, lelaki itu menengadah puas, mengusap wajahnya, lalu membiarkannya diterpa deras hujan. Agak sakit, geli, tapi ia senang.

Tetapi hujan tidak senang, ia hembuskan angin-angin dari utara dan lelaki itu menggigil sampai ke kakinya.

“Oh… Hentikan,” pinta lelaki itu. tangannya bersedekap dan rahangnya mengeras. Bajunya hanya kulit semu di tubuhnya, basah dan tidak berguna.

“Kamu menjengkelkan akhir-akhir ini. Maukah kau dengar kisahku, kawan?” kata hujan.

Di antara getaran gigilnya, lelaki itu mengangguk cepat.

“Aku juga punya. Aku cinta pohon-pohon, semua yang berdaun dan hijau, yang tumbuh dan berakar. Satu atau banyak, besar atau kecil, aku mencintai mereka semua.”

dan hujan terdiam, ia gerimis, seperti samar.

“Hanya itu?” tanya si lelaki kecewa. Lelaki itu berpikir, bahwa kisah itu tak sebanding dengan kisahnya, tak sehebat kisahnya. Ia menunggu, dan saat tubuhnya hampir mengering karena angin, awan kelabu sudah merangkak ke tenggara dan bintang-bintang muncul satu persatu. tidak ada bulan malam ini.

Esoknya, ia duduk lagi di atas tembok berlumut itu.

Hujan menyapanya dengan tetesan besar satu dua, lalu lebat dengan cepat.

“Terima kasih,” gumam lelaki itu, membungkuk agar punggungnya basah terlebih dahulu.

“Dan,” kata hujan, “Pohon-pohon itu tumbuh dengan baik, sebagian besar, sesuai harapanku. Mereka tahu itu aku. Mereka tahu siapa aku, sang hujan yang baik, pembasah tanah-tanah kering, penyubur akar-akar keras, penghijau daun-daun yang berdebu. Mereka tahu. Tapi mereka tidak pernah memberikan apa pun padaku, setidaknya balas jasa atau sekadar kata-kata. Tidak ada, kawan. Aku tak mengerti bahasa mereka. Tapi aku tetap senang dan cinta. Aku tidak bisa memiliki mereka, tapi dengan sendirinya mereka memilikiku tanpa mereka sadari. Aku hanya memberi, tak meminta. Aku cinta tidak untuk dicinta.”

Lelaki itu jelas tersinggung. Ia turun dari tembok, mengacak-ngacak rambutnya, menciptakan hujan kecilnya sendiri, dan melangkah ke ujung jalan.

“Aku tidak akan meminta maaf,” kata hujan.  Langit kelabu berkilat-kilat, hujan  mengeluarkan guruh yang khas, keras dan padat, memanggil kembali si lelaki.

Lelaki itu mempercepat langkahnya namun hujan mengikutinya.

“Kamu tidak bisa seperti ini terus,” tegur hujan, ia gerimis lagi karena bosan.

Lelaki itu jelas marah, karena ia berhenti dan menengadah ke atas, genggamannya erat.

“Aku masih bisa bertahan,” ia bersikeras.

“Tidak,” desah hujan, dan ia menurunkan jutaan tetesannya yang paling deras, tiba-tiba, tidak biasa, dan ganas. Lelaki itu takut dan menurunkan dagunya, pucat.

Esoknya, tidak ada sosok yang duduk di atas tembok itu. Lelaki tempo hari ada di bawah atap tempat tinggalnya, meringkuk dalam selimutnya, berkutat dengan flu, dan menyusun kata-kata untuk surat terakhir yang harus ia tulis, seperti saran hujan.

Sementara di luar sana, hujan bermain-main dengan kekasihnya, daun-daun hijau muda.

3 Responses to “Lelaki Hujan”


  1. 1 fraxis 23 Januari 2010 pukul 3:07 AM

    sound familiar, eh? nice post…aku tak bisa membuat yang seperti ini…

  2. 2 bunnybuy 24 Januari 2010 pukul 12:55 AM

    Keren…!!! rada-rada mirip jalan ceritanya Mbah Putu Wijaya…
    Aku mau buat yang seperti ini…

  3. 3 piko 24 Januari 2010 pukul 5:18 PM

    @frxs : jangan dibahas. syair anda lebih indah, master.
    @kelinci : mirip sama yang mana?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




This blog has been discontinued. All the contents, and new posts can be found at blog.pdft.net
Indonesia Linux Conference 2011

stats

SEO Stats powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

hits

  • 317,318 hits


This blog is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 3.0 Unported License.
pejuang mimpi tak ingkar janji

%d blogger menyukai ini: