semut merah semut hitam

dear blog.

tadi saya digigit semut. dan ingatan masa kecil saya langsung terangkat. tahukah apa itu?

saya mengobservasi semut.

sebagai catatan : potongan ingatan kurang jelas ini adalah laporan masa kecil.

waktu itu saya masih kelas 4 SD. menjelang liburan semester. di sekolah, saya dan beberapa teman saya berkumpul di bawah pohon ketapang raksasa, sedang menonton pertarungan seru, antara seekor semut hitam dan semut merah di atas sebuah bangku semen. pada akhirnya saya tahu bahwa semut merah adalah semut panas yang kecil namun gigitannya sangat menyakitkan dan semut hitamnya adalah semut hitam biasa yang kecil juga, dan larinya cepat (pasti tahu). mereka saling gigit dan kami berteriak-teriak. saya, tentu saja mendukung si semut merah.

dan ternyata yang menang adalah si semut hitam, si semut merah sudah tidak bergerak lagi. si semut hitam memanggil seorang kawannya (datang dengan gesit) dan menggotong mayat si semut merah bersama-sama, menghilang di balik dedaunan.

saya kecewa.

di rumah saya banyak semut dari kedua jenis itu, jadi saya memeriksa mereka.

semut merah adalah semut yang kuat dan tahan banting.  saya mengujinya bukan dengan melempar mereka ke udara (gdubrak), tapi dengan memencet mereka dengan satu jari. nyet. dan lihat! masih hidup dan berusaha lari! wow. setelah dipenyet-penyet lagi, saya mengambil kesimpulan bahwa kulit semut merah sangat kuat dan keras untuk sebuah pencetan jari saya.

sekarang saya penyet semut hitam. woof. semutnya langsung tak bergerak dan ada sedikit cairan bening. wah, mengecewakan sekali. langsung mati. kulit si semut hitam terlalu lunak.

tapi, mengapa si kulit hitam bisa menang?

semut merah adalah penggigit yang hebat. saya memungut seekor semut merah dan meletakkan di dada saya (pakai buka baju segala). 4 detik saya langsung digigit. bentulan setengah senti kemerahan muncul di dekat udel perut saya. saya garuk-garuk.

semut hitam? empat kali saya gagal memungut semut hitam (kebanyakan mati dijepit jari saya). semut terakhir yang beruntung sudah kesana kemari di perut saya. kamu sama sekali tidak berbahaya, nak.

tapi, mengapa si kulit hitam bisa menang?

dan terakhir adalah dengan minyak tanah. seberapa lama kedua jenis semut ini mampu bertahan dalam genangan minyak tanah? saya mencelupkan tangan saya ke tangki kompor minyak di dapur dan mengoleskan ke atas mereka. wow. mereka mati bersamaan. saya mengulangi berkali-kali dan mengamati dengan cermat. rata-rata, mereka mati bersamaan. jadi, faktor ketahanan terhadap minyak tanah saya kesampingkan.

ternyata (menurut saya saat itu)

semut hitam hanya unggul pada kegesitan dan antusiasme dalam bekerja sama. lari mereka sangat cepat dan gesit. sit! sat! sit! seperti ninja. dan bila saya menaruh nyamuk mati di kerumunan mereka, wow, langsung jadi rebutan. seolah semua bilang, “hei, biarkan aku saja yang mengangkatnya!”

lihat semut merah. lambat sekali larinya (atau mereka tidak berlari?). bila saya meletakkan nyamuk teplokan mati di kerumunan mereka, hanya sedikit yang mengangkat, kebanyakan mondar-mandir di sekitar objek.

saya mengira, faktor kegesitan dan semangat tinggi si semut hitamlah yang membuatnya bisa menang di sekolah tadi.

jadi, saya akan mengujinya sekali lagi. saya memungut semut merah yang capitnya paling besar dan semut hitam yang larinya paling gesit (lagi-lagi banyak yang mati kejepit).

lalu saya mengumpulkan dua ekor semut berbeda itu. mereka sama sekali tak tertarik untuk saling mendekat apalagi saling bejaguran. mereka saling menjauh dan akhirnya keluar arena.

akhirnya saya pergi sebentar dan mendapatkan kemasan kaca balsem. isinya saya bersihkan dan kedua semut itu saya masukkan ke dalam. mereka kebingungan dan saling tabrak. karena tidak puas, saya menambahkan satu lagi semut merah, 2 lawan 1. saya memutar tutupnya erat-erat, agar tidak ada celah sedikit pun buat kabur.

esoknya, sebelum berangkat sekolah, saya memeriksa botol kaca kecil itu. ketiga semut itu mati mengkerut, tak bergerak. saya menarik kesimpulan = semut hitam memang sangat hebat, berjuang sampai mati untuk mengalahkan yang lain, sampai ia sendiri mati. saya menyesal tidur cepat dan tidak memperhatikan serunya pertarungan mereka.

jadi, saya harus menjadi orang yang gesit dan bersemangat, dan tentu saja, saya akan mendukung semut hitam bila ada pertarungan semut lagi di sekolah.

tapi pertarungan itu tidak pernah ada lagi.

pada akhirnya ibu saya bilang bahwa mereka mati kehabisan nafas dan tidak makan, bukan karena bertarung mati-matian. dan saya harus makan sayur kacang panjang tanpa lauk pauk karena membunuh semut.

About these ads

7 Responses to “semut merah semut hitam”


  1. 1 fraxis 23 Januari 2010 pukul 3:16 AM

    hmm….jadi teringat masa kecil… observasi yang bagus

  2. 2 decrit desol 2 Agustus 2011 pukul 8:33 AM

    koplak! :D

  3. 3 Fikri 3 September 2011 pukul 11:48 AM

    Keren :) observasi yang bagus sekali…

    Yah, pasti kehabisan nafas kalau ditutup rapat :(

  4. 4 Fafa Point Blank 22 Januari 2012 pukul 9:38 AM

    wah seruu mau baca lagi hitam vs merah menang hitam wahh seru banget

  5. 5 Fafa Point Blank 28 Maret 2012 pukul 12:41 PM

    wahhh koplak blablablabla hahahha keren…??

  6. 6 polaris 30 Maret 2012 pukul 10:04 AM

    haha.. ringan dan menyegarkan… jempol.

  7. 7 jeriko krenz abiez 29 April 2012 pukul 7:53 AM

    <3


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




This blog has been discontinued. All the contents, and new posts can be found at blog.pdft.net
Indonesia Linux Conference 2011

stats

SEO Stats powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

hits

  • 196,693 hits


This blog is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 3.0 Unported License.
pejuang mimpi tak ingkar janji

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: