hal-hal yang mengusik hati saat migrasi FOSS

1. memigrasikan pemikiran pengguna. orang yang tidak tertarik dan tidak punya gambaran tentang legalitas software. jenis ini yang paling banyak saya temui. ketika saya tawarkan, “gnu/linux itu begini, begitu”.  dan yang bersangkutan mengangguk-ngagguk, “oh, yeah. let install it!”. jadi saya menghabiskan barang sejamlah buat install dualboot dan akhirnya berkatalah ia, “duh, ndak ngerti, ko”. jika saya berusaha menekankan mengapa ini penting, ndak bakalan nyambung karena sudah pasang muka ‘i don’t care’, bajakan atau tidak , apa bedanya?

kesalahannya dimana? mungkin seharusnya saya tekankan ngomongin masalah FOSS sebelum koar-koar kelebihan. jadi pengguna sudah punya landasan bertahan kalau ketemu masalah.

2. aplikasi-aplikasi tertentu. sedia payung sebelum hujan, saya selalu punya iso repositori. tapi…

a : saya butuh transtool

b : (mikir)

a : saya butuh coreldraw

b : oh, ada inkscape!

a : pasangmukanorespeklihatinkscape

b : oh.😐

yah, tidak selamanya wine berjalan sempurna. apalagi kalau orangnya prekengan. sampai-sampai di sela-sela sebuah pelatihan migrasi FOSS, saking putus asanya, saya berbisik, “sudahlah pak, pakai windos saja”.

3. tentang repositori. mengingat internet di indonesia belum …. (belum apa yah? pokoknya masih kurang), repositori adalah hal yang agak sulit, baik koneksi langsung maupun mengunduh iso repo.

a : mas, kalau saya mau install potosop gimana?

b : o, ada alternatifnya di linux pak, namanya gimp.

a : gini. gini. gini. bapak harus konek sama repo. pakai internet.

b : (ngeluarin modem usb level edge)

a : (doh! membayangkan betapa lambatnya nanti apt-get. menawarkan install via iso repo yang sudah ada)

jika saya tawarkan menyalin iso repositori, ruang spasi hardis yang cukup adalah wajib. tapi tidaklah efektif menyimpan sedemikian besar file iso yang mana mungkin hanya 10 persen yang dibutuhkan (mengingat dependensi kesana kemari antar iso, semua harus utuh). kalau untuk kesenangan berlinux-ria, file iso bejubel tidak masalah, tapi untuk low-end user, perlu dipikir2. hmm.😦

kenapa masalah hardware tidak menjadi yang ke 4.? karena sejauh ini, saya lancar2 saja memigrasikan hardware.🙂

kesimpulan : kalau boleh jujur, sebenarnya GNU/Linux itu tidak sesempurna yang orang-orang katakan. terus kenapa saya ngotot? karena ada alasan yang lebih kuat di balik itu.

btw kemarin, sempat baca surel dari milis linux-aktivis tentang aktivis linux itu sendiri. jika menilik ke sana, saya merasa saya bukan aktivis linux. saya tidak punya titel, sertifikasi, pengetahuan yang cukup, skill public-speaking buat ngomong2 di seminar atau pelatihan. wah, gimana dong? saya apa dong? apakah kegiatan aktivis linux itu harus dalam bentuk seminar2 dan pelatihan dan pengembangan perangkat lunak?  wah.

0 Responses to “hal-hal yang mengusik hati saat migrasi FOSS”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




This blog has been discontinued. All the contents, and new posts can be found at blog.pdft.net
Indonesia Linux Conference 2011

stats

SEO Stats powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

hits

  • 316,997 hits


This blog is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 3.0 Unported License.
pejuang mimpi tak ingkar janji

%d blogger menyukai ini: