Arsip untuk Maret, 2011

sore itu di dinding pesbuk

sempat ditempel oleh salah seorang pengembang blankon :
http://tempel.blankon.in/776

lumayan buat ngapdet status otomatis. =))

edit : err, saya jadi agak marah juga, karena bisa ngerusak reputasi penggunaan url singkat. misalnya saya berniat membagikan informasi menarik dan penting dengan url singkat, hanya karena bencana alam ini, orang-orang akan menyangka url singkat dari saya sama saja seperti yang lainnya, mencoba menjebak. huh. 😦

Iklan

booting mac via grub dan mount rw partisi hfs

btw, grub debian juga bisa ngedetek mac sepertihalnya ubuntu, dan bobroknya juga sama = mac-nya tetep ndak bisa dibooting. *ngapain detek kalau ndak bisa dibooting?

di grub.cfg, baris entry mac yang panjang itu tinggal diganti :

menuentry “macosx” {

insmod hfsplus

set root=(hd0,X)

multiboot /boot

}

X = lokasi partisi mac

untuk mount rw partisi mac, hfsnya harus non journal. kalau sudah terlanjur ya di-disable. install paket hfsprogs, hfsutils, dan hfsplus. tinggal jalankan.

sudo mount -o force /dev/sdaX /media/mac

kalau masih gagal jalankan

sudo fsck.hfsplus -f /dev/sdaX

dan ulangi mount-nya.

tada!

debian squeeze + WN322G v3 (atheros)

yak, setelah seminggu lebih mondar-mandir akhirnya bisa juga. ternyata bukan dari paket firmware-atheros maupun madwifi (yang mana saya kira sudah discontinued mungkin).

tapi langsung dari wireless.kernel.org. unduh paket compat-wireless terakhir.

tar -zxvf compat*
cd compat*
make
sudo make install

make-nya memang lama banget. setelah make install selesai, tinggal modprobe module-nya. ath9k ada 4 tapi saya ndak tau yang mana, yang jelas saya aktifkan semua module ini satu-satu, setelah selesai eh tau-tau network-manager sudah connected via wifi. agar diload saat booting, saya menuliskannya ke /etc/modules, semuanya.

ath9k
ath9k_htc
ath9k_hw
ath9k_common

kalau dilihat dari driver yang pernah saya pasang di ubuntu, itu adalah ath9k_htc, ya mungkin itu.

selesai. 🙂

Foto untuk Bapak

“Bisa fotokan saya?” pinta Bapak itu, mengganggu keasyikan saya menjepret-jepret.

“Oh, tentu” kata saya sambil mengarahkan lensa ke wajahnya.

“Jangan di sini, saya ganti baju dulu.”

Saya jadi bingung, jadi kami mengobrol banyak sebelum memulai sesi potret untuknya.

Beliau adalah seorang petugas satpam di kantor saya, hampir 20 tahun mengabdi di sini sebagai penjaga malam. Tidak akan pernah diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil karena pendidikan formalnya tidak ada. Beliau sudah sangat tua dan kedua tangannya selalu gemetar. Perihal foto itu, ternyata beliau dijanjikan untuk dipromosikan untuk mendapatkan penghargaan dari negara karena sudah mengabdi sekian lamanya, hanya untuk jaga malam saja, dan dia diminta untuk menyerahkan foto dirinya yang dibingkai kayu dan kaca. Bagi orang yang suka begadang seperti saya, itu sungguh luar biasa. Begadang hampir 20 tahun!

Oh, lupakan tentang itu. Yang jelas, setelah mendengar banyak, saya pikir saya harus menyiapkan hal lain selain hanya kamera saja. Agaknya ini harus sedikit istimewa. Jadi, saya pulang untuk mengambil tripod dan perlengkapan lain, dan berjanji akan kembali malam harinya untuk memulai sesi potret.

Benar saja, ketika saya kembali, Bapak itu sudah berpakaian lengkap dengan seragam biru, lencana, sepatu yang sudah dipoles, serta sabuk yang mengkilat karena dibraso habis-habisan. Saya tertawa sambil menyarankan agar rileks dahulu sementara saya menyiapkan peralatan.

Tapi bapak itu tidak bisa diam. Beliau menghilang sebentar dan kembali membawa secangkir kopi untuk saya. Saya jadi malu dan berusaha serius memasang tripod.

“Sudah, pak.” kata saya sembari menyilakannya untuk berdiri di depan kamera. Saya ingin sekali bilang bahwa saya hanyalah fotografer amatir yang masih belajar dan saya tidak bisa menjanjikannya foto yang bagus. Tapi rasanya itu memalukan.

Karena ini kali pertama saya memotret orang bak dalam studio foto, saya merasa gugup sekali dan mendapati banyak sekali foto yang salah dan jelek.

Saat itu malam hari maka saya harus meningkatkan sensitifitas sensor yang berakibat berkurangnya kualitas gambar, beliau memiliki tangan yang gemetar karena usia tuanya maka saya tidak boleh menggunakan shutterspeed yang terlalu lambat, dan kamera saya bukan kamera yang bisa diandalkan. Benar-benar sulit dan menantang.

Tapi toh sesi foto itu selesai dan saya mendapati hampir 50 gambar foto dirinya yang sebagian besar adalah foto yang buruk karena kesalahan tangan saya maupun karena tubuh gemetar Bapak itu.

Saya memilih beberapa foto yang paling baik dan bertanya, “Kapan mau dicetak pak?”

“Saya minta filmnya saja. Nanti saya cuci sendiri di luar.”

Saya terkejut. Saya sedang memegang DSLR dan di kota saya segulung roll film sangatlah langka. Bapak yang sahaja ini ternyata tidak mengikuti zaman dan saya jatuh hormat atas kecuekannya terhadap dunia.

“Emm, ini tidak pakai film pak. Digital. Jadi langsung berbentuk file, err, atau berkas digital. Jadi bisa dicetak langsung. Pakai printer juga bisa.” kata saya sambil menunjuk printer di pojokan.

“Eh, boleh. Cetak sekarang kalau begitu.”

“Tapi di sini ndak ada kertas foto pak. Biar hasilnya bagus pakai…”

Dia menyisiri lemari dan menyomot selembar kertas A4 yang masih polos, “Pakai ini saja. Besar-besar ya.”

Saya tidak sampai hati menolak, jadi saya menghabiskan sisa malam itu untuk berkutat dengan tinta printer agar mendapatkan hasil foto yang baik hanya dengan kertas HVS A4. Lewat tengah malam, saya menghampirinya sambil menyodori dua lembar foto dirinya yang hasil cetaknya cukup baik, sedada dan seluruh badan.

Dia tersenyum bangga, berterima kasih, dan kembali menghilang sebentar. Lagi, secangkir kopi untuk saya.

***

Dua minggu kemudian, saya melirik tong sampah dan menemukan selembar kertas A4. Itu, foto bapak satpam dan warnanya sudah luntur. Bapak itu tidak pernah mendapatkan penghargaan yang dijanjikan kepadanya dan ia tidak berani bertanya-tanya pada atasannya. Saya? Saya juga tidak berani bertanya-tanya padanya perihal penghargaan itu.

Orang-orang memang mudah lupa.

menjelang supermoon

kalo gak salah besok2 ini mau supermoon, bulan akan membesar kira2 tujuh persen dan mendapatkan jarak terdekat dengan bumi selama delapan belas tahun sekali. keren gak tuh. tapi sayangnya lensa pendek ini memang payah. ngidam teleskop dobson yang sekaligus bisa dimount ke nikong.

inilah hasil maksimal yang bisa saya dapatkan pakai af-s 18-55 dx. sudah zoom pul, dicrop habis-habisan pula.

aktivasi otak tengah di mataram

dulu saya sempat menunggu-nunggu kalau-kalau praktek aktivasi otak tengah buka cabang di kota saya. ternyata saya ketinggalan berita. praktik itu sudah lama jalan.

saya baru tahu pas makan-makan di rumah makan di dekat kejaksaan, (itu lho, yang jualan rujak dan nasi goreng laris itu)

berikut tangkapan kamera dari ponsel pinjaman

besok kalau ada waktu luang pingin jadi mata-mata ke sana. 😀

*saya gak takut blog ini kena UU-ITE hanya karena saya jelek-jelekin gmc.


This blog has been discontinued. All the contents, and new posts can be found at blog.pdft.net

RSS latest post @ blog.pdft.net

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
Indonesia Linux Conference 2011

stats

SEO Stats powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

hits

  • 360,168 hits


This blog is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 3.0 Unported License.
pejuang mimpi tak ingkar janji