Foto untuk Bapak

“Bisa fotokan saya?” pinta Bapak itu, mengganggu keasyikan saya menjepret-jepret.

“Oh, tentu” kata saya sambil mengarahkan lensa ke wajahnya.

“Jangan di sini, saya ganti baju dulu.”

Saya jadi bingung, jadi kami mengobrol banyak sebelum memulai sesi potret untuknya.

Beliau adalah seorang petugas satpam di kantor saya, hampir 20 tahun mengabdi di sini sebagai penjaga malam. Tidak akan pernah diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil karena pendidikan formalnya tidak ada. Beliau sudah sangat tua dan kedua tangannya selalu gemetar. Perihal foto itu, ternyata beliau dijanjikan untuk dipromosikan untuk mendapatkan penghargaan dari negara karena sudah mengabdi sekian lamanya, hanya untuk jaga malam saja, dan dia diminta untuk menyerahkan foto dirinya yang dibingkai kayu dan kaca. Bagi orang yang suka begadang seperti saya, itu sungguh luar biasa. Begadang hampir 20 tahun!

Oh, lupakan tentang itu. Yang jelas, setelah mendengar banyak, saya pikir saya harus menyiapkan hal lain selain hanya kamera saja. Agaknya ini harus sedikit istimewa. Jadi, saya pulang untuk mengambil tripod dan perlengkapan lain, dan berjanji akan kembali malam harinya untuk memulai sesi potret.

Benar saja, ketika saya kembali, Bapak itu sudah berpakaian lengkap dengan seragam biru, lencana, sepatu yang sudah dipoles, serta sabuk yang mengkilat karena dibraso habis-habisan. Saya tertawa sambil menyarankan agar rileks dahulu sementara saya menyiapkan peralatan.

Tapi bapak itu tidak bisa diam. Beliau menghilang sebentar dan kembali membawa secangkir kopi untuk saya. Saya jadi malu dan berusaha serius memasang tripod.

“Sudah, pak.” kata saya sembari menyilakannya untuk berdiri di depan kamera. Saya ingin sekali bilang bahwa saya hanyalah fotografer amatir yang masih belajar dan saya tidak bisa menjanjikannya foto yang bagus. Tapi rasanya itu memalukan.

Karena ini kali pertama saya memotret orang bak dalam studio foto, saya merasa gugup sekali dan mendapati banyak sekali foto yang salah dan jelek.

Saat itu malam hari maka saya harus meningkatkan sensitifitas sensor yang berakibat berkurangnya kualitas gambar, beliau memiliki tangan yang gemetar karena usia tuanya maka saya tidak boleh menggunakan shutterspeed yang terlalu lambat, dan kamera saya bukan kamera yang bisa diandalkan. Benar-benar sulit dan menantang.

Tapi toh sesi foto itu selesai dan saya mendapati hampir 50 gambar foto dirinya yang sebagian besar adalah foto yang buruk karena kesalahan tangan saya maupun karena tubuh gemetar Bapak itu.

Saya memilih beberapa foto yang paling baik dan bertanya, “Kapan mau dicetak pak?”

“Saya minta filmnya saja. Nanti saya cuci sendiri di luar.”

Saya terkejut. Saya sedang memegang DSLR dan di kota saya segulung roll film sangatlah langka. Bapak yang sahaja ini ternyata tidak mengikuti zaman dan saya jatuh hormat atas kecuekannya terhadap dunia.

“Emm, ini tidak pakai film pak. Digital. Jadi langsung berbentuk file, err, atau berkas digital. Jadi bisa dicetak langsung. Pakai printer juga bisa.” kata saya sambil menunjuk printer di pojokan.

“Eh, boleh. Cetak sekarang kalau begitu.”

“Tapi di sini ndak ada kertas foto pak. Biar hasilnya bagus pakai…”

Dia menyisiri lemari dan menyomot selembar kertas A4 yang masih polos, “Pakai ini saja. Besar-besar ya.”

Saya tidak sampai hati menolak, jadi saya menghabiskan sisa malam itu untuk berkutat dengan tinta printer agar mendapatkan hasil foto yang baik hanya dengan kertas HVS A4. Lewat tengah malam, saya menghampirinya sambil menyodori dua lembar foto dirinya yang hasil cetaknya cukup baik, sedada dan seluruh badan.

Dia tersenyum bangga, berterima kasih, dan kembali menghilang sebentar. Lagi, secangkir kopi untuk saya.

***

Dua minggu kemudian, saya melirik tong sampah dan menemukan selembar kertas A4. Itu, foto bapak satpam dan warnanya sudah luntur. Bapak itu tidak pernah mendapatkan penghargaan yang dijanjikan kepadanya dan ia tidak berani bertanya-tanya pada atasannya. Saya? Saya juga tidak berani bertanya-tanya padanya perihal penghargaan itu.

Orang-orang memang mudah lupa.

9 Responses to “Foto untuk Bapak”


  1. 1 rinnaite 23 Maret 2011 pukul 11:50 PM

    Reaksi pertama saya saat membaca ini adalah marah. How could they?! Ya sudah kalau memang mereka tak jadi bikin penghargaannya, kita bikinkan! Apa susahnya sih bikin sebaris dua baris kalimat berisi ucapan terima kasih atas pengabdian sekian lama dan selamat?? Minta dicap kantor dikit juga ga bakal ada yang protes. Cetak yang gede, bingkaikan sekalian, pasang di dinding khusus penghargaan. Orang-orang sini memang pada belum sadar besarnya arti penghargaan walau cuma sekadar ucapan terima kasih!!

    Tapi dalam perjalanan tengah malam tadi menuju kamar mandi saya berpikir, 20 tahun memang lama, tapi kalau dibandingkan dengan pensiunan, purnawirawan, apalagi veteran perang masih belum apa-apa. Saya misalnya kalau selamat di instansi ini sampai pensiun bakal punya masa kerja 37 tahun.

    Memberi seseorang harapan untuk kemudian menghempaskannya memang kejam. Apalagi kalau orangnya lugu dan polos..

    Lalu kenapa dibuang sih fotonya?? Kok nggak menghargai potografernya gitu jadinya.. Apa bapak itu…

    Ah sudahlah ya, saya tak tahu kondisi di sana bagaimana, bagaimana sifat orang-orang di sana. Bukan hak saya menghakimi mereka.

    Btw, tanya apa susahnya Piko? Siapa tahu memang sudah hampir diberi penghargaan tapi terlupa. Kan manusiawi, kadang-kadang memang perlu diingatkan.

  2. 2 piko 24 Maret 2011 pukul 5:43 PM

    terima kasih banyak atas komentarnya yang panjang dan emosional!

    memang benar saya memotret bapak itu dan melakukan semuanya, tetapi bagian terakhir adalah fiksi, oleh sebab itu saya memposting di sini dengan tag cerpen. jadi secara kasar, ini cerita pendek fiksi, pak.🙂

  3. 3 Krisna Shop 25 Maret 2011 pukul 11:42 AM

    waah ini fiksi yah sob:mrgreen: kirain beneran hehe

    jadi inget dulu waktu mahasiswa saya dan temen-temen paling sering nongkrong di pos satpam sambil ngopi2…

    suka kasian juga.. gajinya kecil2 banget hehe:mrgreen: sampe sekarang klo maen ke kampus saya suka ngasi sedikit oleh-oleh buat satpam-satpam di kampus🙂

    anyhow.. salam kenal yah sob😛

  4. 4 Black_Claw 26 Maret 2011 pukul 1:37 AM

    Fiksi itu mencerminkan alam bawah sadar si penulis.
    Jika si bapak dalam kisah itu membuang hasil jepretan fotografernya, artinya dalam alam bawah sadar si penulis dia sadar kalau kombinasi Nikon+Nikkornya sux.

  5. 6 ordinareez 27 Maret 2011 pukul 10:22 AM

    wow endingnya ngenes

  6. 7 rinnaite 27 Maret 2011 pukul 12:17 PM

    *bejek Piko sambil cari tombol like untuk commentnya om Blek*

  7. 8 frxs 2 April 2011 pukul 8:18 AM

    selalu menarik ceritamu, teman…🙂

  8. 9 ulah_albanjary 11 Mei 2011 pukul 2:42 PM

    sungguh, saya seperti berada diantara anda dan bapak itu, saya sangat memahami perasaan anda dan juga bapak itu, saya sangat terharu, sungguh keterlaluan orang yang melupakan jasa baik orang lain terhadapnya, beliau adalah sosok yang sangat sederhana, polos, dan sangat baik


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




This blog has been discontinued. All the contents, and new posts can be found at blog.pdft.net
Indonesia Linux Conference 2011

stats

SEO Stats powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

hits

  • 317,391 hits


This blog is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 3.0 Unported License.
pejuang mimpi tak ingkar janji

%d blogger menyukai ini: