rinjani summit attack

yah, secara blogger itu biasanya tukang pamer, sekarang giliran saya. ini pertama kalinya saya mendaki gunung, tanpa persiapan dan latihan.

selengkapnya tentang gunung rinjani bisa dibaca di sini :  http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Rinjani

beruntunglah saya diajak seorang kawan, sebuah acara rinjani trekking dari perusahaan pemasok tembakau utama untuk sampoerna, sadhana arifnusa tbk. ee tunggu dulu, bukan berarti saya mendukung rokok. adalah sigit, nama teman saya itu dan saya benar-benar berterima kasih padanya. karena ini gratis, jadi barang2 yang saya bawa tidak banyak, tapi penting yaitu :

  • tas cariel
  • sleeping bag
  • sikat gigi
  • celana dalam 3 biji
  • baju lengan panjang 4, celana panjang 3, dan kaos kaki 3 pasang (ini dipakai sekaligus saat melawan dinginnya angin puncak)
  • celana pendek (buat mandi di tempat air panas)
  • senter
  • jas hujan
  • cokelat dan camilan lain
  • obat pribadi (minyak kayu putih, pil sakit kepala dan flu, antangin, etc)
  • sepatu (usahakan yang bergigi, kesalahan saya ada di sini, gara2 sepatu licin, sering jatuh terpeleset)
  • sendal

tapi saya tidak menyangka totalnya adalah 15 kilogram. mungkin karena ditambah seperangkat DSLR+lensa+tripod. hari pertama, setelah shalat jumat langsung menuju sembalun. kami kumpul2 dulu buat absen dan persiapan. setelah itu diantar 3 kendaraan ke tempat pelepasan : truk, mobil 4wd, dan mobil pick up carry. sialnya saya dapet mobil pick up dengan roda kecil itu. tapi saya kagum sama si supir, meski jalannya sangat berantakan dan benar-benar berselera offroad, mobil pick up itu galak sekali. kami dilepas di dataran yang sedikit lebih tinggi dari permukiman sembalun. banyak bunga di sana.

jam 5, kami mulai jalan kaki. jalanan tidak begitu menanjak dan lebih banyak rumput ilalang tinggi sedang. kami sampai di pos 1 saat gelap sudah menguasai langit. pos 1 adalah sebuah tempat dengan sedikit tanah lapang dan sebuah atap dari seng dan kayu yang sudah ambruk, berikut sebuah tong sampah dari beton dan sumber air di dekat situ. beberapa pendaki memilih membangun tenda dan bermalam di situ. kami berhenti untuk makan malam (nasi bungkus) kemudia jalan lagi. rencananya, jam 12 malam sudah sampai di pos 3.

entah karena saya semangat atau bagaimana, saya meninggalkan teman saya dan sampai di pos 3 jam 9 malam. tetapi tetap saja saya harus menunggu mereka agar bisa berteduh di tenda.

malam itu istirahat.

esok pagi, kami jalan lagi dan sigit bilang mulai dari pos 3 lah pendakian sesungguhnya karena di sana ada bukit penyesalan. entah kenapa disebut begitu.

ternyata bukit-bukit itu memang menjengkelkan. menanjak cukup curam sampai plawangan, salah satu barisan puncak bibir kaldera rinjani. tapi saya masih semangat dan sampai di plawangan jam 3 sore. banyak sekali tenda didirikan di plawangan sembalun. terutama bule.

sore itu istirahat karena jam 2 malam harus sudah bangun untuk muncak. kami harus daftarkan nama kami dan saya rasa itu lucu, karena pada akhirnya, banyak yang menyerah dan turun balik ke plawangan.

sigit bilang, dinginnya luar biasa, jadi saya mengenakan 4 lapis baju lengan panjang plus jaket, 3 lapis celana panjang, 3 lapis kaos kaki, dan 1 jaket yang saya kalungkan di kepala saya. saya membawa kamera, cokelat, senter, dan tongkat yang terikat bendera sadhana. sigit bawa air, termasuk milik saya.

tebalnya pakaian saya ternyata bisa melawan dingin, tetapi tidak dengan telapak tangan dan wajah saya. kulit saya berwarna merah, mengeras dan pecah-pecah karena dingin. saya masih cukup semangat dan meninggalkan sigit. tapi akhirnya agak menyesal karena botol air saya ada padanya. tanpa senter, mustahil bisa muncak saat malam, karena kalau nebeng cahaya ke orang lain, ujung2nya akan terpencar. beberapa orang menghampiri saya dari arah berlawanan dan bilang bahwa mereka tidak kuat. saya sempat jadi down. jalan menuju puncak berbeda dengan jalan dari sembalun ke plawangan. jalannya berbatu campur pasir. selangkah kita menginjak kaki, setengahnya turun lagi. itu benar-benar membuat putus asa. tapi saya jalan terus dan tiba di puncak tepat jam 5.30 subuh. cahaya matahari mulai muncul, kabut menghilang, dan pemandangan gunung rinjani lengkap dengan danau dan gunung kecilnya terhampar di depan mata saya. bahkan saking terkagum-kagumnya, saya lupa shalat subuh, doh.

setelah bersenang-senang di puncak, kami turun. sayangnya karena kelamaan di puncak, ditinggal rombongan ke danau. jadi saya terpisah dan jalan berdua dengan seseorang yang kakinya terkilir. lambat sekali jalannya dan kami sampai di danau jam 4 sore. oiya, jalan menuju danau itu lebih curam dan berbatu-batu. seringkali saya harus merangkak. kalau boleh dibilang, di antara semua rute, yang tersulit adalah turun ke danau, bukan muncak, atau naik dari danau ke plawangan. di sanalah kaki saya mulai terasa sakit. saat sampai di danau, sudah banyak yang membangun tenda dan sibuk mancing. ikannya besar-besar dan sangat mudah didapat.

oiya, salah satu kendala kebanyakan pendaki gunung adalah buang air besar. kebelet itu benar-benar mengganggu kesenangan kita. jadi saya BAB di pinggir sungai aliran dari danau segara anak. nyaman benar dan saya ndak nyangka saya BAB selama hampir 2 jam.  sebelum balik ke perkemahan, saya sempat nyemplung di permandian air panas. nikmat benar. dilihat dari rencana sebelumnya, seharusnya menginap di danau selama 2 malam. tetapi karena waktu mepet dan hari rabu harus sudah ngantor, kami balik keesokan harinya.  dari danau ke plawangan kemudian ke sembalun bisa ditembuh dalam sehari, dari jam 7 pagi sampai jam 4 sore. di sembalun istirahat semalam dan besoknya balik ke mataram. esoknya lagi harus sudah ngantor dengan kaki agak pincang.

tapi rasa sakit dari rinjani tidak lama, 2-3 hari kaki saya sudah sehat.🙂

porter

adalah sekelompok orang yang saya kagumi. badan mereka rata-rata kecil, tetapi kaki mereka kuat luar biasa. porter adalah orang yang dibayar untuk membantu kita, membawa kelebihan barang2 kita (yang mana sering kali lebih berat dari satu paket cariel penuh yang masing2 kita bawa, seperti tenda, alat masak, air, etc). porter juga bertugas membawakan kita air siap minum dari sumber air, mendirikan tenda, dan memasakkan kita makanan. sungguh pendaki benar-benar dimanjakan oleh porter.

kaki mereka kuat dan kebanyakan mereka berketurunan. beberapa membawa anak2 mereka untuk melatih kakinya. hanya dengan sendak jepit, mereka bisa berlari di bukit2. porter juga bisa menjadi penunjuk jalan.

saya jadi membayangkan bagaimana kira2 kalau saya mendaki rinjani tanpa porter, semua diurus sendiri. suatu saat saya akan mencoba.

2 Responses to “rinjani summit attack”


  1. 1 frxs 23 Mei 2011 pukul 12:09 PM

    ah, melet2in kamu teman! saya mau jadi orang lombok tapi belum ke rinjani!

  2. 2 olanuxer 7 Juni 2011 pukul 10:02 PM

    jangan lupa mendaki gunung kembar milik cewek…wowwwwwwwwww itu lebih nikmat piko😀😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




This blog has been discontinued. All the contents, and new posts can be found at blog.pdft.net
Indonesia Linux Conference 2011

stats

SEO Stats powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

hits

  • 317,391 hits


This blog is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 3.0 Unported License.
pejuang mimpi tak ingkar janji

%d blogger menyukai ini: