Colemak

Siilakan kunjungi :  http://colemak.com

Dulu saya keras kepala, masih bertahan dengan cara mengetik lompat-lompat, tanpa menggunakan kelingking dan jempol, dan meraih sekitar 40 kata per menit. Setelah chatting langsung dengan seorang kenalan dan menyaksikan secara realtime kecepatan mengetiknya mencapai 120 WPM (dulu ada apps di facebook untuk balapan mengetik dengan ilustrasi mobil balap) dalam bahasa Inggris, saya mulai belajar mengetik 10 jari. Saya sering menganggap masalah ketik-mengetik ini sebagai sebuah permainan, mencoba menantang diri sendiri. Saya suka gtypist, yang banyak membantu saya meningkatkan kecepatan mengetik dan juga apps2 untuk menantang seseorang di internet dalam adu cepat. Mungkin kebawa2 kebiasaan bermain rubik’s cube.🙂

Sampai akhirnya saya  mencapai rata 90 WPM saat menulis sebuah lirik lagu atau kata-kata yang saya hafal di luar kepala. Ini membantu saya di banyak hal, terutama pekerjaan. Tetapi kadang-kadang tangan terasa sakit, ruas di pergelangan tangan kiri, di belakang jari tengah, manis dan kelingking. Saya sempat berniat mengganti ke layout keyboard lain, dvorak, tetapi menundanya setelah percobaan pertama yang sangat sukar. Lagi pula, ketika saya mencopot tombol-tombol dari papan ketik di komputer jinjing saya, saya menemukan bahwa tombol karakter ‘Z’ berbeda ukuran dengan tombol ‘?’, padahal di skema keyboard dvorak, posisi ‘Z’ ada di ‘?’. Mengecewakan memang.

Lama kemudian, di salah satu kopdar kaipang, saya kagum sama Pak Ajoeh, yang bisa menggunakan 2 layout keyboard, qwerty dan colemak, dengan kecepatan stabil. Malam itu juga saya langsung congkel semua tombol papan ketik dan menggantinya ke layout colemak. Seperti percobaan pertama di dvorak, colemak juga sangat sukar. Pak ajoeh bisa beradaptasi dengan cepat, semingguan katanya. Maka saya seharusnya juga bisa.

Dua minggu ini saya menggunakan keyboard Colemak, yang diklaim lebih ergonomis ketimbang qwerty. Di banyak review, dvorak masih lebih baik dari colemak, tetapi satu-satunya alasan yang saya pikir colemak lebih mudah karena membiarkan tombol zxcv yang mana benar-benar berguna untuk pekerjaan cepat.

Bagaimana proses adaptasi?

Saya mencoba mengingat-ingat ketika pertama kali mengetik, yaitu saya melihat keyboard. Saya menggunakan gtypist untuk pembelajaran tanpa lihat keyboard, dan setiap harinya masih mengetik dengan cara melihat papan ketik. Sangat menyiksa memang, tetapi saya yakin ini hanya masalah waktu.

Tombol yang paling sulit adalah S dan R. S hanya dipindah satu tombol ke kanan dan R menggantikan posisinya. Setiap mengetik S, selalu tertekan R.  Sementara tombol lain tidak begitu sulit. Ketika sedang menggunakan colemak tiba-tiba menggunakan komputer lain yang qwerty, adaptasinya cukup sulit, begitu juga sebaliknya ketika balik ke colemak.

Semoga saya bisa konsisten.

Oya, migrasi ke colemak ini membawa beberapa perubahan besar, salah satunya, orang yang biasa pinjam laptop makin sungkan minjam setelah sempat bingung dengan skema papan ketik yang baru.😛

0 Responses to “Colemak”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




This blog has been discontinued. All the contents, and new posts can be found at blog.pdft.net
Indonesia Linux Conference 2011

stats

SEO Stats powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

hits

  • 316,997 hits


This blog is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 3.0 Unported License.
pejuang mimpi tak ingkar janji

%d blogger menyukai ini: