Arsip untuk Maret, 2012

Masa Kecil yang Diwariskan

Adalah Mr. D, umur 30<, seorang pegawai di kantor saya yang punya masa kecil yang dia tidak menyesal terkunci di sana, yaitu masa-masa dimana tokusatsu Kamen Rider dan anime jadul macam Saint Seiya masih tayang. Pengetahuannya tentang anime dan tokusatsu masa lalu cukup mengagumkan. Hampir setiap hari Mr. D menghabiskan seperempat bandwith internet kantor secara kontinyu untuk mengunduh berkas-berkas film tokusatsu dan anime, memenuhi ‘flashdisk dinas’ nya dengan film-film tersebut, memburning berkeping-keping CD untuk ditonton di rumah. Wota?

Haha. Bukan. Mr. D bahkan tidak begitu mengerti apa sebenarnya itu internet, tidak begitu paham apa itu komputer, tidak membaca manga, tidak punya koleksi khusus, bukan nerd, bukan geek. Tetapi yang bersangkutan menyelamatkan masa kecil anaknya yang masih kecil dan unyu dengan semua berkas multimedia yang dia unduh setiap harinya.

Saya sebagai admin yang baik, seharusnya memblokir dan membatasi bandwith komputer yang Mr. D gunakan. Namun saya pikir apa yang Mr. D lakukan ada benarnya, jadi saya membiarkannya. Saya yakin anime dan tokusatsu yang ada di masa kecil dulu, mempengaruhi sisi imajinatif otak kita. Fantasi itu benar-benar menyenangkan untuk anak-anak, bukan sinetron busuk atau acara musik tidak jelas yang sekarang mendominasi kanal TV frekuensi bebas. Mr. D menyelamatkan anaknya, mewariskan masa kecilnya.

True story.

Iklan

unduh direktori secara rekursif dengan wget.

ditulis sebagai catatan pengingat. caranya? simpel. contoh :

wget -r --no-parent http://ck.kolivas.org/patches/3.0/3.3/

In Memoriam : MekBuk

Halo.

Kemarin saya diundang resepsi pernikahan sepupu saya. Belum selesai saya berpikir tentang peledakan populasi di keluarga besar saya akibat perkawinan-perkawinan yang mendadak, saya melihat sebuah iBook G4 dipajang di samping sound system acara resepsi tersebut.

Hahah, saya langsung terhenyak dan mengingat dengan cepat kenangan saya akan MacBook saya 3 tahun lalu. Well, saya bukan benar-benar Apple fanboy, saya tidak punya iMac besar, atau iPad atau kaos bergambar buah apel tergigit, tetapi saya sejujurnya saya mengagumi produk buatan mereka hampir dari segala segi.

Prosesor 1.3Ghz, RAM 512MB, IDE HDD 40GB, Mac OS X 10.4.x. Meskipun demikian jadul, saya tidak keberatan menukar netbook saya yang RAMnya sudah diupgrade dengan kotak putih yang manis itu. Dan saya pun yakin pemiliknya tidak akan berkenan.

Jadi, ini dia foto yang saya ambil.

Berikut foto kenangan saya bersama si Mekbuk, macbook white generasi 2.1. Diposting di sini sebagai penghormatan untuk mesin yang pernah menemani saya belajar banyak hal pada masa-masa SMA.

Yang kuning itu stiker, bahan yang sama yang dipakai untuk stiker simbol lalu lintas di jalanan. Stiker itu mengandung logam untuk pemantul cahayanya dan saya sangat tidak menyarankan untuk ditempel di lid laptop karena menyebabkan sinyal wifi berkurang drastis dan sering putus nyambung.

Mekbuk lepas dari tangan saya karena dirampok.

Slackpkg

Slackware tidak seburuk yang dibayangkan. Ada sisi mudahnya, salah satunya slackpkg, paket manajer semacam apt-get. Slackpkg ada di direktori slackware$arch/ap/. Pasang slackpkg.

#installpkg slackpkg*

Sunting berkas /etc/slackpkg/mirrors dan masukkan server repositori yang ingin digunakan. saya menggunakan repo UKDW yang dikelola Mas Willy. Berikan simbol comment (#) di semua baris dan tambahkan baris ini.

# Indonesia,
 http://repo.ukdw.ac.id/slackware/slackware64t/

Kemudian perbarui slackpkg anda. Hal ini mirip dengan ‘apt-get update’, untuk mendapatkan informasi paket terbaru. Sekarang tinggal pasang paket yang diinginkan.

#slackpkg install mozilla-firefox

atau memperbarui paket

#slackpkg upgrade mozilla-firefox

atau mencari nama paket bila anda bingung apa nama paket di repo slackpkg. Kadang-kadang nama paket berbeda di setiap disribusi.

#slackpkg search firefox
 Looking for firefox in package list. Please wait... DONE
 The list below shows all packages with name matching "firefox".
 [ installed ] - mozilla-firefox-11.0-x86_64-1_slack13.37
 You can search specific files using "slackpkg file-search file".

Kalau update semua paket seperti pacman -Syu, gunakan :

#slackpkg upgrade-all

Di Slackware, apakah saya akan kehilangan bahagia seperti saat setiap kali menjalankan pacman -Syu di Arch? Tidak. 🙂

UPDATE :

Oya, setelah fresh install, slackpkg , installpkg, pkgtool, dan lainnya tidak bisa dijalankan oleh user biasa. Masalahnya karena PATH environmentnya belum dimasukkan. Coba lihat dengan user root

#which slackpkg

/usr/sbin/slackpkg

#echo $PATH

/usr/sbin:/usr/local/bin:/usr/bin:/bin:/usr/games:/usr/lib64/java/bin:/usr/lib64/kde4/libexec:/usr/lib64/qt/bin:/usr/share/texmf/bin:.

Sementara jika pakai user biasa,

$echo $PATH

/usr/local/bin:/usr/bin:/bin:/usr/games:/usr/lib64/java/bin:/usr/lib64/kde4/libexec:/usr/lib64/qt/bin:/usr/share/texmf/bin:.

Yoi, path /usr/sbin tidak ada. Masukkan /usr/bin dan lihat lagi PATH environment-nya/

$export PATH=/usr/sbin:$PATH
$export PATH=/sbin:$PATH
$echo $PATH
/usr/sbin:/usr/local/bin:/usr/bin:/bin:/usr/games:/usr/lib64/java/bin:/usr/lib64/kde4/libexec:/usr/lib64/qt/bin:/usr/share/texmf/bin:.

Termasuk juga perintah reboot, halt, ifconfig dan perintah-perintah lainnya yang berkaitan dengan sistem

Skema Papan Ketik Colemak Permanen di Slackware

Saya menemukan bahwa Colemak didukung di XFCE pada Slackware 13.37. Tetapi ketika pindah ke mode terminal/tty, saya mendapatkan QWERTY lagi.

Halaman di colemak.org menjelaskan caranya :

Silakan unduh berkas keymap colemak.
Ekstrak dan pindah ke direktori hasil ekstrak.
Ketik dan jalankan : setxkbmap us; xmodmap xmodmap/xmodmap.colemak && xset r 66
Atau cara kedua : letakkan berkas colemak.iso15.kmap di /usr/share/kbd/keymaps dan jalankan loadkeys /usr/share/kbd/keymaps/colemak.iso15.kmap

Tetapi itu tidak permanen, setiap login kembali mesti menjalankan lagi. Saya mempertimbangkan penerapan colemak yang lebih luas, yang bahkan login console pun pakai colemak. Saya dapatkan petunjuk ini di sini.

Pastikan berkas colemak.iso15.kmap sudah ada di /usr/share/kbd/keymaps. Kemudian edit berkas /etc/rc.d/rc.keymaps dengan hak root.


#!/bin/sh
# Load the keyboard map. More maps are in /usr/share/kbd/keymaps.
if [ -x /usr/bin/loadkeys ]; then
 /usr/bin/loadkeys colemak.iso15.kmap
fi

Ubah permission agar bisa dieksekusi.

#chmod a+x /etc/rc.d/rc.keymaps

Reboot dan dapatkan sistem full-colemak. Err, tapi ketika masih di bootloader, baik lilo maupun grub, apalagi BIOS, kita tetap pakai QWERTY.

Memulai Slackware

halo.

Sebenarnya, kadang-kadang saat saya menggunakan perangkat lunak terbuka, saya memaksakan diri. Memaksakan diri di sini dalam artian berusaha terbiasa dengan fitur paling minim dan jelek yang bisa diatur oleh sistem, saya tidak berleha-leha dengan KDE atau GNOME, tapi menggunakan openbox. Lebih memilih alternatif terminal ketimbang GUI, misal mc pengganti file manager dan filezilla(ftp), atau cmus sebagai pemutar musik pengganti amarok atau audacious. Memang terbukti ampuh untuk memigrasikan kebiasaan. 6 bulan belakangan ini, saya hidup full GNU/Linux, termasuk penggunaan filesystem ext3 untuk data (/home). Lupakan tulisan saya mengapa NTFS lebih baik dan aman untuk penyimpanan data (dari sisi recoverable). Atau menggunakan Colemak ketimbang QWERTY, disamping saya selalu suka dengan sesuatu yang bukan mainstream. Merepotkan? Susah? Tidak, justru menyenangkan dan saya tidak menyesal sudah menghabiskan banyak waktu dengan semua itu.

Di PC, saya mengunakan Mac. Oke, itu memang ilegal tetapi saya tidak bisa menahan diri dengan yang satu ini. Di komputer jinjing, saya menggunakan Arch Linux (sebagai default), Windows 8 Consumer Preview (mumpung lisensinya sah :P), dan terakhir yang baru saja dipasang, Slackware. Saya hanya menggunakan Slackware untuk server apache, proxy, dan dns dengan konfigurasi standar. Sebenarnya saya sudah mulai mencoba Slackware pertama kalinya lebih dari 2 tahun yang lalu, tapi ujung-ujungnya saya tidak kuat menghadapi distribusi super-merepotkan ini (saya belum coba gentoo). Saya memang pernah bilang Arch juga merepotkan, namun tidak sekejam Slackware. Wiki arch sangatlah lengkap dan jelas. Kalau Slackware mesti lebih banyak googling, lebih banyak cangkir kopi, terutama mengenai dependensi. 😛

Kenapa Slackware? Tentu tidak relevan menggunakan kelebihan (yang saya dengar dari orang lain) sebagai alasan karena saya sendiri belum mencoba lebih dalam. Sejujurnya, alasannya karena saya pikir Slackware itu keren. Dilihat dari namanya saja sudah menunjukkan karisma. Dan Blek juga pakai jaket Slackware Saya pikir bodoh kelihatannya menggunakan jaket Slackware atau menempel stiker Slackware tetapi tidak menggunakan Slackware. Alasan kedua, saya ingin belajar lebih banyak. Misi akhir, saya ingin mengunakan Slackware sebagai distribusi utama sehari-hari. Ah, saya merasa terlambat melakukan hal ini. *merasa tua

Berbagi home folder

Nah, karena saya masih menggukan Arch untuk keperluan mendesak buat kerja (selama urusan di Slackware belum rampung, misal saya belum pasang libreoffice), saya menginginkan menggunakan nama user dan direktori yang sama. Misal, user ‘piko’, dengan direktori home ‘piko’.

Saya membuat user ‘piko’ dengan UID dan GID yang sama dengan Arch, sehingga masalah kepemilikan berkas dan direktori beres. Nah, saya bilang beres, memang beres untuk penggunaan di console/terminal.

Bagaimana kalau menggunakan server X? Masalah mulai muncul karena hampir setiap aplikasi yang berjalan di atas X menyimpan berkas dan direktori tersembunyi (hidden) yang berisi konfigurasi di direktori user. Terutama .serverauth yang menyimpan catatan nomor proses yang berbeda setiap kali dijalankan. Saya sih tidak masalah kalau konfigurasinya saling timpa, malah senang karena tidak perlu lagi repot-repot menyesuaikan. Seolah-olah sinkron. Tema, ikon, dan lainnya bisa dilengkapi. Mungkin bisa bermasalah jika versi paketnya beda jauh, barangkali aturan konfigurasinya berbeda dan malah error.

Kembali ke .serverauth tadi. error yang muncul jika menjalankan startx :

xauth: file /home/pdft/.serverauth.23425 doest not exist

Setiap saya mencoba kembali, angka di serverauth berubah secara teratur, bertambah 30. misal dari angka di atas, menjadi serverauth.
23455. Jika saya menjalakan perintah lain, misal menjalankan ls atau membuka berkas dengan vi, kemudian menjalankan startx lagi, angka di
serverauth bertambah lebih banyak lagi. Kemudian saya mencoba menghitung berapa angka yang diperlukan untuk menjalankan touch .serverauth.xxxxx dan memprediksi angka yang akan muncul. Seringkali saya beruntung dan akhirnya slackware masuk X.

Tetapi ketika balik ke arch, masalah yang sama terulang lagi. saya harus memprediksi angka .serverauth.xxxxx. Jika berhasil maka ketika reboot
ke slackware, masalah ini kembali muncul.

Saya menyerah karena memang direktori home yang dibagi pakai itu tidak baik untuk sistem. Saya menggunakan cara yang umum, yaitu data disimpan di direktori yang bisa diakses bersama di kedua distribusi. Agar lebih rapi, saya menyimpan data di /home/data kemudian membaginya dalam kategori-kategori besar (seperti Documents, Downloads, Music, etc) kemudian membuat softlink dari direktori-direktori tersebut ke masing-masing direktori pengguna.

Beres. Dan lumayan rapi. 🙂

Ngomong-ngomong, saya mulai memperhatikan EYD untuk blogging, terutama huruf besar kecil. Abaikan kata pertama dari paragraf ini. 🙂

UPDATE : Ya ampun saya bahkan lupa bahwa saya pernah menulis tentang memulai Slackware. (doh).  Dulu masih belum konsisten, hehe.

https://pikopages.wordpress.com/2011/05/21/konfigurasi-slackware/

Nulis apa ya?

Ketika saya kembali ke depan layar komputer, saya lupa semua yang ingin saya tulis. Saya hanya membuka terminal dan melakukan hal-hal bodoh. Banyak proyek menulis yang tidak selesai-selesai. 😦

Saya berharap punya mesin pencatat otomatis (misal minisd card bisa diselipin di belakang kepala dan ada perangkat keren di dalam kepala saya) yang mencatat semua yang saya pikirkan. Kemarin sempat pegang e63 (sebelum tukar ponsel dengan kakak saya) dan cukup membantu saya mencatat semua yang ingin saya ingat. Masalahnya, ponsel itu sendiri mudah sekali menghilang dari pandangan dan ingatan saya.

Saya jadi menginginkan ponsel Android dengan Dropbox terkonfigurasi.

 


This blog has been discontinued. All the contents, and new posts can be found at blog.pdft.net

RSS latest post @ blog.pdft.net

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
Indonesia Linux Conference 2011

stats

SEO Stats powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

hits

  • 360,168 hits


This blog is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 3.0 Unported License.
pejuang mimpi tak ingkar janji