2 – Donny Dhirgantoro

Setelah berbulan-bulan vakum baca, akhirnya saya bisa menumbuhkan kembali minat baca saya. Saya akui itu memang penyia-nyiaan waktu, kesalahan besar. Bagaimana kalau saya tidak berhasil membaca 1000 buku layak baca sebelum saya mati? Rugi kan. Nah, apa yang saya tulis kali hanya pendapat pribadi yang pastinya selalu ada perbedaan pandangan dengan orang lain.

Awalnya saya memilih membeli 5cm, karya Donny Dhirgantoro. Saya sudah membacanya setengah (pinjam) dan saya pikir lumayan bagus. Tapi sayangnya di kota Mataram tidak ada Gramedia. Hanya ada Karisma (terbesar namun tidak lengkap), Airlangga (lengkap dan murah), dan satu lagi toko buku kecil–yang saya lupa namanya–yang hanya menjual buku2 populer (masuk kategori tidak lengkap juga). 5cm tidak ada di toko buku manapun.

Untuk penulis yang sama, saya menemukan ‘2’. Orang2 tidak tahu menahu ketika ditanyakan apakah itu bagus, karena buku itu baru dirilis. Resensi di internet juga tidak terlalu banyak. Tapi buku itu saya beli dan malam itu juga saya dikecewakan. Dari awal plot, penulis sudah memberi kita misteri tentang apa yang terjadi dengan tokoh utama, Gusni. Tapi kita diminta menunggu lebih lama dengan menyimak cerita selanjutnya. Gayanya agak mirip Lupus, lebih banyak percakapan sepele dan tidak cocok dengan genre yang saya suka, bacaan berat. Lagi pula kekuatan Lupus memang terletak pada lelucon dalam percakapan-percakapan. Di ‘2’, menanti plot dengan percakan sepele cukup mengganggu.

Membaca ‘2’ setelah membaca 5m seperti membaca buku-buku Habiburrahman El-Shirazy setelah Ayat-ayat cinta. Yang kedua tidak selalu sekeren yang pertama.

Ngomong-ngomong saya suka ke toko buku. Jika beruntung melihat buku yang segelnya terbuka, saya akan membacanya sepintas-sepintas dan seringkali menggumam, ‘Ya ampun, saya bisa menulis sesuatu yang lebih baik dari ini. Jika buku seburuk ini bisa diterbintkan, mengapa saya tidak?’. Meskipun terdengar agak sombong dan egois, mood menulis saya sering membaik.

Ketika sampai di rumah, saya menulis beberapa paragraf kemudian macet lagi secara mendadak dan untuk waktu yang lama. Menulis ternyata bukan hanya masalah tata bahasa dan gaya, tetapi ide dan plot juga sangat penting. Dan juga, menggabungkan (kadangkala perlu pemisahan) apa yang ingin benar-benar kita tulis dengan apa yang kira-kira yang ingin dibaca pembaca benar-benar sangat sulit.

1 Response to “2 – Donny Dhirgantoro”


  1. 1 fraxis 4 April 2012 pukul 6:58 AM

    selamat untuk moodnya yg kembali bersinar… mood saya sendiri jalan-jalan tak tau arah pulang


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




This blog has been discontinued. All the contents, and new posts can be found at blog.pdft.net
Indonesia Linux Conference 2011

stats

SEO Stats powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

hits

  • 317,317 hits


This blog is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 3.0 Unported License.
pejuang mimpi tak ingkar janji

%d blogger menyukai ini: