Archive Page 2

EXT3-fs: sdaX couldn’t mount because of unsupported optional features (240)

Pesan galat ini muncul di awal booting, tetapi bisa diabaikan dan masih bisa masuk sistem. Tapi tidak enak juga melihat pesan galat seperti itu setiap booting. Saya temukan solusinya di sini : http://www.linuxquestions.org/questions/slackware-14/couldnt-mount-because-of-unsupported-optional-features-240-a-843675/.

Hal ini terjadi karena kernel mendahulukan ext2 dan ext3 sebelum ext4. Tambahkan rootfstype=ext4 di baris append di /etc/lilo.conf

append="quiet vt.default_utf8=0 rootfstype=ext4"

Kemudian tulis konfigurasi lilo ke MBR.

sudo lilo
Iklan

Trip to Tiu Pupus – Tiu Kelep

Yah, saya pernah kesana bareng Blek, Mbak Yeni, aduhmaafkamanyasiapaya, dan Cepul. Waktu itu musim hujan, waktu yang salah untuk mengunjungi air terjun gede. Lupakan.

Mas Teguh datang ngegembel dari Dompu. Kaipang sempat kopdar meski hambar karena yang datang sedikit. Setelah membuat keputusan mendadak untuk ikut jalan-jalan ke kawasan utara Lombok, saya tidak menyesal esoknya.

Kami ke Tiu Pupus dulu sebelum ke Tiu Kelep, air terjunnya lumayan, lebih pendek dari Tiu Kelep, tapi lebih bagus dari Sendang Gile. Di sana sepi, hanya ada beberapa wisatawan lokal.

Kawasan Tiu Kelep banyak berubah, pohon-pohon tumbang, menyulitkan perjalanan ke air terjunnya. Ngomong-ngomong ada bule yang hampir celaka karena mencoba bermain-main dengan selokan air yang deras dan kami menyelamatkannya, Teguh jadi pahlawan. Kalau tidak, mungkin sudah terjebak di dalam terowongan air yang saya tidak tahu dimana ujung keluarnya.

Pendeknya, kami banyak makan-makan.

Pas pulang, saya sempat ditinggal begitu lama. Dikiranya saya sudah naik di belakang. Saya ketakutan karena terlantar di jalanan antah berantah antara Pemenang dan Senggigi yang tidak ada rumah penduduknya. Saya jalan kaki beberapa menit sambil memohon kepada siapa saja yang lewat agar mau mengangkut saya, sebelum akhirnya temannya si Teguh ini muncul sambil ketawa-ketiwi. Dia ngomong sendiri berkilo-kilometer tanpa menyadari saya tidak ada di belakangnya.

 

error JW_SIG_CFU & JW_SIG_PRG di Joomla 2.x

ganti permission di folder cache secara rekursif menjadi 777.

LXmed : Menu Editor untuk XFCE di Slackware 13.37

Saat masih pakai arch, saya menggunakan openbox dan nyaman dengan obmenuconfig. Bagaimana dengan XFCE di slackware (64 multilib)? Yep, LXmed adalah piranti lunak untuk menyunting menu pada LXDE, sebuah desktop manager yang lebih ringan dari pada XFCE, dan juga bekerja untuk XFCE. Silakan unduh paketnya di http://lxmed.sourceforge.net/

Ekstrak dan jalankan ./install.sh. mudah dan cepat, tetapi tidak berhenti sampai di sini. Kita membutuhkan gksu dan jre untuk bisa menjalankan lxmed. jre bisa diinstall dari dvd slackware, terletak di source/l/jre. Umm, yeah, normalnya pasang jre dulu. hehe. Sementara paket gksu (sesuaikan versi slackware dan arsitektur) bisa ditemukan di belantara internet dengan mudah, google always be our friend.

Bangun paket dengan slackbuild.

sudo ./jre.Slackbuild

paket akan terbentuk di /tmp/

sudo installpkg /tmp/jre-6u27-x86_64-1.txz

jalankan lxmed dari xfcemenu>settings>main menu editor. kita akan mendapati lxmed tidak bekerja karena pengembang lxmed menganaktirikan Slackware.

cari dimana binary lxmed.

which lxmed

kita akan tahu bahwa ternyata itu bukan berkas binary, melainkan shell script, dengan melihat dalemannya.

#!/bin/bash

# discovered distro; Debian by default
DISTRO='Debian'

# distro names
DEBIAN='Debian'
SUSE='SuSe'
REDHAT='RedHat'
MANDRAKE='Mandrake'

Slackware tidak ada, hahaha. dan di baris akhir :

if [ "${DISTRO}" = "${SUSE}" ];
then
 gnomesu --command "java -jar /opt/lxmed/LXMenuEditor.jar"
else
 gksu --message "Please enter password to run lxmed in fully operational mode:" 'java -jar /opt/lxmed/LXMenuEditor.jar'
fi

Nyatanya perintah gksu tersebut tidak jalan di Slackware. hapus saja semua barisnya dan masukkan satu baris berikut

java -jar /opt/lxmed/LXMenuEditor.jar

Simpan dan jalankan di terminal

sudo lxmed

Sebuah jendela aplikasi java akan muncul, itulah lxmed. Sampai di sini semua sudah bekerja dengan baik. Tinggal langkah terakhir, edit menu settings>main menu editor. ganti command ‘lxmed’ menjadi ‘gksu lxmed’. tanpa tanda petik.

Sekarang kita bisa mengakses lxmed dari menu xfce dan gksu bekerja untuk menanyakan password root. 🙂

no pict = hoax 😛

how linux is built

dari Linux Foundation.

2 – Donny Dhirgantoro

Setelah berbulan-bulan vakum baca, akhirnya saya bisa menumbuhkan kembali minat baca saya. Saya akui itu memang penyia-nyiaan waktu, kesalahan besar. Bagaimana kalau saya tidak berhasil membaca 1000 buku layak baca sebelum saya mati? Rugi kan. Nah, apa yang saya tulis kali hanya pendapat pribadi yang pastinya selalu ada perbedaan pandangan dengan orang lain.

Awalnya saya memilih membeli 5cm, karya Donny Dhirgantoro. Saya sudah membacanya setengah (pinjam) dan saya pikir lumayan bagus. Tapi sayangnya di kota Mataram tidak ada Gramedia. Hanya ada Karisma (terbesar namun tidak lengkap), Airlangga (lengkap dan murah), dan satu lagi toko buku kecil–yang saya lupa namanya–yang hanya menjual buku2 populer (masuk kategori tidak lengkap juga). 5cm tidak ada di toko buku manapun.

Untuk penulis yang sama, saya menemukan ‘2’. Orang2 tidak tahu menahu ketika ditanyakan apakah itu bagus, karena buku itu baru dirilis. Resensi di internet juga tidak terlalu banyak. Tapi buku itu saya beli dan malam itu juga saya dikecewakan. Dari awal plot, penulis sudah memberi kita misteri tentang apa yang terjadi dengan tokoh utama, Gusni. Tapi kita diminta menunggu lebih lama dengan menyimak cerita selanjutnya. Gayanya agak mirip Lupus, lebih banyak percakapan sepele dan tidak cocok dengan genre yang saya suka, bacaan berat. Lagi pula kekuatan Lupus memang terletak pada lelucon dalam percakapan-percakapan. Di ‘2’, menanti plot dengan percakan sepele cukup mengganggu.

Membaca ‘2’ setelah membaca 5m seperti membaca buku-buku Habiburrahman El-Shirazy setelah Ayat-ayat cinta. Yang kedua tidak selalu sekeren yang pertama.

Ngomong-ngomong saya suka ke toko buku. Jika beruntung melihat buku yang segelnya terbuka, saya akan membacanya sepintas-sepintas dan seringkali menggumam, ‘Ya ampun, saya bisa menulis sesuatu yang lebih baik dari ini. Jika buku seburuk ini bisa diterbintkan, mengapa saya tidak?’. Meskipun terdengar agak sombong dan egois, mood menulis saya sering membaik.

Ketika sampai di rumah, saya menulis beberapa paragraf kemudian macet lagi secara mendadak dan untuk waktu yang lama. Menulis ternyata bukan hanya masalah tata bahasa dan gaya, tetapi ide dan plot juga sangat penting. Dan juga, menggabungkan (kadangkala perlu pemisahan) apa yang ingin benar-benar kita tulis dengan apa yang kira-kira yang ingin dibaca pembaca benar-benar sangat sulit.


This blog has been discontinued. All the contents, and new posts can be found at blog.pdft.net

RSS latest post @ blog.pdft.net

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
Indonesia Linux Conference 2011

stats

SEO Stats powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

hits

  • 360,168 hits


This blog is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 3.0 Unported License.
pejuang mimpi tak ingkar janji