Posts Tagged 'colemak'

Skema Papan Ketik Colemak Permanen di Slackware

Saya menemukan bahwa Colemak didukung di XFCE pada Slackware 13.37. Tetapi ketika pindah ke mode terminal/tty, saya mendapatkan QWERTY lagi.

Halaman di colemak.org menjelaskan caranya :

Silakan unduh berkas keymap colemak.
Ekstrak dan pindah ke direktori hasil ekstrak.
Ketik dan jalankan : setxkbmap us; xmodmap xmodmap/xmodmap.colemak && xset r 66
Atau cara kedua : letakkan berkas colemak.iso15.kmap di /usr/share/kbd/keymaps dan jalankan loadkeys /usr/share/kbd/keymaps/colemak.iso15.kmap

Tetapi itu tidak permanen, setiap login kembali mesti menjalankan lagi. Saya mempertimbangkan penerapan colemak yang lebih luas, yang bahkan login console pun pakai colemak. Saya dapatkan petunjuk ini di sini.

Pastikan berkas colemak.iso15.kmap sudah ada di /usr/share/kbd/keymaps. Kemudian edit berkas /etc/rc.d/rc.keymaps dengan hak root.


#!/bin/sh
# Load the keyboard map. More maps are in /usr/share/kbd/keymaps.
if [ -x /usr/bin/loadkeys ]; then
 /usr/bin/loadkeys colemak.iso15.kmap
fi

Ubah permission agar bisa dieksekusi.

#chmod a+x /etc/rc.d/rc.keymaps

Reboot dan dapatkan sistem full-colemak. Err, tapi ketika masih di bootloader, baik lilo maupun grub, apalagi BIOS, kita tetap pakai QWERTY.

Iklan

sebulan bersama colemak : antara colemak dan qwerty

hari-hari belakangan ini saya merasa jari2 saya benar2 baik. di colemak maupun qwerty, sama cepatnya. hanya butuh sedikit waktu untuk beradaptasi, hanya perlu menahan pusing sebentar saja sebelum jari2 meluncur cepat di atas tombol2.
dan tentu saja, masih lebih cepat di qwerty ketimbang colemak. mungkin perlu 2-3 bulan lagi agar bisa menggunakan colemak pada kecepatan penuh out of the box. 🙂

Dilema Colemak

adalah ketika saya sudah mulai lancar menggunakan komputer sendiri dengan keyboard colemak, tetapi ketika balik ke qwerty di komputer orang lain, saya mendapatkan banyak sekali typo dan kecepatan mengetik yang memalukan.

entah ini hanya masalah waktu atau benar-benar tidak bisa dikendalikan. 😦

Colemak

Siilakan kunjungi :  http://colemak.com

Dulu saya keras kepala, masih bertahan dengan cara mengetik lompat-lompat, tanpa menggunakan kelingking dan jempol, dan meraih sekitar 40 kata per menit. Setelah chatting langsung dengan seorang kenalan dan menyaksikan secara realtime kecepatan mengetiknya mencapai 120 WPM (dulu ada apps di facebook untuk balapan mengetik dengan ilustrasi mobil balap) dalam bahasa Inggris, saya mulai belajar mengetik 10 jari. Saya sering menganggap masalah ketik-mengetik ini sebagai sebuah permainan, mencoba menantang diri sendiri. Saya suka gtypist, yang banyak membantu saya meningkatkan kecepatan mengetik dan juga apps2 untuk menantang seseorang di internet dalam adu cepat. Mungkin kebawa2 kebiasaan bermain rubik’s cube. 🙂

Sampai akhirnya saya  mencapai rata 90 WPM saat menulis sebuah lirik lagu atau kata-kata yang saya hafal di luar kepala. Ini membantu saya di banyak hal, terutama pekerjaan. Tetapi kadang-kadang tangan terasa sakit, ruas di pergelangan tangan kiri, di belakang jari tengah, manis dan kelingking. Saya sempat berniat mengganti ke layout keyboard lain, dvorak, tetapi menundanya setelah percobaan pertama yang sangat sukar. Lagi pula, ketika saya mencopot tombol-tombol dari papan ketik di komputer jinjing saya, saya menemukan bahwa tombol karakter ‘Z’ berbeda ukuran dengan tombol ‘?’, padahal di skema keyboard dvorak, posisi ‘Z’ ada di ‘?’. Mengecewakan memang.

Lama kemudian, di salah satu kopdar kaipang, saya kagum sama Pak Ajoeh, yang bisa menggunakan 2 layout keyboard, qwerty dan colemak, dengan kecepatan stabil. Malam itu juga saya langsung congkel semua tombol papan ketik dan menggantinya ke layout colemak. Seperti percobaan pertama di dvorak, colemak juga sangat sukar. Pak ajoeh bisa beradaptasi dengan cepat, semingguan katanya. Maka saya seharusnya juga bisa.

Dua minggu ini saya menggunakan keyboard Colemak, yang diklaim lebih ergonomis ketimbang qwerty. Di banyak review, dvorak masih lebih baik dari colemak, tetapi satu-satunya alasan yang saya pikir colemak lebih mudah karena membiarkan tombol zxcv yang mana benar-benar berguna untuk pekerjaan cepat.

Bagaimana proses adaptasi?

Saya mencoba mengingat-ingat ketika pertama kali mengetik, yaitu saya melihat keyboard. Saya menggunakan gtypist untuk pembelajaran tanpa lihat keyboard, dan setiap harinya masih mengetik dengan cara melihat papan ketik. Sangat menyiksa memang, tetapi saya yakin ini hanya masalah waktu.

Tombol yang paling sulit adalah S dan R. S hanya dipindah satu tombol ke kanan dan R menggantikan posisinya. Setiap mengetik S, selalu tertekan R.  Sementara tombol lain tidak begitu sulit. Ketika sedang menggunakan colemak tiba-tiba menggunakan komputer lain yang qwerty, adaptasinya cukup sulit, begitu juga sebaliknya ketika balik ke colemak.

Semoga saya bisa konsisten.

Oya, migrasi ke colemak ini membawa beberapa perubahan besar, salah satunya, orang yang biasa pinjam laptop makin sungkan minjam setelah sempat bingung dengan skema papan ketik yang baru. 😛


This blog has been discontinued. All the contents, and new posts can be found at blog.pdft.net

RSS latest post @ blog.pdft.net

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
Indonesia Linux Conference 2011

stats

SEO Stats powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

hits

  • 354,156 hits


This blog is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 3.0 Unported License.
pejuang mimpi tak ingkar janji