Posts Tagged 'karya'

Cerpen : Ustadz Jamil

Hari ini terasa panjang sekali dan sang surya sepertinya enggan untuk bergerak ke barat lebih cepat. Hawa panas bak udara sahara menyelinap ke setiap tempat bahkan sampai di balik kaos singletku. Membuat tubuh yang tadinya segar karena dibasuh mandi menjadi bau dan sumpek. Pakaianku menjadi lengket dengan kulit. Peluh keringat memenuhi wajahku dan sesekali aku menelan ludah hampir-hampir tak bisa bernafas. Mataku nanar menatap buah mangga matang yang menggantung anggun di tangkai pohon di luar. Benar-benar keadaan yang tepat untuk menyiksa orang yang sedang berpuasa. Lanjutkan membaca ‘Cerpen : Ustadz Jamil’

Cerpen : Bukan Ismail

Gi, pulang. Bapak mau bicara.

Hanya itu isi surat yang kuterima tadi pagi. Aku tak habis pikir mengapa Bapak tidak menelepon saja. Nomor ponsel dan nomor telepon Ibu kost-ku sudah ada di tangan Bapak.

Namun begitulah Bapakku. Ia mengirim surat dengan kertas dan amplop kelas atas serta prangko kilat namun isinya hanya lima kata itu saja. Meski surat itu tanpa tanda tangannya, aku bisa mengenali tulisan Bapak yang khas. Tulisannya miring bersambung dan banyak hiasan di huruf G dan B besar. Benar-benar surat yang simpel namun juga mengusik hatiku. Apa gerangan yang mau dibicarakan? Lanjutkan membaca ‘Cerpen : Bukan Ismail’

Cerpen : Dialog Cermin

Sang nyonya sudah tidak sabar. Kakinya yang mungil tergesa-gesa. Selop tebal yang dipakainya menimbulkan bunyi gelisah. Tangannya mengobrak-abrik tumpukan pakaian di atas dipannya yang empuk dan tinggi. Tumpukan pakaian itu adalah gaun-gaun dari suaminya, dihadiahkan sebuah setiap ia ulang tahun. Dan kini ia sudah punya belasan. Ia sudah tidak muda lagi namun masih sangat cantik dan ia merasa masih pantas memakai gaun-gaun itu. Lanjutkan membaca ‘Cerpen : Dialog Cermin’

Cerpen : Bulan untuk Kekasih

Maya yang kukasihi.
Kutulis surat ini pagi segera setelah mataku terbuka. Semalam memang melelahkan. Semoga Tuhan berkenan atas apa yang telah aku lakukan. Kupastikan kau melihat bulan saat kau buka amplop surat ini. Sentuhlah dia. Rasakan hangatnya.
Maya yang kudambakan.
Kuharap kau mau mendengarkan sedikit kisah-kisahku. Kupikir aku terlalu mengabaikanmu. Aku berani bertaruh kau merasa kesepian di saat ini, saat kujauh darimu. Itulah yang selalu memenuhi kepalaku. Lembaran-lembaran kata-kata yang saban waktu kukirim padamu tak akan cukup menghapus rindumu. Begitu juga diriku, tak cukup puas hanya membaca kata-kata balasan yang kau tulis.
Jadilah aku merenung semalam dan bulan menemaniku. Aku di sana sendiri namun aku tidak merasa sendiri. Aku tahu jawabannya, bulanlah yang membuat rasa sepi menghilang sirna. Kuputuskan untuk mengirimkan sebuah bulan khusus untukmu agar rasa sepi yang ada di hatimu ditepisnya. Namun bukankah bulan bisa dilihat setiap orang, bahkan yang ada di pelosok negeri sana? Mungkin saja tadi malam kau melihat bulan. Masalahnya adalah tidak setiap malam bulan akan hadir untukmu. Ada kalanya ia tertutup mega-mega mendung atau memang bukan tanggalnya untuk bersinar dan kutakut hatimu kembali terkoyak rindu di saat-saat itu. Karena bulan macam ini tidak dijual di toko-toko bahkan mall, maka aku harus mengambil sendiri dari tempatnya.
Saat itu bulan masih berbentuk sepotong. Kutunggu ia merangkak ke barat dan berbentuk bulat sempurna sampai tengah malam. Bagaimana cara aku mengambil bulan? Itu teramat sangat sulit, juga mudah. Malam itu aku menaiki atap rumahku lalu menjulurkan tanganku. Ternyata tidak semudah itu, ini masih kurang. Aku harus berada di tempat yang lebih tinggi dari ini. Akhirnya kupanjat pohon kelapa yang paling tinggi di kampungku. Angin semilir malam menusuk dingin namun itu tak cukup kuat menggoyahkan niatku. Tetapi dalam ketinggian itu pun tetap tak tersentuh, bahkan dengan galah super panjang yang turut kubawa memanjat.
Maya penyejukku.
Aku tak menyerah. Kukeluarkan sepeda onte-ku dan mengayuhnya ke kota. Di sana ada gedung bank swasta yang berdiri kokoh. Tingginya sekitar sepuluh kali pohon kelapa tertinggi di kampungku. Mungkin cukup. Setelah membayar administrasi gelap kepada satpam yang sedang berjaga agar aku bisa masuk, aku menggenjot otot menaiki tangga yang berputar-putar—lift tidak bisa dipakai di luar jam kerja. Angin di atas sana jauh lebih dingin, lebih keras, dan lebih banyak polusi, aku tetap tak gentar.
Yang kulihat adalah, tidak ada bedanya aku berdiri di atas gedung itu atau pun aku berdiri di tanah lapang yang lebih rendah dari lantai rumahku, bulan itu tetap sangat tinggi. Aku tidak melihat adanya perubahan.
Akhirnya aku pulang dengan peluh keringat dingin. Apakah aku menyerah? Atas nama cinta tentu saja tidak. Kalau ya, ceritanya hanya sampai di sini.
Sesampai di rumah kubuka ensiklopediaku yang paling tebal, mencari daftar menara-menara paling tinggi di dunia. Eiffel menarik perhatianku. Bukankah dulu kita berdua pernah merencanakan untuk berbulan madu di tempat-tempat fantastis di dunia? Menara megah ini adalah salah satunya, ingat? Memang, menara ini tidak lebih tinggi dibanding gedung pencakar langit yang terkenal lainnya namun pastinya berkali-kali lipat lebih tinggi dari pada gedung bank tadi. Kupikir itu sudah cukup
Saat itu juga aku memesan tiket penerbangan namun teller maskapainya bilang tidak ada pesawat lepas landas selarut ini. Akhirnya aku menyewa secara pribadi sebuah pesawat kecil canggih beserta pilotnya. Kami lepas landas.
Pesawat sewaan ini punya sistem anti radar. Jadi, masa bodoh dengan peraturan penerbangan eropa yang bilang pesawat Indonesia tidak boleh terbang di atasnya. Aku akan aman-aman saja. Terlintas dalam benakku untuk membuka pintu pesawat lalu mengambil bulan. Namun si pilot bilang hal itu berbahaya. Kuurungkan niatku.
Ternyata pesawat ini sangat nyaman. Yang menyenangkan adalah pilotnya sangat supel. Ia membuat perjalanan itu tidak membosankan. Ia tanya untuk apa aku ke paris. Kubilang ingin ke Louvre, museum seni termegah di dunia. Ternyata ia pernah ke sana dan menawarkan diri untuk menemaniku. Aku menolak.
Maya yang baik.
Pendek kata, kami mendarat secara ilegal di areal pertanian di luar kota. Aku menyewa sedan tua dari seorang petani bule gemuk yang tinggal di sana, bahasa Indonesianya payah. Sedan ini sulit digunakan, kemudinya ada di sebelah kiri. Meski sulit, aku sampai di Paris, kota yang mengagumkan. Tidak ada sampah, apalagi pemulung. Menara itu bisa dilihat dari sudut mana pun di kota ini, begitu juga dengan bulan kuning terang di langit. Aku berlari di sepanjang jalan menuju menara itu, tak peduli bule-bule yang tinggi itu memelototiku.
Menara Eiffel menjulang tinggi, jauh lebih mengagumkan dari pada kota Paris tempatnya bercokol. Aku tak sabar mengajakmu ke sini. Aku menatap ke atas berusaha melihat puncaknya namun hanya tampak kehitaman bercampur dengan langit. Pasti di atas sana banyak kabut. Aku berlari menuju loket tempat mendaftar untuk bisa naik ke atas. Ternyata sudah tutup. Kuutarakan maksudku pada seorang pria yang berdiri di dekat loket itu tetapi ia tak mengerti bahasa Indonesia. Lalu kupakai bahasa Inggrisku yang berantakan. Orang itu masih geleng-geleng. Karena kesal aku menggunakan bahasa Jawa, akhirnya orang itu mengomel dengan bahasanya sendiri dan beranjak pergi.
Bukan diriku jika berputus asa sesampai di sini. Berbekal keahlian memanjat kelapa di kampung, aku memanjat menara megah ini. Besi-besi yang membentuk menara ini sangat dingin, membuat telapak tanganku mati rasa. Semua menjadi dingin. Hanya rasa cinta kepadamu-lah yang membuat tubuhku tetap terasa hangat. Bulan masih di sana. Tergantung angkuh, tapi aku pasti akan merenggutnya.
Maya yang kusayangi.
Alhasil, sampailah aku di atas sana. Agak susah bernafas di sini. Yang membuatku terkejut adalah bulan masih sama tingginya seperti sebelum aku memanjat menara ini. Seketika tubuhku lemas total. Aku berbaring di sana. Tak ada tenaga lagi untuk maksud ini. Aku sudah putus asa.
Waktu itu aku meminta maaf padamu karena tak bisa mencarikan penghilang sepi untukmu. Meminta maaf betapa bodohnya aku mengambil bulan hanya untuk kepentingan cintaku sendiri. Aku sampai menangis. Angin malam dengan cepat menghapus air mataku, seolah bilang lelaki tidak boleh menangis.
Aku tersentak kaget ketika ponselku bergetar keras. Ternyata dari si pilot, menanyakan kabarku. Dia tanya bagaimana lukisan-lukisan di Louvre. Kubilang kalau aku belum ke sana, Louvre sudah tutup.
“Bagaimana di atas sana?” tanyanya
Aku tersentak lagi. Bagaimana dia tahu? Dia bilang dia mengikutiku. Dia ada di bawah. Aku merangkak ke pinggir dan menoleh ke bawah. Tentu saja aku tidak bisa melihatnya sebagaimana aku tidak bisa melihat puncak menara ketika di bawah.
“Mau ambil bulan, eh?” tanyanya lagi.
Aku tersentak untuk ketiga kalinya. Rupanya ia serba tahu.
Maya yang kucintai.
Tidak menyesal aku menyewa pilot macam dia, sangat profesional. Dia banyak menasehatiku. Ternyata mengambil bulan dari langit sama mudahnya mengambil ponsel dari kantung celanaku sendiri. Seharusnya aku bisa mengambil bulan dari jendela kamarku, bukan di sini. Aku masih berbaring di sana menghadap langit, mendengarkan si pilot.
Aku mengulurkan tangan ke atas. Kuhilangkan segala emosi negatif, kukeluarkan segala hasrat cintaku padamu, kemauan, ambisi, bahkan khayalanku. Akhirnya tanganku menyentuh bulan. Rasa hangat menguasai tanganku, menjalar ke seluruh tubuh. Membuat senyum tersungging di wajahku. Kubiarkan diriku menyerap sinar kebahagian bulan. Semua begitu indah.
Tiba-tiba si pilot berteriak dari ponselku.
“Saya ditangkap polisi. Go on without me!”.
Aku terkejut bukan main. Kami orang ilegal di sini, penyelundup, pelanggar peraturan penerbangan, dan pencuri bulan milik masyarakat dunia. Ada satu peleton DCPJ—Direction Cepurtale Police Judiciaire—FBI-nya Prancis, menunggu di bawah sana. Bisa kudengar suara sirine bersaut-sautan. Kurenggut dan genggam bulan. Rupanya ia sangat fleksibel, berubah ukuran semau penyentuhnya. Waktu itu ia seukuran bola kasti—kalau kau mau, tekan bulan itu sampai sebesar kelereng. Setelah memastikan bulan aman dalam kantungku. Aku bergegas menuruni besi-besi yang tak lagi dingin untukku. Lewat keberuntungan satu banding seribu aku berhasil menghampiri sedanku dan meluncur pergi diikuti para polisi profesional di belakangku. Aku bermain kejar-kejaran bak dalam film Hollywood. Semua terasa mimpi dan berjalan begitu cepat.
Maya yang cantik.
Tak usah kuceritakan bagaimana mobil-mobil polisi Prancis itu dibuat meledak oleh orang Indonesia macam aku. Yang jelas aku selamat tanpa cacat, berhasil lepas landas pulang ke negeriku. Lalu kembali ke rumahku, ke kamarku.
Aku duduk menggigil dan kelelahan, kemudian kukeluarkan bola bulan dari kantungku. Seketika aku teringat si pilot. Aku meminta maaf sebesar-besarnya karena tidak menyelamatkannya juga mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas segala bantuannya.
Maya yang kurindukan.
Dari semua yang kualami semalaman. Aku jadi tahu, perasaan cintalah kekuatan yang paling kuat yang ada di dunia. Dengan cinta semuanya jadi mungkin. Cinta menimbulkan emosi positif lain yang berperan besar mengendalikan tindakan kita yang selalu berhasil. Dalam hal ini, dirimulah yang membuatku bisa melakukan apa saja. Dirimulah yang mengendalikanku. Dirimulah cinta itu—bagi diriku. Terserah orang lain bilang gombal, ini kata hatiku sungguhan.
Maya kekasihku.
Semoga bulan ini cukup untuk menghapuskan sepi dan rindumu hingga kita kembali bersua—mungkin tahun depan. Bila aku tiada lebih dulu dariku, kenanglah bulan itu sebagai diriku. Kalau kau mau—aku akan bersedih—kau bisa kembalikan bulan itu kembali pada tempatnya agar bisa dilihat milyaran manusia di bumi. Mungkin pula kau ambil kembali kalau kau bisa, dengan cinta tentunya. Satu hal lagi, kita tidak akan berbulan madu di Paris, pastinya aku sudah jadi buronan.
Maya…
Cukup sampai di sini kugoreskan pena. Aku sudah mengantuk.

Indonesia [belum] Merdeka

by : padfoot

(ini tulisan waktu 17 agustus, diposting ulang, hijrah dari blogspot ke wordpress)

Enam puluh tiga tahun merdeka
Tetapi rasanya tidak begitu
Masih terjajah oleh diri sendiri
Hanya darah pahlawan yang membedakannya

Kita masih belum bebas
Meski anak-anak sekolahan berteriak
‘Itulah hari kemerdekaan kita!’
Darah masih mengucur
Kemiskinan tumbuh subur bak jamur musim penghujan
Kebodohan belum beranjak pergi
Timbangan-timbangan ‘adil’ sudah rusak berat
Korupsi menjangkiti setiap instansi
Bahkan pada mahasiswa, si pembela rakyat
Dan tentu saja, akhlak masing-masing awal segalanya

Enam puluh tiga tahun merdeka
Tetapi rasanya tidak begitu
Masih terjajah oleh diri sendiri
Hanya darah pahlawan yang membedakan

HAM didengungkan
Namun diremas pada saat yang sama
Kita bertikai antara sesama
Perang saudara
Rusuh
Dimana bhineka tunggal ika tak berlaku
Akhirnya kita sadar
Kita takkan pernah bisa bersatu
Apapun itu
Entah perbedaan ideologi, fitnah, kepentingan segolongan
Takkan bisa ditahan
Kecuali dengan hati diri kita sendiri

Enam puluh tiga tahun merdeka
Tetapi rasanya tidak begitu
Masih terjajah oleh diri sendiri
Hanya darah pahlawan yang membedakan

Kesejahteraan didambakan
Menjadi tujuan yang semu
Kata ‘miskin’ seperti kamar mandi
Yang setiap pagi harus dimasuki
Dan pendidikan pun harus dikorbankan

Mutu sekolah sudah luntur
Ibarat menimba air dari sumur yang dalam
Susah payah
Namun kita guyurkan lagi di depan kaki kita
Hampir-hampir tiada manfaat
Itulah sekolah
Kita sudah lihat
Anak-anak pemulung
Remuk hati tak mencicipi bangku sekolah
Tiap hari disisipi iri
Sementara yang mampu
Berusaha untuk berbolos ria
Menikmati hidup menunggu masa depan
Kontras, paradoks
Sekolah hanya kamuflase untuk gengsi

Enam puluh tiga tahun merdeka
Tetapi rasanya tidak begitu
Masih terjajah oleh diri sendiri
Hanya darah pahlawan yang membedakan

Wakil-wakil rakyat berdiri di garda depan
Pembohong paling laris
Kita ingat janji mereka, atau bahkan janji ‘kita’
Pendidikan gratis
Kesehatan gratis
Kesejahteraan
Pembangunan
Entah apa lagi
Demokrasi dielu-elukan saat pemilu
Namun tak tersentuh saat kursi-kursi diduduki
Kotak pemilu bukan tempat suara rakyat
Gedung DPRlah keranjang semua itu
Namun dijaga saptam dan tembok-tembok besi berduri
Media massa tak terlalu mempan
Didemo, tak ada yang peduli
Siapa yang akan didengar?

Wakil-wakil rakyat berdiri di garda depan
Barisan pemanipulasi kwitansi
Mengikuti jejak eksekutif
Mereka makan dari uang rakyat
Dari kelas ‘warga negara yang baik’ si pembayar pajak
Gaji bejibun
Tetapi itu belum cukup
Yang tak seharusnya tersentuh, diembat
Pikiran mereka, ‘hanya sekian persen, tak banyak beda’
Tetapi mereka, atau bahkan kita
Sebenarnya sadar, akan banyak bedanya
Tak ada yang bisa menahan korupsi
Kecuali bersama, kita mulai dari diri sendiri

Enam puluh tiga tahun merdeka
Tetapi rasanya tidak begitu
Masih terjajah oleh diri sendiri
Hanya darah pahlawan yang membedakan

Negara kita kaya, luas, indah
Tapi kita tak merasakannya
Seperti orang-orang belitong
Mereka miskin nan tertinggal
Padahal pulau-pulau mereka kaya akan timah
Kita biarkan tangan-tangan asing menjamahnya
Minyak-minyak kita disedot
Emas-emas kita diambilnya
Dan mental generasi kita digerogoti ideologi asing

Generasi muda adalah harapan
‘malu aku jadi orang indonesia’ telah menjadi motto mereka
Padahal itu hanya judul buku
Dan budaya tak dikenal mulai dikecap
Perlahan tapi pasti
Bangsa kita mulai kehilangan jati diri
Kotak-kotak TV perusak moral
Namun dipelototi jutaan dari kita
Globalisasi mengalir deras
Semua berjalan dengan lancar

Enam puluh tiga tahun merdeka
Tetapi rasanya tidak begitu
Masih terjajah oleh diri sendiri
Hanya darah pahlawan yang membedakan

Bahkan ketika seorang berteriak
‘hormat, gerak!’
Semua tertawa
Kita hormati merah putih dan para pahlawan
Namun hanya sekedar hormat
Dan akan lupa di hari kemudian
Nasionalisme hanya menjangkiti segelintir orang
Orang-orang yang memang pengabdi sejati untuk negara
Warga negara yang baik
Pasukan pengibar bendera tentu saja
Dan orang-orang suku pedalaman yang tak tahu apa-apa
Mereka tahu mereka orang indonesia
Dan sekarang merdeka
Mereka bangga

Enam puluh tiga tahun merdeka
Tetapi rasanya tidak begitu
Masih terjajah oleh diri sendiri
Hanya darah pahlawan yang membedakan

Dan tangan Tuhan pun bertindak
Tsunami, gempa, entah apa lagi
Berita-berita di TV lebih banyak masalah ketimbang kabar gembira
Namun hanya menyadarkan sebagian orang
Masih seumur jagung namun penuh luka sayat
Masih bau kencur namun sudah mulai nakal
Itulah negara kita
Seperti anak yang beranjak remaja
Mulai menyentuh hal-hal di luar akal
Kita pasti akan melewatinya
Meski hanya ada sedikit kemampuan

Enam puluh tiga tahun merdeka
Tetapi rasanya tidak begitu
Masih terjajah oleh diri sendiri
Hanya darah pahlawan yang membedakan

Tetapi apapun yang terjadi
Kita harus yakin bahwa semua bisa berubah
Kita harus ingat pada ayat-ayat Tuhan
Kita takkan berubah sampai kita sendiri mau berubah
Kita mulai dari diri sendiri
Perbaiki akhlak, menolong sesama, toleransi, dan semangat
Sadarlah, kita tidak lagi budak yang bisa disuruh-suruh bangsa lain
Kita adalah bangsa Indonesia yang diserang bangsa lain
Melalui pikiran mereka, globalisasi dan budaya asing yang buruk
Kita akan bertahan
Kita bisa membuat bangga para pahlawan yang telah tiada
Berteriaklah senyaring mungkin, ‘merdeka!’
Berteriaklah lagi, ‘merdeka!’
Lagi, ‘MERDEKA!’
Katakanlah dengan tegas, ‘bangga aku jadi orang Indonesia!’
Indonesia sudah merdeka meski belum sepenuhnya
Mari kita penuhi kemerdekaan itu
Dengan segenap kemampuan kita
Doa-doa kita
Usaha dan kebersamaan
Hingga Tanah Air makmur sejahtera
Hingga Bumi Pertiwi menangis bahagia
Hingga Indonesia jaya


This blog has been discontinued. All the contents, and new posts can be found at blog.pdft.net

RSS latest post @ blog.pdft.net

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
Indonesia Linux Conference 2011

stats

SEO Stats powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

hits

  • 348,304 hits


This blog is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 3.0 Unported License.
pejuang mimpi tak ingkar janji