Posts Tagged 'lensa'

diafragma lensa macet

yah, saya baru dapat lensa fix nikkor 55mm dengan bukaan terbesar 2.8, jadul dan manual fokus. saat saya terima, kondisinya sangat buruk, kotor, jamuran, dan yang paling parah, diafragmanya macet di bukaan paling besar, yaitu 2.8.

awalnya saya tidak begitu peduli karena baru pertama kalinya pegang lensa bukaan besar. lensa dengan bukaan besar punya dof yang sempit dan bokeh lebih keras. tapi lama-lama jadi jengkel juga, bukaan 2.8 sangat sulit dapat fokus, mana manual pula.

dugaan saya, diafragma ini macet karena disimpan dalam waktu lama di posisi f2.8. seharusnya disimpan dengan posisi 22/32 (paling kecil) sehingga pegas pir-nya tidak lemas dan macet.  lensa ini punya ring untuk posisi diafragma jadi bukan tidak mungkin kita lupa memutar kembali jika menggunakan bukaan manual.

akhirnya bongkar-bongkar. berikut tangkapan kamera.

bongkarnya lumayan gampang, bautnya tidak terlalu banyak. tidak disarankan membongkar daleman gir mekanik fokus, masang kembali luar biasa sulit.

ternyata, debu adalah penyebab dari masalah ini, sayap-sayap diafragma penuh dengan minyak dan debu yang bercampur ditambah pir penarik yang daya pegasnya hampir hilang. setelah dibersihkan dan diberi pelumas baru dan pir pegas penarik dipendekkan (sehingga daya tarik lebih kuat), diafragma bergerak lancar dan posisi f32 menjadi default.

sebelum dipasang kembali sekalian bersih2 jamur. 🙂

btw, tulisan ini diketik di keyboard layout colemak, bukan qwerty. saya sedang dalam proses migrasi. 😀

Iklan

menjelang supermoon

kalo gak salah besok2 ini mau supermoon, bulan akan membesar kira2 tujuh persen dan mendapatkan jarak terdekat dengan bumi selama delapan belas tahun sekali. keren gak tuh. tapi sayangnya lensa pendek ini memang payah. ngidam teleskop dobson yang sekaligus bisa dimount ke nikong.

inilah hasil maksimal yang bisa saya dapatkan pakai af-s 18-55 dx. sudah zoom pul, dicrop habis-habisan pula.

dasar-dasar fotografi

akhirnya terlampiaskan sudah kesenangan masa kecil, fotografi. setelah seminggu memegang DSLR beneran (selama ini saya megangnya di dalam mimpi, ternyata cara makenya beda toh. =,=), saya baru paham dasarnya. ternyata, motret pakai DSLR itu SULIT! buset dah!

tapi kalau kita punya semangat belajar, pasti jadi menyenangkan. kalau anda baru masuk ke dunia fotografi, silaken lanjut baca. tapi kalau sudah megang kamera dari dulu kala, sebaiknya abaikan saja coretan ini. posting ini saya tulis berdasarkan pemahaman saya setelah berguru sana sini, jadi kalau ada yang salah, monggo koreksi.

yak, jadi…

ada 3 hal yang nonjok saya begitu saya terjun di fotografi sesungguhnya. 3 hal ini sama pentingnya dalam menghasilkan foto yang baik dan semua point penting ini berlaku untuk hampir semua SLR analog maupun digital.

  • aperture/bukaan/diafragma
  • shutter speed
  • ISO

tapi kita lari dulu ke eksposure, yang mana adalah hasil komposisi dari tiga itu.

eksposur

aperture, shutterspeed, ISO : rules of three. tiga faktor itu sangat penting untuk menghasilkan eksposur yang pas!

eksposur berasal dari kata to ekspose yang berarti memaparkan. lebih spesifiknya, suatu proses dan ukuran bagaimana suatu sensor cahaya atau film terpapar cahaya pantulan suatu objek yang sedang difoto. pendek kata, cahaya itu penting! under exposure = terlalu gelap, gan. normal exposure = nice!. over exposure = uh, terlalu terang.

yak, mari kita simak faktor-faktor yang membentuk eksposur!

aperture/bukaan/diafragma

adalah bukaan atau diafragma, yang mengatur jumlah cahaya yang masuk. kalau bukaannya besar (biasanya f/number kecil, misal f5.6) maka depth of field (DOF, sebentar lagi dibahas) menjadi sempit dan jumlah cahaya yang masuk lebih banyak. aperture sangat berpengaruh terhadap eksposur.

kalau bukaannya kecil (biasanya f/number besar, misal f/22), rentang DOF-nya panjang dan jumlah cahaya yang masuk lebih sedikit.

nah, jumlah cahaya yang masuk ini sangat penting. harus pas bener supaya fotonya ndak terlalu terang atau terlalu gelap.

apa itu depth of field (DOF)? maksudnya adalah rentang fokus yang diambi oleh lensa. lihat ilustrasi.

dengan bukaan yang besar, rentang fokus akan sempit, baik di depan objek fokus maupun di belakangnya akan menjadi blur, cocok untuk close up. sebaliknya dengan bukaan kecil, rentang fokus panjang, semakin kecil semakin fokus ke semua objek, cocok untuk landscape.

contoh foto bukaan lebar.

pada foto diatas dengan aperture f/5.6 (untuk zoom maksimal, hanya bisa selebar ini di lensa kit 18-55 saya), mulut terlihat fokus (DOF hanya disekitar situ), namun background yang sebenarnya deretan outlet di gili trawangan menjadi blur, saking blurnya cahaya-cahayanya menjadi bokeh (bokeh adalah istilah untuk bulatan-bulatan halo). kita bisa mengatur blurnya.

contoh foto bukaan kecil.

pada foto diatas dengan aperture f/18, fokusnya agak merata. background tidak begitu blur.

shutter speed

shutter speed, adalah kecepatan sensor dibuka untuk menangkap cahaya.  pendeknya begini, jika shutter speednya 1/10 detik, maka kamera akan menangkap gambar dalam waktu 1/10 detik. angkanya relatif, dari 1/1000 detik sampai 30 detik ( di D5000 saya rentangnya segini). dan ini juga berpengaruh terhadap eksposur. jika shutternya sangat cepat, maka cahaya yang ditangkap sedikit, jadi foto lebih gelap. sebaliknya jika shutter lama, maka cahaya yang ditangkap semakin banyak dan foto semakin terang. shutterspeed sangat berpengaruh terhadap eksposur.

shutter yang cepat cocok untuk membekukan momen bergerak, misalnya tetesan air, sport, dan lainnya. foto lompat bareng di atas menggunakan shutterspeed 1/60 detik.

shutter speed yang lambat cocok untuk memotret objek yang lighting (pencahayaan) kurang atau merekam jejak cahaya. shutter lambat bisa digunakan untuk objek diam dengan tujuan mendapatkan cahaya lebih banyak, syaratnya harus ada tripod (alat penyangga kamera) agar tidak shake (goyang). kalo kita pegang biasa, kamera pasti goyang meski sedikit dan itu saja sudah menghasil kan foto yang buruk, blur keseluruhan.

contoh shutter lambat, 1/2 detik. antara polisinya gerak-gerak dan genggaman saya gemetar, si polisi jadi blur. di antara rentang 1/2 detik itu, cahaya yang lewat (lampu kendaraan) akan terekam. :

bulb, adalah pengaturan shutterspeed sesuai keinginan kita. sensor akan merekam selama kita menekan shutter dan akan menutup begitu kita melepas shutter. ini bisa buat gambar-gambar pakek cahaya. contoh :

ISO

skala standarisasi internasional untuk kepekaan/sensitif sensor terhadap cahaya. silakan baca http://en.wikipedia.org/wiki/ISO_speed. pada jaman analog, sebutannya adalah ASA. ISO banyak angkanya, biasa mulai dari 200, 400, -, 800, bahkan sampai 3200 dan lebih tinggi lagi. biasanya terseting default 200, cocok untuk outdoor siang hari. semakin tinggi angka ISO, semakin tinggi pula kepekaan sensor terhadap cahaya. ISO juga sangat berpengaruh terhadap eksposur.

di malam hari yang gelap, kita bisa menaikkan ISO untuk mendapatkan kepekaan yang lebih tinggi. konsekuensi dari menaikkan ISO adalah timbulnya noise di aera warna gelap di foto kita. pada kamera kelas entry level, ISO 800 sudah timbul sedikit noise, seperti d3000. namun kamera sekarang sudah ada noise reduction dan sensor sudah semakin baik. saya pakai ISO 1600 di tempat remang masih oke-oke saja. 🙂

sulit yah, harus mengatur 3 hal sekaligus untuk menghasil kan foto yang baik? makin sering motret, insting kita tentang 3 hal tadi bakal makin tajem. hanya dengan melihat dengan mata kita, kita bisa memperkirakan semuanya. apalagi, di kamera digital sekarang, ada index exposure-nya, sang kamera dengan cerdas mendeteksi hasil eksposure dari komposisi yang kita atur, apakah terlalu terang atau gelap. dan, CLICK!

di luar ini, masih banyak yang harus saya pelajari.

sedikit review, nikon D5000

canon atau nikon? dari awal ndak ragu-ragu langsung milih nikon. saya tidak bermaksud memancing brand war.

  1. warna nikon lebih tajam.
  2. di lingkungan saya lebih banyak yang pakai nikon dari pada canon.

kenapa D5000?

  1. karena ken rockwell bilang ini rekomendet habis.
  2. ngiler sama LCD-nya yang bisa diputer-puter, jadi bisa ngambi angle yang sulit.
  3. pegangan mantap.
  4. HD video 720px, meski audio monokrom, yang penting bisa jadi alat buat film pendek nantinya.
  5. sensor sekelas D300. ISO tinggi, noise minimum.
  6. fasilitas retouch. seperti punya GIMP di dalam DSLR. >.<
  7. lensa kit VR booo’! mengurangi efek shake.

sayangnya?

  1. lensa kitnya ndak kuat buat candid jauh maupun makro ekstrem. melet lensa 55-200mm VR-nya nikon tapi mahal. D5000 tidak punya motor autofokus di body, jadi kalau mau lensa bisa autofokus, harus beli lensa yang ada motor autofokus di lensanya dan yang kayak gitu tu mahal, minimal 2 jutaan. sabar! saatnya berkreativitas dalam keterbatasan!
  2. cuma satu itu. saya ndak nyesal milih D5000!

sampai di sini dulu. nanti saya tulis tips dan trik. 🙂

rancangan mikroteleskop

kok mikroteleskop? karena ini gabungan mikroskop + lensa objektif. ndak sengaja nemu tulisan ini, saya langsung berfikir. lensa objektif? saya punya LUV yang bagus. mikroskop? saya punya mikroskop binokular rakitan. oh lensa-lensaku yang berharga!

ini baru rancangan saja, semoga bisa direalisasikan dalam waktu dekat. 😉

target : bisa lihat kawah bulan dengan jelas.

membuat mikroskop dengan teropong binokular

perhatian : yang saya lakukan adalah coba-coba, bisa jadi hasilnya berbeda jika anda yang lakukan.

halo.

kemarin, setelah keputusasaan saya dalam membuat teleskop refraktor buatan (berhasil, namun perbesarannya sangat mengecewakan, tidak jauh beda dengan teropong binokular saya, jadi saya bongkar lagi deh), saya mulai bermain-main lagi. kali ini tidak lagi coret-coret di kertas untuk hitung fokus, etc.

saya hanya bermain-main dengan lensa dan mendapatkan gambar sejelas ini > (btw, jangan di-zoom lagi) http://www.gigapan.org/gigapans/28204/

saya minta maaf sama semut yang saya bunuh. makasi bro, sudah korbanin nyawa untuk percobaan bego ini. >.<

syaratnya, anda butuh teropong binokular dan tangan yang usil. bongkar teropong binokular itu, entah mungkin caranya diputar2, dengan obeng (bila ada baut), atau snap-snap. anda akan dapatkan 4 lensa (2 okular, 2 cembung depan) dan beberapa prisma. tinggalkan prismanya dalam bodi.

ini susunan lensanya :

lensa okular
|—> jarak sekitar 15 cm, tapi relatif juga sih. anda harus coba-coba sendiri
lensa depan
lensa depan
lensa okular
objek —-> misalnya semut.
lapisan kaca
cahaya —> tau maksudnya kan? saya pakai senter. tumpukan ini dibantu dengan buku-buku dan penggaris.

coba sendiri jarak2nya sampai dapatkan gambar yang bagus dan fokus. lalu catat jarak antar lensa agar bisa digunakan kalo lain waktu mau dicoba lagi.

selamat mencoba!

maaf pic-nya segera menyusul (mimpi beli DSLR)


This blog has been discontinued. All the contents, and new posts can be found at blog.pdft.net

RSS latest post @ blog.pdft.net

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
Indonesia Linux Conference 2011

stats

SEO Stats powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

hits

  • 354,157 hits


This blog is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 3.0 Unported License.
pejuang mimpi tak ingkar janji