Posts Tagged 'linux'

Downgrade Slackware Current

Konsekuensi menggunakan Slackware Current adalah paket bleeding edge dan belum tentu stabil. Seperti yang terjadi hari ini, setelah menjalankan slackpkg upgrade-all, (kalau tidak salah ingat beberapa paket berkaitan dengan X) keyboard dan mouse tidak berfungsi sama sekali. Saya tentunya punya waktu cari solusinya, tapi kalau butuh solusi cepat karena komputer mau dipakai buat kerja?

Balik ke topik. Slackware bisa didowngrade bila kita punya repository lokal lengkap sebelumnya. Saya selalu pakai skrip dari Eric ketimbang langsung pakai slackpkg (yah, hari ini lupa, langsung slackpkg) dengan tujuan repositori tersebut bisa saya gunakan untuk PC di rumah yang notabene tidak punya akses internet. Beruntunglah karena siklus ini. Tinggal arahkan mirror slackpkg ke repository lokal. Slackpkg akan memberitahu bahwa repositori yang akan digunakan sekarang lebih lawas dari pada yang sebelumnya, tekan Y karena kita memang menggunakan repository yang lebih lawas.

Memang tidak ada perintah slackpkg downgrade-all, tapi slackpkg upgrade-all tetap akan men-downgrade paket yang versinya berbeda. Dan slackware current pun balik ke masa lalu. 🙂

Iklan

LXmed : Menu Editor untuk XFCE di Slackware 13.37

Saat masih pakai arch, saya menggunakan openbox dan nyaman dengan obmenuconfig. Bagaimana dengan XFCE di slackware (64 multilib)? Yep, LXmed adalah piranti lunak untuk menyunting menu pada LXDE, sebuah desktop manager yang lebih ringan dari pada XFCE, dan juga bekerja untuk XFCE. Silakan unduh paketnya di http://lxmed.sourceforge.net/

Ekstrak dan jalankan ./install.sh. mudah dan cepat, tetapi tidak berhenti sampai di sini. Kita membutuhkan gksu dan jre untuk bisa menjalankan lxmed. jre bisa diinstall dari dvd slackware, terletak di source/l/jre. Umm, yeah, normalnya pasang jre dulu. hehe. Sementara paket gksu (sesuaikan versi slackware dan arsitektur) bisa ditemukan di belantara internet dengan mudah, google always be our friend.

Bangun paket dengan slackbuild.

sudo ./jre.Slackbuild

paket akan terbentuk di /tmp/

sudo installpkg /tmp/jre-6u27-x86_64-1.txz

jalankan lxmed dari xfcemenu>settings>main menu editor. kita akan mendapati lxmed tidak bekerja karena pengembang lxmed menganaktirikan Slackware.

cari dimana binary lxmed.

which lxmed

kita akan tahu bahwa ternyata itu bukan berkas binary, melainkan shell script, dengan melihat dalemannya.

#!/bin/bash

# discovered distro; Debian by default
DISTRO='Debian'

# distro names
DEBIAN='Debian'
SUSE='SuSe'
REDHAT='RedHat'
MANDRAKE='Mandrake'

Slackware tidak ada, hahaha. dan di baris akhir :

if [ "${DISTRO}" = "${SUSE}" ];
then
 gnomesu --command "java -jar /opt/lxmed/LXMenuEditor.jar"
else
 gksu --message "Please enter password to run lxmed in fully operational mode:" 'java -jar /opt/lxmed/LXMenuEditor.jar'
fi

Nyatanya perintah gksu tersebut tidak jalan di Slackware. hapus saja semua barisnya dan masukkan satu baris berikut

java -jar /opt/lxmed/LXMenuEditor.jar

Simpan dan jalankan di terminal

sudo lxmed

Sebuah jendela aplikasi java akan muncul, itulah lxmed. Sampai di sini semua sudah bekerja dengan baik. Tinggal langkah terakhir, edit menu settings>main menu editor. ganti command ‘lxmed’ menjadi ‘gksu lxmed’. tanpa tanda petik.

Sekarang kita bisa mengakses lxmed dari menu xfce dan gksu bekerja untuk menanyakan password root. 🙂

no pict = hoax 😛

how linux is built

dari Linux Foundation.

Skema Papan Ketik Colemak Permanen di Slackware

Saya menemukan bahwa Colemak didukung di XFCE pada Slackware 13.37. Tetapi ketika pindah ke mode terminal/tty, saya mendapatkan QWERTY lagi.

Halaman di colemak.org menjelaskan caranya :

Silakan unduh berkas keymap colemak.
Ekstrak dan pindah ke direktori hasil ekstrak.
Ketik dan jalankan : setxkbmap us; xmodmap xmodmap/xmodmap.colemak && xset r 66
Atau cara kedua : letakkan berkas colemak.iso15.kmap di /usr/share/kbd/keymaps dan jalankan loadkeys /usr/share/kbd/keymaps/colemak.iso15.kmap

Tetapi itu tidak permanen, setiap login kembali mesti menjalankan lagi. Saya mempertimbangkan penerapan colemak yang lebih luas, yang bahkan login console pun pakai colemak. Saya dapatkan petunjuk ini di sini.

Pastikan berkas colemak.iso15.kmap sudah ada di /usr/share/kbd/keymaps. Kemudian edit berkas /etc/rc.d/rc.keymaps dengan hak root.


#!/bin/sh
# Load the keyboard map. More maps are in /usr/share/kbd/keymaps.
if [ -x /usr/bin/loadkeys ]; then
 /usr/bin/loadkeys colemak.iso15.kmap
fi

Ubah permission agar bisa dieksekusi.

#chmod a+x /etc/rc.d/rc.keymaps

Reboot dan dapatkan sistem full-colemak. Err, tapi ketika masih di bootloader, baik lilo maupun grub, apalagi BIOS, kita tetap pakai QWERTY.

GNU/Linux Distribution Timeline

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/8/8c/Gldt.svg

axioo pico PJM 1110

yak, ini dia komputer jinjing kedua yang saya miliki, beli seken murah dan dadakan, tapi alhamdulillah ini benar-benar benda yang keren. dikatakan komputer jinjing kedua karena dulu saya pernah punya sebuah komputer jinjing warna putih dan ada gambar buah apel yang sudah digigit sebagian. tapi sudah hilang. 😥

mari sejenak mengheningkan cipta.

anu, banyak orang bilang axioo itu jelek. kabar yang saya dengar adalah, axioo cepat panas, spesifikasi rendahan, boardnya mudah kebakar (mengerikan sekali yang ini), kualitas ringkih, dan itu produk lokal asia. memang benar saya pernah menemukan notebook axioo yang panas sekali, laporan board rusak, kualitas ringkih juga iya karena saya sudah pegang sendiri, spesifikasi rendahan juga memang iya laptop axioo seri dulu kebanyakan vganya VIA atau SIS, dan ini memang produk lokal asia yang beredar di singapura dan indonesia.

tapi sejak saya baca-baca bahwa sebagian besar produsen notebook memproduksi komponen mereka di pabrik yang sama (kebanyakan taiwan) dan dengar kabar bahwa ada produk MSI wind yang juga axioo pico (mirip identik, yang beda cuma merek dan fasilitas bluetooth), saya mulai percaya bahwa sebenarnya semua notebook itu sama baik, cuma tergantung bagaimana menggunakannya, oo anu, kecuali apple mungkin. karena bagi saya semua hardware dari apple bisa bikin mata saya berkedip 5 kali perdetik. maksud saya, percuma kan ada mekbuk tapi hilang karena ceroboh. 😛

lagi pula saya tidak melihat axioo pico PJM 1110 ini sebagai barang dengan kualitas rendah. chargernya ada stabilizer, bodinya solid. saya suka yang bentuknya minimalis dan ndak macem-macem, terutama papan ketiknya yang mengingatkan saya pada si mekbuk.

baterai hanya 3-cell, syukurnya kualitasnya masih oke sehat tapi saya berniat upgrade ke 6-cell nanti. archlinux jalan cepat di sini, bahkan dengan KDE plasma. wifinya realtek dan stabil menggunakan adapter wifi tambahan, jadi saya bisa wardriving bersama si TPLINK WN322G yang notabene berchipset atheros.

di komputer jinjing mungil ini saya memasang archlinux, mac (snow leopard hazard iatkos s3v2 10.6.3), dan windows xp. alasan saya memasang windows adalah agar bisa nyambung dengan beberapa pekerjaan kantor, ini benar-benar tidak bisa dihindari.  untuk sementara macosx86 hazard 10.6.2 tidak bisa dipasang, tidak bisa dibooting dari installer. saya masih nunggu selesainya unduhan snowleopard yang retail. padahal saya sudah ancang2 pasang stiker buah apel untuk menutupi tulisan axioo di balik lid layar. :(. Mac OS X jalan lancar pakai iATKOS S3V2 10.6.3. awalnya touchpad, keyboard tidak bekerja, tetapi setelah menggunakan file boot chameleon dari netbook installer (ekstrak source-nya), semua dikenali dengan baik. btw, jangan menginstall langsung netbook installer, bakal KP. 3 hal yang tidak bekerja, akselerasi grafis, WIFI, dan ethernet, kextnya tidak/belum ada. alasan saya pasang mac? entah. saya bela-belain begadang dari bulan puasa kemarin buat pasang mac, tetapi setelah terpasang jarang saya gunakan. kalau dipikir2, saya hanya senang dan puas sistem operasi ini nangkring dan bisa jalan di komputer saya, meski ndak pernah make. keren banget liat nya kalo baru nyalain ada logo apel nyelip di antar logo tux dan jendela. yah, sewaktu-waktu bisa menyembuhkan kerinduan akan macbook (mrgreen).

saya sedang membiasakan pakai layout papan ketik dvorak, sayangnya papan ketik si pico ini rada susah dilepas pasang dan beresiko patah. konsep snap-click yang sebenarnya sama dengan kebanyakan keyboard notebook lain, hanya saja ini berukuran kecil sekali, gampang patah. jadi tetap qwerty.

btw soal dvorak, didesain untuk bahasa inggris. kalau saya mengetik bahasa indonesia, saya berpendapat dvorak mungkin tidak begitu berpengaruh. yang mereka katakan tentang ribuan kata dalam satu baris tombol, mungkin hanya ratusan kata dalam bahasa indonesia.

soal bodi, axioo pico ini benar-benar teka-teki yang menjengkelkan. tutup di bawah, kita bisa buka-buka ram dan mini-pci-express yang ditempati oleh chipset wireless. harddisk ada di dalamnya lagi. saya orangnya ndak terlalu peduli sama garansi (masih 6 bulan) jadi stiker garansi tak kleteki sampai bersih, langsung bongkar habis-habisan. hampir saya mematahkannya kalau tidak tahu ternyata ada kunci snap di pojok kiri yang ternyata harus digeser ke samping. tidak seperti nettop axioo pico keluaran awal yang memasang pendingin menyeluruh di bawah keyboard, yang ini tidak, metode konvensional, pakai kipas, pendingin dan ventilasi di satu tempat.

menyalin update archlinux ke mesin lain

pasti menyebalkan jika harus memelihara dua sistem archlinux selalu terupdate dengan koneksi pas-pasan (sebuah mesin desktop dan sebuah laptop). nah, saya menemukan cara yang praktis, hemat waktu dan bandwith. salah satu mesin terkoneksi internet, misal laptop, jalankan update pacman -Syu sampai selesai. kemudian salinlah /var/cache/pacman/pkg/* ke direktori yang sama ke mesin lain. komputer desktop juga mesti konek internet untuk mengunduh sisa-sisa yang mungkin tertinggal atau baru muncul updatenya. jalankan pacman -Syu dan komputer desktop akan menggunakan paket yang sudah ada di cache tadi dan mengunduh sisanya yang sedikit.

selesai sudah, sekali unduh untuk dua komputer. 🙂


This blog has been discontinued. All the contents, and new posts can be found at blog.pdft.net

RSS latest post @ blog.pdft.net

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
Indonesia Linux Conference 2011

stats

SEO Stats powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

hits

  • 360,176 hits


This blog is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 3.0 Unported License.
pejuang mimpi tak ingkar janji